Wakil Ketua Komisi I DPR Fraksi PKS, Sukamta, menyoroti pernyataan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyuarakan kekhawatiran akan potensi Perang Dunia III akibat dinamika geopolitik global. Sukamta menilai pernyataan tersebut patut dicermati sebagai sebuah peringatan dini.
Pernyataan SBY Sebagai Peringatan Dini
“Pernyataan Pak Susilo Bambang Yudhoyono tentang kemungkinan terjadinya Perang Dunia III patut dibaca sebagai peringatan dini, bukan ramalan apokaliptik,” ujar Sukamta kepada wartawan pada Selasa (20/1/2026). Ia menjelaskan bahwa SBY mengingatkan bahwa perang besar seringkali bukan disebabkan oleh satu peristiwa tunggal, melainkan akumulasi konflik yang dibiarkan tanpa pengendalian, merujuk pada pola menjelang Perang Dunia I dan II.
Peran PBB dalam Mencegah Eskalasi Konflik
Sukamta menambahkan bahwa seruan SBY agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bergerak menjadi sangat relevan. Meskipun PBB tidak sempurna dan seringkali terhambat oleh rivalitas kekuatan besar, forum global ini tetap menjadi satu-satunya entitas yang memiliki legitimasi untuk mencegah eskalasi konflik secara kolektif. “Ketika mekanisme multilateral melemah, risiko salah hitung dan salah tafsir antarnegara justru membesar,” tuturnya.
Pentingnya Dialog dan Diplomasi Preventif
Lebih lanjut, Sukamta menekankan bahwa menjaga perdamaian global tidak hanya bergantung pada kekuatan militer, tetapi juga pada keberanian politik, dialog antarnegara, dan penguatan diplomasi preventif. “Kecemasan Pak SBY seharusnya mendorong refleksi bersama, bahwa menjaga perdamaian global bukan hanya soal kekuatan militer, melainkan juga keberanian politik untuk menahan diri, membuka dialog, dan memperkuat diplomasi preventif. Dunia belum berada di titik tanpa jalan kembali, tetapi waktu untuk bertindak jelas tidak lagi longgar,” imbuhnya.
Kekhawatiran SBY Terhadap Situasi Geopolitik
Sebelumnya, SBY menyampaikan kekhawatirannya melalui akun X-nya, @SBYudhoyono, pada Senin (19/1/2026). Ia mengaku cemas melihat dinamika global beberapa bulan terakhir, yang menurutnya memiliki banyak kesamaan dengan situasi menjelang Perang Dunia I dan II. SBY menilai sangat mungkin konflik yang terjadi saat ini akan berujung pada Perang Dunia III, meskipun ia tetap percaya hal mengerikan itu bisa dicegah.
“Sangat mungkin Perang Dunia III terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini,” kata SBY.
Ia mencontohkan kesamaan tersebut antara lain munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran, serta geopolitik yang memanas. SBY juga mencatat bahwa sejarah menunjukkan, meski ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, kesadaran dan langkah pencegahan seringkali tidak memadai.






