Berita

SBY Cemas Perang Dunia III Mengancam, Desak PBB Ambil Tindakan Nyata

Advertisement

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyuarakan keprihatinan mendalam atas eskalasi dinamika geopolitik global dalam beberapa bulan terakhir. Melalui akun X-nya, @SBYudhoyono, SBY mengungkapkan kekhawatiran serius akan potensi terjadinya Perang Dunia Ketiga.

SBY, yang mengaku telah puluhan tahun mendalami geopolitik, perdamaian internasional, dan sejarah peperangan, menyatakan kecemasannya melihat perkembangan dunia saat ini. Ia membandingkan situasi global terkini dengan kondisi menjelang Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945).

Analogi Sejarah Perang Dunia

Menurut SBY, kemunculan pemimpin-pemimpin yang haus perang, pembentukan aliansi negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran, serta memanasnya geopolitik menunjukkan kesamaan pola dengan masa lalu. “Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit,” jelasnya.

Ia menambahkan, “Sejarah juga mencatat, bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi.”

Ancaman Kehancuran Global dan Peran Doa

SBY mengutip berbagai studi yang memprediksi kehancuran dunia tak terhindarkan jika perang total dan nuklir terjadi, dengan potensi korban jiwa mencapai lebih dari 5 miliar manusia. Ia menekankan bahwa doa saja tidak cukup untuk mencegah bencana tersebut.

“Andaikan 8,3 miliar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya,” ujarnya.

Advertisement

Usulan SBY untuk PBB

Menyikapi kekhawatiran tersebut, SBY mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif strategis. Ia mendesak PBB untuk menggelar Sidang Umum Darurat (Emergency UN General Assembly) yang mengundang para pemimpin dunia.

Agenda utama sidang tersebut adalah merumuskan langkah-langkah konkret untuk mencegah krisis dunia berskala besar, termasuk kemungkinan pecahnya perang dunia baru. “Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing,” imbuhnya.

Meskipun menyadari pandangannya mungkin tidak diindahkan oleh banyak penguasa dunia, SBY meyakini bahwa setiap upaya akan membuka jalan. “Ingat, if there is a will, there is a way,” tuturnya.

Konteks Geopolitik Global

Kondisi geopolitik dunia memang tengah memanas, ditandai oleh konflik di berbagai wilayah seperti Rusia-Ukraina, Thailand-Myanmar, dan Israel-Palestina, serta ketegangan di Timur Tengah. Insiden seperti penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat dan ambisi Presiden AS Donald Trump untuk mencaplok Greenland, yang memicu respons keras dari negara-negara NATO dan balasan tarif tinggi dari AS, turut memperkeruh suasana global.

Advertisement