Grobogan, Jawa Tengah – Fenomena alam Api Abadi Mrapen di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, dilaporkan padam sejak awal Januari 2026. Kondisi ini menimbulkan kekecewaan bagi sejumlah wisatawan yang telah melakukan perjalanan jauh untuk menyaksikan keajaiban alam tersebut.
Kekecewaan Pengunjung
Pada Minggu (1/2/2026), tim detikJateng mendapati beberapa wisatawan yang datang ke lokasi Api Abadi Mrapen. Mereka tiba menggunakan berbagai moda transportasi, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, hingga bus berukuran sedang. Sebagai respons atas padamnya api, pengelola memutuskan untuk menggratiskan retribusi masuk sejak Kamis, 1 Januari 2026. Sebelumnya, pengunjung dikenakan biaya retribusi sebesar Rp 2.500.
“Retribusi kita nggak narik dulu, soalnya kan apinya padam,” ujar Penata Layanan Operasional Api Abadi Mrapen, Annas Rofiqi, kepada detikJateng di lokasi.
Seorang pengunjung bernama Aziz (31) mengungkapkan kekecewaannya. Ia menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam dari Gunungpati, Semarang, namun setibanya di lokasi, api yang diharapkan menyala justru padam. “Perjalanan tadi sekitar 2,5 jam dari Gunungpati, Semarang. Pas sampai sini, lah kok apinya mati,” tuturnya kepada detikJateng, Minggu (1/2).
Penyebab Api Padam
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah telah melakukan peninjauan ke lokasi Api Abadi Mrapen. Hasil pemeriksaan mengindikasikan bahwa padamnya api disebabkan oleh tertutupnya saluran gas oleh lumpur.
“Prinsipnya, si gas ini tertutup sama media yang namanya lumpur, jadi terhambat jalannya gas itu,” jelas Kabid Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Dinas ESDM Jateng, Dwi Suryono, di lokasi Api Abadi Mrapen, Desa Manggarmas, Godong, Grobogan, Selasa (3/2/2026).
Menurut Dwi, kondisi ini menyebabkan tekanan gas yang menyuplai api menjadi mengecil, bukan berarti api benar-benar padam. Ia memastikan bahwa sumber gas penyuplai Api Abadi Mrapen masih cukup banyak. Rencananya, sumur gas yang menyuplai api abadi tersebut akan segera dibersihkan untuk mengembalikan fungsinya.






