Berita

Wacana Pilkada oleh DPRD Mengemuka, Wakil Ketua MPR Minta Parpol Cari Titik Temu

Advertisement

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menghormati pandangan partai politik mengenai usulan pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD. Ia menyatakan bahwa pembahasan mengenai hal tersebut akan terbuka di DPR RI untuk didiskusikan lebih lanjut. Pernyataan Eddy ini menanggapi sikap sejumlah partai politik, termasuk PDIP, yang menolak usulan kepala daerah dipilih oleh DPRD.

Menghormati Prinsip Partai Politik

Eddy Soeparno menjelaskan bahwa setiap partai politik memiliki prinsip dan posisi masing-masing dalam menyikapi isu-isu tertentu. “Nah, saya kira untuk dinamika seperti itu, kan di mana saja terjadi, untuk isu-isu tertentu kan masing-masing partai memiliki standing position gitu ya. Kami tentu menghormati posisi masing-masing dan semua partai,” ujar Eddy di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, pada Selasa (6/1/2026).

Wakil Ketua Umum PAN ini menekankan bahwa peluang untuk berdiskusi mengenai sistem Pilkada di Indonesia sangat terbuka lebar. Ia menegaskan bahwa kepentingan masyarakat harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan.

“Tetapi inilah, apa, terbuka ruang untuk kita lakukan diskusi, dialog, dan saya kira dengan adanya dialog itu kita mencari titik temu,” kata Eddy. Ia menambahkan, “Titik temu di antara semua pemangku kepentingan dengan tujuan satu ya, kita mendahulukan kepentingan daripada masyarakat di atas segala-galanya, gitu.”

Evaluasi UU Pemilu dan Politik Uang

Lebih lanjut, Eddy Soeparno menyoroti maraknya politik transaksional yang sangat terasa dalam Pemilu 2024. Ia berharap ke depannya akan ada payung hukum yang efektif untuk meminimalkan praktik politik uang dalam sistem politik di Indonesia.

“Jadi kita melihat bahwa Undang-Undang Pemilu itu merupakan sebuah undang-undang yang memang perlu dilakukan evaluasi. Karena kondisi yang senantiasa berubah di lapangan. Eh, terutama kita saksikan di Pemilu 2024 kemarin itu money politics dan politik apa namanya, politik pemilu mahal, itu sangat terasa,” ungkap Eddy Soeparno.

Advertisement

Pandangan PDIP: Menolak Mundur ke Masa Lalu

Sebelumnya, Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus secara tegas menanggapi wacana Pilkada tidak langsung yang dinilai tidak efektif. Deddy mempertanyakan apakah Indonesia ingin kembali ke masa lalu di mana rakyat tidak memiliki peran dalam memilih pemimpin mereka.

“Pertanyaannya, apakah kita mau mundur ke belakang di mana rakyat tidak terlibat dalam memilih pemimpin mereka? Bangsa-bangsa lain terus berusaha memperbaiki peradaban demokrasi mereka, kenapa kita justru ingin kembali dipangku oleh adab masa lalu yang buruk?” ujar Deddy kepada wartawan pada Selasa (23/12).

Senada dengan Deddy, Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira juga berpendapat bahwa jika kepala daerah dipilih oleh DPRD, hal tersebut akan menimbulkan kemarahan rakyat. Andreas mengusulkan agar pemilihan langsung yang saat ini berjalan lebih baik dibenahi.

“Dalam sistem demokrasi, berlaku hukum yang tidak tertulis: ‘apa yang sudah diberikan kepada rakyat, pantang untuk diambil kembali’. Perubahan sistem pemilihan kita, memang cenderung terlalu cepat, dari tidak langsung oleh DPRD menjadi pemilihan langsung oleh rakyat,” kata Andreas kepada wartawan pada Rabu (31/12).

Advertisement