Kasus penyajian makanan bergizi gratis (MBG) untuk balita dan ibu hamil di Pandeglang, Banten, yang viral karena menggunakan kantong plastik tanpa alas menuai kecaman. Wakil Ketua Komisi IX DPR, Yahya Zaini, mendesak agar pihak Supplier Program Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab diberikan sanksi tegas.
DPR Desak Sanksi dan Evaluasi Pengawasan
Yahya Zaini menyatakan ada dua langkah utama yang harus diambil. Pertama, Badan Gizi Nasional (BGN) diminta segera melakukan pengecekan langsung ke lapangan untuk memverifikasi kasus tersebut. Kedua, sanksi dan teguran keras, bahkan pemberhentian sementara, harus diberikan kepada SPPG yang bersangkutan.
“Untuk memberikan efek jera kepada pengelola SPPG supaya tidak terulang kembali di masa mendatang. Karena menyangkut keamanan makanan dan standar gizi,” ujar Yahya kepada wartawan, Minggu (11/1/2026).
Lebih lanjut, Yahya menyoroti lemahnya pengawasan BGN di lapangan yang memungkinkan kasus seperti ini terjadi. Ia menekankan bahaya penggunaan kantong plastik untuk kelompok rentan.
“Keempat, makanan yang ditempatkan di kantong plastik tidak dijamin keamanannya dan sangat membahayakan bagi penerima manfaat. Apalagi balita termasuk kelompok yang rentan terhadap kesehatannya,” jelasnya.
Kader Posyandu Menyayangkan, SPPG Berdalih Spontanitas
Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi NasDem, Irma Surya Chaniago, turut menyayangkan kelalaian SPPG. Ia berpendapat bahwa wadah kresek pasti akan membuat penerima ilfeel.
“Duh masa iya kader Posyandu tidak paham kebersihan dan tata boga? Makanan dijadikan satu ditaruh di kantong plastik, sudah pasti penerimanya ilfeel. Jijik lah!” ungkap Irma kepada wartawan, Minggu (11/1).
Irma juga mempertanyakan peran sopir pengirim MBG dari SPPG yang tidak melaporkan cara pendistribusian yang tidak sesuai standar kepada pihak SPPG. Seharusnya, menurut Irma, pihak SPPG turut memindahkan makanan ke wadah yang sesuai SOP, bukan hanya mengantar.
“Seharusnya SPPG juga mendistribusikan makanan tersebut ke dalam wadah yang dipersyaratkan. Masukkan bubur ke kantong plastik makanan, juga lauk pauknya. Sehingga saat didistribusikan tidak dicampur jadi satu,” katanya.
“Fakta pihak SPPG juga tidak bertanggung jawab terhadap mekanisme pendistribusian bubur ayam tersebut. Harusnya ibu kader meminta SPPG menyediakan kantong plastik bening khusus untuk makanan, sehingga saat didistribusikan bubur dan lauk pauk tidak tercampur,” sambungnya.
Dalam video yang viral, terlihat makanan MBG menggunakan wadah kantong plastik berwarna kuning dan hijau. Perekam video mengungkapkan syoknya.
“Ini MBG untuk balita kaya gini, isinya ayam, nggak tahu itu bubur atau apa, kayak muntah kucing. Ini baru dibuka,” tutur pemilik akun TikTok yang kini telah menghapus unggahannya. “Maaf bukan nggak bersyukur, masa mau dimakan pakai plastik begini?” tanyanya.
Klarifikasi BGN dan SPPG
Juru Bicara BGN, Redy Hendra, mengklarifikasi bahwa makanan tersebut dari pihak SPPG seharusnya menggunakan foodtray sesuai SOP.
“Dari SPPG sudah sesuai SOP dengan pengiriman menggunakan foodtray,” kata Redy saat dikonfirmasi, Minggu (11/1/2026).
Sementara itu, Kepala SPPG Karyasari, Dimas Dhika Alpiyan, menjelaskan bahwa kejadian tersebut terjadi pada Kamis (8/1) di Kecamatan Sukaresmi. Ia menyebut makanan itu dipindahkan dan disatukan penyajiannya di dalam kantong plastik oleh salah satu kader posyandu karena alasan spontanitas, tanpa sepengetahuan pihak SPPG.
“Namun setelah ompreng tiba di tempat oleh ibu kader yang bersangkutan makanan yang di dalam ompreng dipindahkan dan disatukan penyajiannya di dalam kantong plastik karena ibu kader memiliki alasan spontanitas,” ujar Dimas.
“Setelah itu, oleh ibu kader diberikan kepada penerima manfaat yaitu bumil, busui, dan balita. Ompreng kembali dibawa pulang oleh sopir dengan keadaan kosong,” tambahnya.
Dimas menambahkan, kejadian ini baru diketahui oleh SPPG pada keesokan harinya setelah video tersebut viral. Pihaknya telah mengklarifikasi dan kader posyandu tersebut mengakui tindakan spontan itu.
“Setelah video tersebut viral kami pihak SPPG Karyasari Sukaresmi mengundang para ibu kader untuk komunikasi lebih dalam. Ibu kader datang pada Jumat, 9 Januari, pukul 09.00. Ibu kader mengklarifikasi bahwasanya mereka memang memasukkan menu tersebut ke dalam plastik karena keadaan spontanitas yang terjadi,” kata Dimas.






