Jakarta – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, menyuarakan keprihatinan mendalam atas maraknya kasus keracunan yang terjadi akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah wilayah. Ia menilai lemahnya pengawasan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi akar permasalahan.
Kasus Keracunan Meluas
Yahya Zaini secara tegas menyatakan keprihatinannya atas insiden keracunan yang menimpa ratusan siswa. “Saya menyatakan keprihatinan yang tinggi atas kasus keracunan yang terjadi di Grobogan dan di Mojokerto yang menelan korban 803 siswa di Grobogan dan 411 siswa di Mojokerto,” ujar Yahya kepada wartawan pada Kamis (15/1/2026).
Pengawasan BGN Dipertanyakan
Menurut Yahya, kasus keracunan yang terus berulang ini mengindikasikan adanya kelemahan dalam pengawasan yang dilakukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) terhadap SPPG. Padahal, BGN sendiri telah menargetkan prinsip zero accident atau nihil kecelakaan pada tahun 2026. “Masih terjadinya kasus keracunan menunjukkan lemahnya pengawasan dari BGN terhadap SPPG dalam pelaksanaan SOP. Padahal BGN telah menetapkan tahun 2026 zero accident. Ini BGN kecolongan lagi,” kritiknya.
Tuntutan Sanksi dan Perketat Pengawasan
Menyikapi hal tersebut, Yahya mendesak BGN untuk segera memberikan sanksi tegas kepada SPPG yang terbukti lalai dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP). Ia berpendapat sanksi tersebut penting sebagai bentuk evaluasi sekaligus peringatan keras agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. “Minta BGN memberikan sanksi pemberhentian sementara terhadap SPPG yang lalai melaksanakan SOP dengan baik,” tegasnya.
Lebih lanjut, Yahya mendorong BGN untuk memperketat mekanisme pengawasan dengan melibatkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Dinas Kesehatan setempat. Ia melihat kolaborasi antar kementerian dan lembaga dalam pengawasan masih perlu ditingkatkan. “Saya melihat pelibatan kementerian lain ini masih lemah. BGN kurang berkoordinasi dengan kementerian/lembaga lain dalam melakukan pengawasan,” tambahnya.
Rapat Rutin untuk Tingkatkan Kewaspadaan
Untuk meminimalisir risiko terulangnya insiden keracunan, Yahya mengusulkan agar BGN menggelar pertemuan rutin secara daring dengan seluruh SPPG setiap bulan. Pertemuan ini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan dan kedisiplinan dalam pelaksanaan SOP. “Untuk menghindari terjadinya kasus yang serupa di kemudian hari, saya minta BGN melakukan pertemuan rutin secara online dengan SPPG setiap bulan sekali untuk meningkatkan kewaspadaan dan kedisiplinan SPPG melaksanakan SOP. Pertemuan ini bisa dilakukan per regional, supaya lebih efektif,” tuturnya.
Sebagai informasi, kasus keracunan MBG telah dilaporkan terjadi di beberapa wilayah, termasuk Mojokerto dan Grobogan. Bupati Mojokerto, Muhammad Albarraa (Gus Barra), mengonfirmasi bahwa total korban keracunan soto ayam MBG mencapai 411 orang. Sementara itu, di Kabupaten Grobogan, sebanyak 803 orang diduga mengalami keracunan akibat menu ayam dari program MBG.






