Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan memulai pembongkaran 98 tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, pada Rabu (14/1/2026). Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, berencana mengundang mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso atau akrab disapa Bang Yos, untuk menyaksikan langsung proses tersebut.
Proyek Mangkrak Sejak 2004
Proyek pembangunan monorel di Jakarta dimulai pada tahun 2004. Peresmian pemasangan tiang pancang pertama dilakukan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 14 Juni 2004 di Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta Selatan. Pada masa itu, Sutiyoso menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Namun, proyek ini menghadapi kendala pendanaan. Pada tahun 2008, pengembang PT Jakarta Monorail (PT JM) dilaporkan mengalami kesulitan finansial. Akibatnya, tiang-tiang yang telah dibangun mangkrak dan menjadi monumen yang tidak terpakai. Nilai proyek ini mencapai USD 450 juta, namun PT JM mengaku tidak mampu memenuhi syarat investasi sebesar USD 144 juta.
Pada era kepemimpinan Gubernur Fauzi Bowo tahun 2011, pembangunan proyek monorel dihentikan. PT JM kemudian meminta ganti rugi biaya investasi sebesar Rp 600 miliar, namun permintaan tersebut ditolak oleh Fauzi Bowo. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat itu hanya bersedia membayar sesuai rekomendasi Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Alasan Pramono Mengundang Bang Yos
Pramono Anung mengungkapkan bahwa ia ingin mengundang Bang Yos untuk menyaksikan pembongkaran tiang monorel tersebut. Menurut Pramono, proyek yang mangkrak sejak tahun 2004 ini menjadi beban pribadi bagi Sutiyoso.
“Minggu depan ini monorel yang sudah dibangun dari tahun 2004 kita bongkar. Dan saya berharap Bang Yos supaya tidurnya bisa lebih nyenyak karena monorel itu rupanya bagi beliau menjadi beban pribadi,” ucap Pramono.
Anggaran Rp 100 Miliar untuk Penataan Kawasan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan anggaran sekitar Rp 100 miliar untuk proyek pembongkaran tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said. Pramono Anung menegaskan bahwa anggaran ini tidak hanya dialokasikan untuk membongkar tiang semata.
“Dan tentunya saya juga ingin meluruskan dalam kesempatan ini, Rp 100 miliar yang dikeluarkan itu bukan hanya untuk membongkar (tiang monorel),” kata Pramono. Ia menambahkan, anggaran tersebut juga mencakup penataan jalan dan trotoar.
“Tetapi untuk membuat jalan, trotoar, merapikan dan sebagainya biaya keseluruhan untuk memperbaiki jalan Rasuna Said itu angkanya Rp 100 miliar. Jadi bukan hanya bongkar, kalau bongkar kecil bangetlah,” tegasnya.
Kapala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Bina Marga DKI Jakarta, Dinar Wenny, menyatakan bahwa target pembongkaran seluruh tiang monorel akan rampung pada September 2026. “Jumlah tiang monorel yang akan dibongkar sebanyak 98 tiang,” ujar Dinar kepada wartawan, Minggu (11/1/2026).
Setelah pembongkaran selesai, kawasan Jalan HR Rasuna Said akan ditata ulang. Trotoar akan dirapikan, termasuk infrastruktur pendukung lainnya. “Setelah pembongkaran, nantinya akan ada penataan kawasan Jalan HR Rasuna Said diantaranya penataan jalan dan trotoar, peningkatan sarana pejalan kaki, dan penyesuaian elemen pendukung agar lebih aman dan nyaman, termasuk di dalamnya yaitu peningkatan penerangan jalan umum,” jelasnya.
Pembongkaran Dilakukan Malam Hari
Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta memastikan bahwa pembongkaran tiang monorel akan dilakukan pada malam hari. Langkah ini diambil untuk menghindari kepadatan lalu lintas, terutama saat jam pulang kantor, agar tidak mengganggu arus kendaraan di ruas jalan yang terdampak.
Kepala Dishub DKI Jakarta, Syafrin Liputo, menjelaskan bahwa proses pembongkaran akan memanfaatkan waktu malam. “Ya otomatis akan pembongkarannya malam hari. Window time-nya itu. Tapi rencananya dari kapan sampai kapan, berapa lama, itu nanti dengan teman-teman Dinas Bina Marga yang eksekusi,” kata Syafrin di Balai Kota Jakarta.
Syafrin menegaskan tidak akan ada penutupan jalan selama proses pembongkaran. Pengaturan dan pengalihan lalu lintas akan dilakukan dengan memanfaatkan jalur lambat untuk penempatan alat berat, sementara jalur cepat tetap berfungsi. “Di sana kan ada dua lajur, ada jalur lambat, ada jalur cepat. Jadi pada saat alat berat masuk, itu akan berada di sisi jalur lambat, sementara jalur cepat tetap berfungsi,” ujarnya.
Menurut Syafrin, skema pengaturan lalu lintas ini telah dikoordinasikan dengan pihak kepolisian dan instansi terkait. Masyarakat diminta untuk tetap tenang karena tidak ada penutupan jalan selama pembongkaran berlangsung. “Oleh sebab itu, tidak ada penutupan jalan. Yang ada penggunaan jalur lambat untuk penempatan alat berat pada saat pelaksanaan pembongkaran,” jelasnya.






