Berita

Situ Jakarta Tersisa 200, DPRD Desak Revitalisasi untuk Tangkal Banjir

Advertisement

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari Fraksi NasDem, Wibi Andrino, menyoroti kondisi kritis situ di ibu kota yang kini hanya tersisa 200 unit. Ia mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk segera melakukan revitalisasi dan normalisasi situ guna mencegah banjir yang kian mengancam.

Banjir Bukan Sekadar Hujan Ekstrem

Wibi Andrino menegaskan bahwa banjir di Jakarta tidak dapat disalahkan semata-mata karena curah hujan yang ekstrem. Menurutnya, berkurangnya jumlah situ yang berfungsi optimal telah mengurangi daya tampung air di kawasan Jabodetabek secara signifikan.

“Dari sudut pandang DPRD DKI, kami sepakat banjir Jakarta tidak bisa dilihat semata karena hujan ekstrem,” ujar Wibi kepada wartawan, Sabtu (24/1/2026).

Ia menambahkan, hilangnya situ dan ruang resapan di Jabodetabek merupakan faktor struktural yang serius. Situ seharusnya berfungsi sebagai penyangga alami air, namun kenyataannya banyak yang menyusut, dangkal, bahkan beralih fungsi.

“Situ seharusnya menjadi penyangga alami air, tapi banyak yang menyusut, dangkal, bahkan beralih fungsi,” jelasnya.

Langkah Tegas dan Terkoordinasi Lintas Wilayah

Menyikapi kondisi tersebut, Wibi mendorong adanya langkah tegas dan terkoordinasi yang melibatkan berbagai pihak.

  • Inventarisasi dan penyelamatan situ yang tersisa.
  • Normalisasi dan revitalisasi situ.
  • Penertiban alih fungsi lahan.
  • Penguatan kerja sama antara Pemprov DKI, pemerintah daerah penyangga, dan pemerintah pusat.

“Ke depan, perlu langkah tegas lintas wilayah, inventarisasi dan penyelamatan situ yang tersisa, normalisasi dan revitalisasi situ, penertiban alih fungsi lahan, serta penguatan kerja sama antara Pemprov DKI, pemerintah daerah penyangga, dan pemerintah pusat,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa tanpa langkah-langkah tersebut, upaya pengendalian banjir di Jakarta akan terus bersifat tambal sulam dan tidak akan menjadi solusi jangka panjang.

Advertisement

“Tanpa itu, upaya pengendalian banjir di Jakarta akan selalu bersifat tambal sulam, bukan solusi jangka panjang,” imbuhnya.

Perhatian Presiden Terhadap Banjir Jakarta

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga telah memberikan perhatian terhadap banjir yang melanda wilayah Jakarta pada awal tahun 2026. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menilai bahwa banjir tersebut tidak hanya disebabkan oleh tingginya curah hujan.

“Tentunya itu hanya salah satu ya, faktor cuaca tingginya curah hujan di bulan basah akhir Januari ini memang cukup tinggi, tetapi kita tentu menyadari bahwa ini tidak sekedar faktor cuaca. Ini bagaimana perubahan tata ruang juga di situ berpengaruh, bagaimana pendangkalan-pendangkalan aliran daerah-daerah aliran sungai itu juga berpengaruh,” kata Prasetyo Hadi di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Menurut data yang dihimpun, Jakarta dulunya memiliki sekitar seribu situ yang berfungsi sebagai titik resapan air. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlahnya berkurang drastis.

Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa situ di Jakarta kini hanya tersisa sekitar 200 unit, sebuah fakta yang menjadi perhatian serius Presiden Prabowo Subianto.

Oleh karena itu, pemerintah berupaya untuk menyelesaikan permasalahan banjir dari akar masalahnya hingga penanganan jangka panjang.

Advertisement