Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia untuk tidak bergabung dengan pakta militer mana pun. Keputusan ini sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif dan nonblok yang dipegang teguh oleh Indonesia.
Prediksi Perang Dunia III dan Prinsip Nonblok
Prabowo menyampaikan pandangannya mengenai prediksi perang dunia ketiga dan potensi dampaknya terhadap Indonesia, meskipun negara ini tidak terlibat langsung dalam konflik. Ia menekankan bahwa prinsip politik nonblok merupakan warisan berharga dari para pendiri bangsa yang kini ia jalankan sebagai mandat.
“Karena itu saya jalankan sebagai mandataris, meneruskan warisan pendiri-pendiri bangsa kita, saya menjalankan politik luar negeri yang menganut tetap garis kita bebas aktif tapi non-align , nonblok. Kita tidak akan ikut pakta militer mana pun,” ujar Prabowo dalam taklimat Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).
Filosofi ‘Seribu Kawan Terlalu Sedikit’
Presiden Prabowo juga mengemukakan filosofi yang dipegangnya dalam menjalankan hubungan luar negeri: “seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak, apalagi satu musuh.” Ia menyadari konsekuensi dari sikap nonblok ini, di mana Indonesia harus mampu mandiri dalam menghadapi ancaman.
“Itu garis kita. Tapi kita mengerti semua, ya, kita mengerti semua. Kalau kita sungguh-sungguh mau nonblok, kalau kita sungguh-sungguh mau tidak terlibat dalam pakta, kalau kita sungguh-sungguh mau bersahabat sama semua, berarti kita sendiri. Kalau kita diancam, kalau kita diserang, tidak akan ada yang bantu kita, Saudara-saudara. Percaya sama saya, nobody is going to help us ,” tegas Prabowo.
Kekuatan Mandiri dan Realitas Dunia
Oleh karena itu, Prabowo menekankan pentingnya Indonesia untuk kuat dan berdiri di atas kaki sendiri. Ia mengutip pesan dari Bung Karno dan Panglima Besar Sudirman mengenai kepercayaan pada kekuatan sendiri.
“Karena itu dari awal Bung Karno mengatakan kita harus berdiri di atas kaki kita sendiri dan panglima besar kita yang pertama, Panglima Besar Sudirman, mengajarkan kepada kita, kita harus percaya kepada kekuatan kita sendiri,” kata Ketua Umum Partai Gerindra itu.
Menyinggung dinamika geopolitik global saat ini, Prabowo melihat bahwa kekuatan yang dominan cenderung bertindak sesuai kehendak mereka, sementara yang lemah akan menderita.
“Saudara-saudara, dengan segala hormat kepada para pakar yang pandai dan pintar, yang punya banyak gelar saya hormati mereka, tapi dunia ini adalah keadaan nyata, bukan keadaan ideal. Saya selalu mengingatkan mengajarkan yang berlaku di dunia ini sekarang adalah yang kuat akan berbuat apa yang mereka kehendaki. Yang lemah akan menderita. Itu yang kita lihat hari ini, kita lihat di mana-mana,” jelas Prabowo.
Melindungi Rakyat dengan Kebijakan Luar Negeri
Sebagai presiden, Prabowo menyatakan prioritas utamanya adalah menjaga bangsa dan rakyat Indonesia. Ia berkomitmen untuk berlaku baik kepada semua negara demi melindungi rakyatnya.
“Kadang-kadang gampang untuk kita bilang, gampang kita ngomong , tapi kadang-kadang tidak gampang untuk dilaksanakan. Kadang-kadang hati kita bergejolak, tapi kita harus senyum karena kita sudah memilih akan baik sama semua, untuk melindungi rakyat kita,” ujar Prabowo.
Ia menambahkan bahwa emosi dan idealisme berlebihan tidak dapat diterapkan dalam menghadapi realitas dunia yang keras. Meskipun tidak berniat mengancam siapa pun, Indonesia harus siap menghadapi kemungkinan gangguan, terutama mengingat kekayaan sumber daya alam yang dimiliki.
“Kita tidak bisa emosional, kita tidak bisa terlalu idealis karena yang berlaku adalah dunia nyata, Saudara-saudara. Karena kita tidak mau perang. Kita harus siap untuk perang. Kita tidak niat mengancam siapa-siapa tapi selalu mereka ganggu kita. Kenapa Saudara-saudara? Karena Indonesia, Nusantara kita, semua pulau-pulau kita adalah kaya dengan sumber daya alam yang luar biasa,” imbuh dia.






