Warga di Jalan Haji Nawi, Cilandak, Jakarta Selatan, telah melakukan mediasi dengan pengelola lapangan padel yang diduga menimbulkan kebisingan. Dalam pertemuan yang difasilitasi oleh pihak kelurahan, pengelola lapangan berjanji akan memasang peredam suara sebagai solusi atas keluhan warga.
Mediasi dan Tuntutan Warga
Naufal (27), salah seorang warga sekitar, menjelaskan bahwa mediasi tersebut berlangsung di Kantor Kelurahan Gandaria Selatan pada Kamis (19/2/2026). Dalam pertemuan itu, warga menyampaikan keluhan dan tuntutan mereka kepada pengelola lapangan padel.
“Ya langkah konkretnya ya baru hasil dari kelurahan tadi yang mereka ada mau niat pasang soundproofing, ataupun pembatasan jam operasional yang lebih ketat apa gimana gitulah. Tapi itu baru belum jadi kesepakatan, baru mereka ajukan ke manajemen gitu,” ujar Naufal.
Pihak pengelola meminta waktu sekitar 35 hari untuk menyelesaikan pemasangan peredam suara dan menerapkan pembatasan jam operasional. “Jadi mereka katanya minggu ini mau survei dulu sama orang yang ngerti teknisnya harusnya seperti apa. Cuma ya kan itu janjinya gitu. Belum (dipasang), cuma mereka komitmen dari hari ini atau enggak dari besok, 35 hari katanya selesainya,” jelas Naufal.
Sumber Kebisingan dan Dampaknya
Menurut Naufal, kebisingan berasal dari teriakan pemain dan pantulan bola yang kerap terdengar sejak pagi hingga larut malam. Awalnya, aktivitas berlangsung dari pukul 06.00 WIB hingga 24.00 WIB. Namun, setelah mendapat keluhan, jam operasional diklaim dibatasi hingga pukul 22.00 WIB. Meskipun demikian, Naufal mengaku masih sering mendengar aktivitas hingga lewat dari jam tersebut.
Suara bising tersebut sangat mengganggu Naufal, terutama karena kamarnya berdekatan langsung dengan lapangan padel. Ia juga menyebutkan bahwa tetangga di seberang rumahnya merasakan hal serupa, bahkan hingga getaran.
“Ini kamar aku, itu kamarnya Mas Idham yang nempel sana. Jadi mungkin kalau di kamar dia getarlah karena nempel banget sama tembok. Kalau di kamar aku nggak getar cuma aku kan pakai kayak aplikasi Decibel X kayak gini ya, DB gini. Itu tuh kalau lagi main tuh, ini kan sekarang kita 25, aku ngomong nih 64 gitu. Heeh. Kalau diam doang di sana lagi pada main tuh bisa 80,” ungkapnya, merujuk pada pengukuran tingkat kebisingan menggunakan aplikasi.
Tuntutan Warga dan Permohonan Audit Izin
Dalam mediasi tersebut, warga mengajukan beberapa tuntutan, termasuk penghentian total operasional lapangan padel yang bernama Fourthwall Padel. Mereka juga menuntut pengembalian ketenangan, keamanan, dan kenyamanan hidup seperti sebelum lapangan tersebut beroperasi.
Selain itu, warga mendesak pemerintah untuk melakukan audit dan pemeriksaan kembali terhadap izin operasional Fourthwall Padel. Mereka mempertanyakan legalitas bangunan yang tetap beroperasi meskipun telah menerima beberapa surat peringatan (SP1, SP2, SP3, SPPKS, hingga SPP) dari Dinas Cipta Karya pada periode Oktober-November 2025.
Warga juga meminta perlindungan hak hunian di zona pemukiman, mengingat lingkungan tempat tinggal mereka merupakan area residensial. Gangguan suara dan getaran dari aktivitas komersial yang intens dianggap melanggar hak dasar warga untuk hidup layak dan tenang.
“Ya kami berharap juga terakhir, kami berharap pemerintah evaluasi secara objektif jika aktivitas ini tidak dapat berjalan tanpa mengganggu lingkungan hunian, maka penghentian operasional menjadi langkah paling logis untuk melindungi kami. Jadi kami tuntutannya itu,” pungkas Naufal.






