Berita

Hakim Arief Hidayat Canda Anwar Usman: “Orang Tua Tidak Berguna Lagi di MK”

Advertisement

Mahkamah Konstitusi (MK) menjadi saksi momen menarik saat hakim Arief Hidayat menyampaikan pidato dalam acara wisuda purnabaktinya. Dalam pidatonya, Arief melontarkan candaan kepada sesama hakim konstitusi, Anwar Usman, yang juga akan segera memasuki masa pensiun.

Candaan untuk Sahabat Lama

Acara wisuda purnabakti Hakim Arief Hidayat dihadiri oleh delapan hakim MK, termasuk Hakim Suhartoyo, Saldi Isra, Enny Nurbaningsih, Daniel Yusmic Pancastaki, Guntur Hamzah, Ridwan Mansyur, Arsul Sani, dan Anwar Usman. Saat memulai pidatonya, Arief menyapa para hakim yang hadir. Anwar Usman disebut terakhir, dengan Arief menyematkan candaan bahwa mereka adalah “orang-orang tua yang sudah tidak berguna lagi di Mahkamah untuk segera memasuki usia pensiun.”

“Dan yang terakhir, sahabat saya yang paling lama, saya sebut terakhir soalnya, ini orang-orang tua yang sudah tidak berguna lagi di Mahkamah untuk segera memasuki usia pensiun, Yang Mulia Bapak Profesor Dr Anwar Usman beserta Ibu kalau ada yang sangat saya hormati,” ujar Arief Hidayat.

Awal Mula Menjadi Hakim MK

Arief Hidayat mengungkapkan kedekatannya dengan Anwar Usman yang telah terjalin lama. Ia mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi hakim MK. Namun, dorongan dari Anwar Usman dan mantan hakim MK Harjono membuatnya bersedia dicalonkan sebagai Wakil Ketua MK.

“Kenapa Prof Anwar saya sebut terakhir? Karena ini teman lama jadi saya paling lama beserta beliau. Dan saya teringat pada awal menjadi hakim konstitusi, itu saya tidak bercita-cita untuk jadi pimpinan di sini, tapi waktu itu Prof Anwar dan Prof Harjono yang datang ke ruang saya, agar supaya mau dicalonkan untuk menjadi Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi,” jelasnya.

Advertisement

Arief akhirnya menerima ajakan tersebut, menganggapnya sebagai sebuah amanah. Ia juga menyebut peran guru dan dorongan spiritual dalam keputusannya.

“Berkali-kali beliau datang, akhirnya saya iya kan karena ini amanah dari Pak Harjono, itu guru saya waktu S2 di Unair. Kemudian juga dari ustaz dari Bima yang mendorong, akhirnya saya bersedia untuk jadi pimpinan di Mahkamah Konstitusi,” tuturnya.

Acara ini menjadi momen refleksi bagi Arief Hidayat atas perjalanan kariernya di Mahkamah Konstitusi, diwarnai kehangatan dan canda tawa bersama rekan-rekan sejawatnya.

Advertisement