Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, mengenang sosok almarhumah Meriyati Hoegeng, istri Kapolri ke-5 Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, yang akrab disapa Eyang Meri. Eyang Meri meninggal dunia pada usia 100 tahun setelah menjalani perawatan intensif di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Selasa (3/2/2026) pukul 13.25 WIB.
Saat melayat di rumah duka Eyang Meri di Pesona Khayangan, Depok, pada Rabu (4/2/2026), Ahok mengungkapkan pesan terakhir yang ia sampaikan kepada Eyang Meri sebelum meninggal.
Pesan untuk Tetap Berjuang dalam Kebaikan
“Jangan gelisah hatinya. Pasti percaya Allah pasti tolong. Percaya pada Tuhan pasti terima beliau. Siapkan tempat yang terbaik buat beliau. Itu kata-kata terakhir saya sampaikan waktu beliau sebelum meninggal,” kenang Ahok.
Ahok memiliki kenangan mendalam dengan Eyang Meri, terutama saat dirinya menjalani masa penahanan di Rutan Mako Brimob pada tahun 2017. Eyang Meri tidak hanya kerap mengirimkan makanan, tetapi juga memberikan dukungan moral.
“Ya, bagi saya orang tua juga yang nguatkan. Beliau juga yang sering kirim makanan juga ke saya. Waktu di tahanan juga datang. Dia juga kasih saya lukisan pesan-pesan yang sangat baik. Untuk tetap berjuang dalam kebenaran, kejujuran, dan keadilan,” ucap Ahok.
Eyang Meri, menurut Ahok, selalu menekankan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan.
“Itu perikemanusiaan. Itu beliau selalu sampaikan pesan itu. Untuk tetap teguh berdiri untuk apa itu kebenaran, apa itu kejujuran, apa itu keadilan, dan apa itu pria kemanusiaan. Beliau selalu tekankan itu,” tutupnya.
Duka Cita dari Mabes Polri
Kabar meninggalnya Eyang Meri juga disambut duka cita dari Mabes Polri. Kadiv Humas Polri Irjen Johnny Edison Isir menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya istri dari Jenderal Hoegeng tersebut.
“Kami keluarga besar Polri turut berbelasungkawa yang mendalam,” kata Irjen Johnny Edison Isir kepada wartawan.
Polri juga mendoakan agar almarhumah Eyang Meri mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.
“Semoga husnulkhatimah. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin,” ucapnya.
Eyang Meri Hoegeng lahir pada 23 Juni 1925. Beliau merupakan putri dari pasangan Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe.






