JAKARTA, 22 Januari 2026 – PT Pupuk Indonesia (Persero) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Somiphos, perusahaan tambang fosfat Aljazair yang merupakan anak usaha Grup Sonarem. Kesepakatan ini bertujuan untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan pupuk nasional dengan harga yang lebih murah bagi petani.
Penguatan Rantai Pasok Pupuk Nasional
Penandatanganan MoU yang berlangsung di Aljir, Aljazair, pada Selasa (20/1) ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Presiden menginstruksikan agar negara hadir dalam memperkuat rantai pasok bahan baku pupuk, menekan biaya produksi, dan memastikan pupuk tersedia dengan harga terjangkau bagi petani.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Republik Indonesia, Sudaryono, yang turut menyaksikan penandatanganan tersebut, menegaskan komitmen pemerintah. “Bapak Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan yang sangat jelas bahwa negara harus hadir memastikan pupuk tersedia, terjangkau, dan tepat waktu bagi petani. Kerja sama fosfat dengan Aljazair ini adalah langkah konkret untuk memperkuat hulu industri pupuk nasional agar biaya produksi bisa ditekan dan harga pupuk bagi rakyat menjadi lebih murah,” kata Sudaryono dalam keterangan tertulis, Rabu (21/1/2025).
Detail Kerja Sama dan Manfaat
MoU tersebut ditandatangani oleh Direktur Utama Somiphos, Mokhtar Lakhal, dan Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi. Acara ini disaksikan oleh Menteri Negara sekaligus Menteri Energi dan Pertambangan Aljazair, Mohamed Arkab, serta dihadiri pejabat tinggi kedua negara, termasuk Duta Besar Republik Indonesia untuk Aljazair dan jajaran pimpinan Grup Sonarem.
Kerja sama ini mencakup kajian dan pengembangan peluang pasokan fosfat dari Aljazair untuk memenuhi kebutuhan industri pupuk nasional. Selain itu, penjajakan investasi bersama di bidang penambangan dan pengolahan fosfat juga menjadi bagian dari kesepakatan.
Fosfat merupakan bahan baku strategis dalam produksi pupuk, terutama pupuk fosfat, yang krusial untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Sudaryono menilai ketergantungan terhadap impor bahan baku selama ini menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi struktur biaya pupuk. Oleh karena itu, kemitraan jangka menengah dan panjang dengan negara produsen dinilai sangat penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Dengan memperluas sumber bahan baku dan membangun kemitraan strategis yang saling menguntungkan, kita tidak hanya menjaga keberlanjutan industri pupuk nasional, tetapi juga menjalankan amanat Presiden untuk melindungi petani sebagai tulang punggung ketahanan pangan Indonesia,” ujar Sudaryono.
Tujuan Jangka Panjang dan Harapan
Nota kesepahaman ini berlaku selama 18 bulan. Cakupannya meliputi pelaksanaan studi pendahuluan bersama untuk menilai kelayakan teknis dan ekonomi proyek, pertukaran data, serta pengembangan peluang kerja sama pada tahap awal industri pengolahan fosfat.
Diharapkan, hasil kerja sama ini mampu menciptakan nilai tambah, meningkatkan efisiensi industri pupuk nasional, dan mendukung program pemerintah menuju swasembada pangan.
Sudaryono menjelaskan bahwa kunjungan kerja ke Aljazair yang berlangsung pada 19-21 Januari ini merupakan bagian dari upaya pengamanan pasokan bahan baku pupuk. “Kita ingin tidak hanya membeli bahan baku, tetapi juga menguasai sumbernya di negara asal dan mengembangkan industrinya. Dengan begitu, kita bisa menyediakan pupuk dengan kualitas yang lebih baik, volume yang cukup, dan harga yang bisa ditekan lebih lanjut,” tuturnya.
Ia menambahkan, meskipun pemerintah telah memberikan diskon harga pupuk hingga 20 persen, penguasaan sumber bahan baku diharapkan memungkinkan pemerintah menekan harga pupuk lebih jauh di masa mendatang. “Kalaupun sekarang pupuk sudah dikasih diskon 20 persen oleh Bapak Presiden, maka dengan kita menguasai sumber bahan baku pupuk ini diharapkan di masa-masa yang akan datang kita bisa memberikan pelayanan pupuk yang lebih baik secara volume cukup dan harganya bisa ditekan lagi,” kata Sudaryono.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung pemerintah mewujudkan ketahanan pangan nasional melalui pengamanan pasokan bahan baku pupuk. “Pupuk Indonesia terus mendukung Pemerintah Indonesia dengan menjajaki kerja sama bersama mitra strategis dengan negara sahabat. Langkah ini penting untuk memastikan ketersediaan bahan baku sehingga pupuk dapat diproduksi dan disalurkan dengan harga yang terjangkau bagi petani Indonesia,” tutup Rahmad.






