Informasi terkait bunuh diri dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian, menilai kasus bunuh diri yang dilakukan seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak berkaitan dengan penggunaan anggaran pendidikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, persoalan utama dalam kasus tersebut terletak pada penyaluran bantuan pendidikan yang belum optimal.
Penyaluran Bantuan Pendidikan Jadi Sorotan
“Jadi gini, kami sudah mendapat informasi detail terkait dengan dana MBG. MBG sebenarnya pada prinsipnya tidak akan mengganggu anggaran pendidikan,” kata Lalu di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Ia menambahkan bahwa komitmen Presiden untuk menambah anggaran pendidikan melalui revitalisasi sarana dan prasarana, yang mencakup perbaikan 60 ribu sekolah, akan membuat anggaran pendidikan melebihi 20 persen mandatory spending, sesuai dengan konstitusi.
Meskipun memahami masukan dari berbagai pihak terkait anggaran pendidikan, Lalu menegaskan bahwa akar masalah dari kasus bunuh diri tersebut adalah pada penyaluran bantuan pendidikan. “Sebenarnya kalau kita baca kronologi dari peristiwa yang ada di NTT, itu sebenarnya kan PIP-nya sudah masuk, tetapi penyalurannya yang belum maksimal,” ujarnya.
“Kita cari sekarang kenapa penyaluran ini tidak maksimal, tidak bisa, sehingga anak menjadi frustrasi karena keterbatasan ekonomi,” sambung dia.
Peran Pemerintah Daerah dan Sekolah
Politikus PKB ini menekankan pentingnya pemerintah daerah untuk memastikan sekolah rakyat benar-benar diperuntukkan bagi keluarga miskin. Ia juga meminta pihak sekolah, keluarga, dan pemerintah daerah untuk duduk bersama mencari solusi.
“Pemerintah daerah Kabupaten Ngada bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memastikan bahwa Sekolah Rakyat yang hari ini diperuntukkan bagi warga miskin, bagi anak-anak yang tergolong dalam keluarga miskin, harus betul-betul bisa dimanfaatkan dalam rangka menuntaskan itu tadi,” tuturnya.
Surat Peninggalan Korban
Sebelumnya, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi YBR (10), siswa kelas IV SD yang tewas gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT. Surat tersebut ditulis YBR dalam bahasa daerah Bajawa dan berisi ungkapan kekecewaan terhadap ibunya yang disebut pelit, serta ucapan perpisahan.






