Berita

PKS Tolak Penghapusan Ambang Batas Parlemen, Nilai Penting untuk Stabilitas Politik

Advertisement

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menolak usulan penghapusan ambang batas parlemen atau Parliamentary Threshold (PT) yang diajukan oleh Partai Amanat Nasional (PAN) dalam pembahasan revisi Undang-Undang (RUU) Pemilu. PKS berpandangan bahwa PT masih krusial sebagai instrumen penjaga stabilitas politik dan efektivitas pemerintahan.

Pentingnya Ambang Batas Parlemen

Sekretaris Jenderal PKS, M. Kholid, menyatakan bahwa keberadaan ambang batas parlemen sangat dibutuhkan untuk mencegah fragmentasi politik yang berlebihan di parlemen. Menurutnya, hal ini penting agar proses pengambilan kebijakan strategis tidak terhambat oleh terlalu banyaknya kepentingan yang terpecah.

“Kami memandang bahwa keberadaan parliamentary threshold (PT) masih dibutuhkan sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas politik dan efektivitas pemerintahan (governmentability),” ujar Kholid pada Jumat (30/1/2026).

Ia menambahkan, dengan komposisi partai yang lebih terukur dan merepresentasikan suara rakyat yang signifikan, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dapat bekerja lebih optimal dalam menjalankan fungsi legislasi, anggaran, maupun pengawasan.

Fraksi Gabungan Dinilai Mengaburkan Mandat Konstituen

Menanggapi usulan fraksi gabungan oleh PAN, PKS menilai bahwa fraksi bukan sekadar wadah administratif. Kholid menjelaskan bahwa fraksi merupakan representasi platform, ideologi, dan arah perjuangan politik setiap partai, sehingga tidak dapat dipaksakan untuk bersatu dalam satu fraksi gabungan.

“Menyatukan partai-partai tanpa kesamaan platform hanya akan mengaburkan mandat konstituen dan menurunkan kualitas representasi kebijakan di parlemen yang seharusnya berbasis pada aspirasi politik dan platform perjuangan,” tegas Kholid.

Advertisement

Usulan PAN: Jutaan Suara Pemilih Tak Terwakili

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum PAN, Eddy Soeparno, menyampaikan usulan penghapusan ambang batas parlemen. PAN menilai ketentuan ambang batas selama ini menyebabkan jutaan suara pemilih tidak terwakili di DPR.

“Kita termasuk di antara partai yang dari dulu memang menginginkan adanya penghapusan ambang batas, baik itu pilpres maupun untuk pemilihan legislatif,” kata Eddy di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (29/1).

Ia mengungkapkan bahwa jumlah pemilih yang aspirasinya tidak tertampung di DPR karena partainya tidak lolos ambang batas mencapai belasan juta.

Eddy Soeparno mengusulkan agar penghapusan ambang batas parlemen dapat diterapkan dengan mekanisme yang sama seperti di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), di mana partai yang tidak memiliki cukup kursi dapat bergabung membentuk fraksi gabungan.

“Yang tidak cukup kursinya ya kemudian bergabung membentuk fraksi gabungan. Supaya apa? Supaya ya masyarakat yang sudah memilih legislatornya maupun partainya, itu masih tetap bisa menyalurkan aspirasinya melalui anggota DPR ataupun partai yang dia pilih,” jelas Eddy.

Advertisement