Berita

Tiang Monorel Mangkrak Puluhan Tahun di Rasuna Said Mulai Dibongkar

Advertisement

Pembongkaran tiang monorel yang telah mangkrak selama puluhan tahun di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, telah dimulai. Proyek ini ditargetkan selesai pada bulan September mendatang dan menjadi penanda keseriusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menata fasilitas publik yang terbengkalai.

109 Tiang Akan Dibongkar dan Ditata Ulang

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa terdapat 109 tiang monorel yang akan dipotong dan ditata ulang sebagai bagian dari upaya penataan kawasan. “Jumlah tiangnya ada 109 sampai dengan ujung Jalan Rasuna Said. Ini akan ditata rapi dan mudah-mudahan kemacetan juga akan berkurang. Mudah-mudahan September selesai,” ujar Pramono saat meninjau langsung pembongkaran tiang monorel di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, pada Rabu (14/1/2026).

Pramono juga meluruskan mengenai anggaran yang beredar. Biaya pembongkaran tiang monorel sendiri diperkirakan mencapai Rp 254 juta. Namun, biaya total untuk penataan kawasan, termasuk perbaikan jalan dan infrastruktur pendukung lainnya, mencapai Rp 102 miliar. “Sekaligus saya ingin meluruskan bahwa yang Rp 100 miliar itu bukan motongnya. Motongnya hanya Rp 254 juta. Yang besar itu penataannya,” jelasnya.

Setelah proses pembongkaran selesai, Pemprov DKI Jakarta akan melanjutkan dengan penataan jalan, sistem selokan, trotoar, serta penerangan umum. Kajian mendalam terkait penataan kawasan Rasuna Said masih terus dilakukan oleh Pemprov DKI.

Pantauan di Lapangan dan Skema Pembongkaran

Pantauan di Jalan Rasuna Said pada Kamis (15/1/2025) menunjukkan baru satu tiang monorel yang berhasil dibongkar. Lokasi bekas tiang yang telah dipotong kini telah steril dari besi menjulang dan dikelilingi papan proyek berwarna putih dengan logo Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Bagian bekas beton ditutupi lakban kuning-hitam, sementara tiang-tiang lainnya yang belum dibongkar masih terpasang garis hitam-kuning pada besi yang menjulang.

Pembongkaran tiang monorel dilakukan secara bertahap dan dijadwalkan pada malam hari, mulai pukul 23.00 hingga 05.00 WIB, untuk meminimalkan gangguan terhadap lalu lintas. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, memastikan tidak ada penutupan jalan total selama pekerjaan berlangsung. “Karena kepadatan lalu lintas di Jakarta itu bahkan sampai jam 22.00 malam, window time-nya kami tetapkan dari jam 23.00 sampai dengan pukul 05.00,” kata Syafrin.

Syafrin menjelaskan bahwa skema pengerjaan adalah satu tiang per malam. Penutupan hanya dilakukan pada lajur lambat secara bertahap di titik pekerjaan, sementara arus dari lajur cepat tetap dapat beralih ke lajur lambat. “Tidak ada penutupan jalan. Penutupan hanya di lajur lambat dan dilakukan staging. Arus dari lajur cepat tetap bisa masuk ke lajur lambat,” ungkapnya.

Advertisement

Untuk mendukung kelancaran lalu lintas, Dinas Perhubungan DKI Jakarta bersama Satpol PP akan mengerahkan sekitar 30 personel setiap malam untuk pengaturan lalu lintas dan pengamanan di lokasi.

Nasib Tiang Monorel di Senayan

Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta menegaskan bahwa tiang monorel di kawasan Senayan belum termasuk dalam agenda pembongkaran. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyatakan bahwa tiang monorel di Senayan berada di luar kewenangan Pemprov DKI, melainkan di bawah wewenang Sekretariat Negara (Setneg).

Meskipun demikian, Pemprov DKI membuka peluang untuk pemanfaatan tiang monorel di Senayan. Salah satu opsi yang sempat dibahas adalah penggunaan tiang sebagai media reklame atau videotron, meskipun tidak semua tiang dapat dimanfaatkan. “Kita juga sedang mencoba, agar memang dari beberapa tiang yang ada bisa digunakan untuk reklame. Tapi mungkin tidak semua,” ujar Rano.

Rano menambahkan bahwa keberadaan sejumlah tiang monorel di kawasan Senayan, termasuk yang berada di belakang gedung DPR, dinilai mengganggu. Opsi pembongkaran tetap dapat dipertimbangkan jika tiang-tiang tersebut dinilai tidak lagi fungsional.

Sebelumnya, Pramono Anung menyebutkan bahwa prioritas pembongkaran tiang monorel adalah di Rasuna Said. Untuk kawasan Senayan, Pemprov DKI memilih opsi pemanfaatan aset agar tetap memiliki nilai guna. “Kalau ini sudah berjalan dengan baik, yang di Senayan memang beberapa pasti akan kami bongkar, tetapi beberapa akan kami sisakan untuk videotron dan sebagainya, untuk reklame. Jadi harus dimanfaatkan,” kata Pramono pada Rabu (14/1).

Pramono menilai pemanfaatan tiang monorel sebagai videotron dan reklame akan lebih bermanfaat dibandingkan membongkar seluruhnya. Langkah ini diharapkan tidak hanya menghindari pemborosan anggaran, tetapi juga memberikan nilai ekonomi tambahan bagi daerah.

Advertisement