Masyarakat di sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Cilowong, Taktakan, Kota Serang, menyuarakan penolakan keras terhadap masuknya kiriman sampah dari Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Keluhan utama warga meliputi pencemaran jalanan akibat air lindi yang menetes dari truk pengangkut sampah asal Tangsel, serta bau tidak sedap yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Demonstrasi dan Dialog
Penolakan ini diwujudkan dalam bentuk demonstrasi yang digelar warga Taktakan di Kantor Kecamatan Taktakan, Kota Serang, pada Selasa (6/1/2026). Massa membentangkan spanduk sebagai simbol protes terhadap sampah kiriman dari Tangsel. Aksi tersebut dilanjutkan dengan dialog bersama sejumlah perwakilan pemerintah daerah, termasuk Sekda Kota Serang Nanang Saefudin, Ketua Satgas Investasi Kota Serang Wahyu Nurjamil, dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Serang Farach Richi.
Klaim Persetujuan Dipertanyakan
Salah satu poin krusial yang diangkat dalam dialog adalah klaim adanya persetujuan dari warga sekitar TPAS Cilowong terkait pengiriman sampah dari Tangsel. Perwakilan warga Taktakan, Yuda, secara tegas mempertanyakan dasar klaim tersebut. “Mohon ditunjukkan tanda tangan masyarakat yang setuju, biar kami tahu siapa saja yang setuju. Berarti ini bukan mengatasnamakan masyarakat Taktakan. Masyarakat Taktakan untuk sementara ini menolak. Saya sendiri merasakan baunya,” ujar Yuda, menyanggah pernyataan adanya persetujuan.
Warga lain, Ansori, yang mengaku turut serta dalam pengecekan truk sampah dari Tangsel saat akan dikirim ke Kota Serang, bahkan saat dihadiri Wali Kota Serang Budi Rustandi, meminta agar Pemkot Serang tidak menganggap kehadirannya sebagai bentuk persetujuan. “Kita jangan di-framing kita setuju. Sampai ada bahasa ‘saya sudah setujui’. Saya hujan-hujanan, tidak diberi makan, tidak diberi rokok, tidak ada,” ungkap Ansori.
Air Lindi dan Truk Pengangkut
Ansori juga menyampaikan bahwa masih ditemukan truk sampah dari Tangsel yang meneteskan air lindi. Ia menceritakan insiden pada malam ketiga (3 Januari 2026) di mana air lindi dari truk Tangsel bercucuran. “Waktu malam ketiga (3 Januari 2026) mobil dari Tangsel air lindinya bercucuran. Malam itu juga kami minta dibalikkan, putar balik,” katanya. Meskipun demikian, Ansori menyebut bahwa seluruh truk pengangkut sampah dari Tangsel yang beroperasi saat ini adalah truk baru.
Evaluasi dan Sosialisasi
Menanggapi penolakan warga, Kepala Dinas LH Kota Serang, Farach Richi, menyatakan bahwa sosialisasi telah dilakukan kepada masyarakat sebelum adanya Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemkot Serang dan Pemkot Tangsel. Namun, Pemkot Serang berjanji akan melakukan evaluasi terkait adanya penolakan tersebut. “Kami sampaikan, secara garis besar tidak menggeneralisasi semua sepakat. Namun kami menyampaikan upaya yang telah dilakukan, mulai dari sosialisasi pertama, kedua, dan ketiga di masing-masing tempat. Ini menjadi bagian dari evaluasi dan sosialisasi,” jelas Farach Richi.






