JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan Sekolah Rakyat pada Senin, 12 Januari 2026. Program pendidikan gratis ini dirancang khusus untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, sebagai upaya memutus mata rantai kemiskinan.
Gagasan Presiden Prabowo untuk Pengentasan Kemiskinan
Sekolah Rakyat merupakan inisiatif langsung Presiden Prabowo Subianto yang tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul, menyatakan bahwa program ini istimewa dan menjadi legacy Presiden Prabowo.
“Karena ini bagian dari pengentasan kemiskinan. Anaknya sekolah, keluarganya diberdayakan. Anaknya lulus, keluarganya naik kelas (dan) menjadi berdaya. Ini istimewa dan ini tentu legacy dari Bapak Presiden Prabowo,” ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulis, Minggu (11/1/2026).
Gus Ipul menambahkan, pendirian Sekolah Rakyat dilatarbelakangi oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat lebih dari tiga juta anak usia sekolah berada dalam kondisi tidak sekolah, belum sekolah, putus sekolah, dan berpotensi putus sekolah.
Proses Rekrutmen Siswa Berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional
Sekolah Rakyat ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang terdata dalam Desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Proses rekrutmen tidak menggunakan tes akademik, melainkan mengacu pada DTSEN dan verifikasi langsung ke rumah calon siswa oleh pendamping lapangan.
Pada masa matrikulasi, setiap siswa akan mendapatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan mengikuti TalentDNA Mapping untuk memetakan potensi serta bakat mereka secara mendalam.
Ribuan Siswa Telah Merasakan Manfaat Sekolah Rakyat
Sejak beroperasi pada 2025, Sekolah Rakyat rintisan telah dibuka di 166 lokasi secara bertahap. Sejumlah 15.945 siswa telah mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat selama satu semester pada Semester Gasal Tahun Ajaran 2025/2026.
“Hari Senin (12/1) nanti akan diresmikan atau diluncurkan secara resmi Sekolah Rakyat rintisan di 166 titik,” kata Gus Ipul.
Target ke depan, jumlah Sekolah Rakyat akan terus bertambah hingga mencapai 500 sekolah dengan kapasitas masing-masing hingga 1.000 siswa.
Penyerapan Tenaga Kerja dan Konsep Sekolah Asrama
Tahap awal Sekolah Rakyat rintisan telah menyerap 7.107 tenaga kerja, terdiri dari 2.218 guru dan 4.889 tenaga kependidikan. Jumlah ini diproyeksikan meningkat seiring pembangunan Sekolah Rakyat permanen.
Sekolah Rakyat mengusung konsep sekolah berasrama (boarding school) di mana seluruh kebutuhan siswa, mulai dari seragam, makan, hingga asrama, ditanggung sepenuhnya oleh negara. Konsep ini bertujuan membentuk karakter siswa agar lebih mandiri, disiplin, dan memiliki keterampilan.
Kurikulum Khusus dan Hilirisasi Siswa
Dalam proses pembelajaran, Sekolah Rakyat menggunakan kurikulum khusus dengan pendekatan Multi Entry-Multi Exit (MEME) dan pendekatan individu. Sistem ini memungkinkan siswa masuk kapan saja dan belajar sesuai capaian masing-masing.
Selain pendidikan akademik, Sekolah Rakyat juga menyiapkan proses hilirisasi siswa sejak awal melalui DNA talent mapping. Siswa akan dibimbing sesuai minat, baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi maupun memasuki dunia kerja. Kemensos telah bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi dan kementerian terkait untuk memfasilitasi hal ini.
“Rumahnya nanti akan dibantu, orang tuanya jadi anggota Koperasi Desa Merah Putih, dapat bantuan sosial lengkap sesuai dengan periode tertentu, dapat PBI JKN, dapat makan bergizi dan cek kesehatan,” tutur Gus Ipul, merujuk pada integrasi program prioritas Presiden dengan Sekolah Rakyat.






