Berita

SBY Ingatkan Indonesia Tak Boleh Naif Hadapi Ancaman Perang Dunia III

Advertisement

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan Indonesia untuk tidak bersikap naif terhadap potensi ancaman perang dunia. Menurutnya, kondisi global saat ini tengah dilanda kekacauan.

Sejarah Perang Dunia II dan Dampaknya bagi Indonesia

SBY mengawali penjelasannya dengan merujuk pada sejarah Perang Dunia II. Ia menyoroti bahwa Indonesia, meskipun tidak secara langsung terlibat dalam konflik tersebut, tetap merasakan dampaknya.

“Apakah kita tidak fokus ke dalam negeri saja, Pak? Dunia yang sedang meng-global begini, yang interconnected, interrelated, tidak mungkin. Saya berikan contoh perang dunia kedua, kita tidak ikut-ikutan, jadi korban juga,” ujar SBY saat memberikan kuliah umum di Lemhannas RI, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026).

Posisi Indonesia di Tengah Kekacauan Global

Lebih lanjut, SBY menekankan bahwa Indonesia bisa menjadi ‘pelengkap penderita’ jika hanya berdiam diri dalam menghadapi dinamika global yang kompleks.

“Ini kalau yang menentukan negara-negara tertentu, negara besar dulu tidak ikut G20, ya kita bisa berbuat apa? Jadi pelengkap penderita, jadi korban juga,” imbuhnya.

Ia juga memperingatkan agar Indonesia tidak merasa aman hanya karena tidak memiliki masalah langsung dengan negara lain. Sikap naif yang menganggap Indonesia tidak akan tersentuh oleh perang dunia harus dihindari.

Advertisement

“Kita tidak boleh naif dan tidak boleh seolah-olah tidak akan tersentuh kita. Kita tidak punya masalah kok, don’t say that, karena sudah memang kacau seperti ini,” tegasnya.

Dorongan untuk Kesiapan Indonesia

Menyikapi situasi tersebut, SBY mendorong agar Indonesia segera bersiap diri dalam berbagai aspek. Kesiapan ini mencakup penguatan kekuatan pertahanan, peningkatan ketahanan pangan, serta pembangunan relasi internasional.

“Jadi menurut saya fokus dalam negeri untuk mempersiapkan diri, yes, meningkatkan deterrence kita, yes, meningkatkan kekuatan pertahanan kita, yes, meningkatkan ketahanan energi, pangan dan lain-lain bisa susah kalau terjadi disruption pada tingkat dunia, yes,” jelas SBY.

Ia menambahkan bahwa upaya di dalam negeri harus dibarengi dengan diplomasi dan kerja sama internasional yang efektif, serta pemahaman mendalam terhadap tatanan hubungan kekuasaan global.

Effort dalam negeri, yes, diplomasi, kerja sama internasional, yes, memahami setting of power relations, yes, dengan demikian yang kita lakukan insyaallah akan benar,” pungkasnya.

Advertisement