Berita

Wamenkes Benjamin: Stunting Butuh Tindakan Medis, Makan Bergizi Gratis Hanya Fondasi Awal

Advertisement

Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa penanganan stunting di Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, MBG merupakan langkah awal untuk peningkatan gizi, namun penanganan stunting secara spesifik memerlukan tindakan medis khusus.

“Stunting itu treatment, beda dengan makan bergizi. Makan bergizi semua orang dikasih, tapi stunting itu orang per orang harus ditangani secara medis,” kata Benjamin dalam konferensi pers satu tahun Program MBG di SMKN 1 Jakarta, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).

Benjamin menjelaskan, anak-anak yang masuk kategori stunting membutuhkan pemeriksaan individual yang mendalam. Hal ini mencakup pemantauan berat badan, tinggi badan, serta kebutuhan asupan gizi yang bervariasi antarindividu. Ia menekankan bahwa stunting tidak dapat diatasi hanya melalui pola makan massal.

“Ada yang berat badannya satu kilo, dua setengah kilo, tiga kilo. Dosisnya beda-beda. Ini harus dipantau, ditimbang, dan dievaluasi secara berkala. Itu tidak bisa dilakukan hanya dengan pola makan massal,” ujarnya.

Meskipun demikian, Benjamin menggarisbawahi bahwa MBG tetap memegang peranan penting sebagai fondasi dalam upaya perbaikan gizi nasional. Saat ini, pemerintah masih memfokuskan prioritas pada perluasan cakupan layanan MBG agar dapat menjangkau seluruh sasaran penerima.

“Hari ini kita kejar dulu supaya layanan MBG bisa lengkap. Setelah itu, kita masuk lebih dalam ke treatment stunting ,” jelasnya.

Advertisement

Ia menambahkan, pemerintah menargetkan cakupan MBG mencapai 82,9 juta penerima, sembari terus berupaya menjaga mutu dan keamanan pangan yang disajikan. Kementerian Kesehatan, kata Benjamin, sedang merancang strategi lanjutan untuk menangani sekitar 18% anak Indonesia yang teridentifikasi mengalami stunting.

Strategi ini akan melibatkan partisipasi aktif tenaga kesehatan dan penerapan pendekatan medis yang terukur. “Stunting itu tindakan medis. Harus ada pengukuran dua minggu sekali, apakah berat badannya naik atau tidak. Ini sangat teknis dan tidak bisa diserahkan ke BGN,” tegasnya.

Benjamin juga menekankan bahwa data dampak MBG terhadap stunting tidak dapat disajikan secara instan dan memerlukan kajian medis yang cermat. “Tidak boleh asal-asalan. Ini menyangkut kesehatan anak, jadi datanya harus valid,” katanya.

Di sisi lain, Benjamin menyoroti pentingnya anggaran negara yang dialokasikan untuk MBG agar memberikan dampak nyata dalam penurunan angka stunting. “Kalau anggaran sebesar itu tidak dimanfaatkan untuk mengatasi stunting, kita yang salah. Harus berhasil, dan itu yang sedang kami kawal,” pungkasnya.

Advertisement