Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat jumlah penduduk miskin di Ibu Kota mengalami penurunan pada September 2025. Tercatat ada 439,12 ribu warga miskin di Jakarta pada periode tersebut.
Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, menyatakan jumlah penduduk miskin ini turun sebanyak 25,75 ribu orang dibandingkan dengan data Maret 2025 yang mencapai 464,87 ribu orang. Ia juga mengonfirmasi bahwa persentase penduduk miskin di Jakarta turut menurun.
Tingkat Kemiskinan Terendah Sejak Pandemi
“Secara persentase, tingkat kemiskinan di Jakarta juga turun menjadi 4,03 persen pada September 2025. Angka tersebut lebih rendah 0,25 persen poin dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 4,28 persen,” kata Kadarmanto dalam keterangan tertulis, Kamis (5/2/2026).
BPS menyebutkan angka tersebut merupakan tingkat kemiskinan terendah di Jakarta sejak masa pandemi COVID-19, meskipun belum kembali ke level sebelum pandemi. Selain itu, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) juga mengalami penurunan dari 0,574 pada Maret 2025 menjadi 0,492 pada September 2025. Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) tercatat turun dari 0,111 menjadi 0,095.
Penurunan kedua indeks tersebut mengindikasikan bahwa rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan semakin kecil.
Garis Kemiskinan dan Komponen Pengeluaran
BPS mencatat Garis Kemiskinan DKI Jakarta pada September 2025 berada di angka Rp 897.768 per kapita per bulan. Angka ini mengalami kenaikan 5,28 persen dibandingkan Maret 2025 yang sebesar Rp 852.768 per kapita per bulan.
Komposisi garis kemiskinan ini didominasi oleh kebutuhan makanan sebesar 69,30 persen dan kebutuhan non-makanan sebesar 30,70 persen. “Jika dihitung per rumah tangga, dengan rata-rata anggota rumah tangga miskin 5,10 orang, maka garis kemiskinan rumah tangga di Jakarta mencapai sekitar Rp 4,58 juta per bulan,” ujar Kadarmanto.
BPS DKI Jakarta juga merinci komoditas yang paling besar menyumbang garis kemiskinan di Ibu Kota. Selain beras, pengeluaran untuk rokok dan daging ayam ras tercatat menjadi beban utama dalam struktur belanja penduduk miskin.
Dalam rilis Profil Kemiskinan DKI Jakarta September 2025, BPS mencatat komponen makanan masih mendominasi pembentuk garis kemiskinan dengan porsi 69,30 persen. Dari kelompok makanan tersebut, beras menjadi penyumbang terbesar.
“Namun setelah beras, rokok kretek filter menempati posisi kedua sebagai komoditas dengan kontribusi besar terhadap garis kemiskinan makanan. Disusul daging ayam ras dan telur ayam ras yang juga memberi andil signifikan terhadap pengeluaran minimum penduduk miskin,” jelasnya.
BPS menjelaskan garis kemiskinan merupakan nilai pengeluaran minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non-makanan. Penduduk dikategorikan miskin apabila rata-rata pengeluaran per kapita per bulan berada di bawah angka tersebut.
“Dari jumlah itu, sekitar Rp 622 ribu merupakan kebutuhan makanan dan Rp 275 ribu kebutuhan non-makanan,” tuturnya.
Untuk komponen non-makanan, beban terbesar berasal dari perumahan, diikuti oleh listrik, pendidikan, dan bahan bakar bensin.





