Berita

Pasien ‘Super Flu’ Meninggal di Bandung, DPR Minta Kemenkes dan Pemda Tingkatkan Kewaspadaan

Advertisement

JAKARTA – Kasus kematian akibat ‘super flu’ atau Influenza A H3N2 subclade K di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menjadi perhatian serius Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Wakil Ketua Komisi IX, Yahya Zaini, mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan pemerintah daerah (pemda) untuk segera bersiap menghadapi potensi terburuk penyebaran virus tersebut.

DPR Minta Peningkatan Surveilans dan Kewaspadaan

Yahya Zaini menyatakan bahwa kasus meninggalnya pasien di Bandung menjadi bukti nyata bahaya ‘super flu’, terutama bagi individu yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Ia menekankan pentingnya Kemenkes untuk meningkatkan surveilans secara menyeluruh kepada seluruh warga, khususnya di daerah yang telah terjangkit.

“Kasus kematian ini membuktikan bahwa super flu sangat membahayakan, khususnya bagi mereka yang memiliki komorbid. Karena itu, Kemenkes harus meningkatkan surveilans secara menyeluruh kepada seluruh warga, terutama di daerah-daerah yang sudah terjangkit,” ujar Yahya kepada wartawan, Selasa (13/1/2026).

Selain itu, Yahya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus. Ia mendorong warga untuk menjaga kebugaran tubuh dan menggunakan masker saat berada di tempat ramai. Legislator dari Partai Golkar ini juga meminta pemerintah daerah berperan aktif dalam mengantisipasi penyebaran ‘super flu’ di wilayah masing-masing.

“Pemda harus bersiap, termasuk menyiapkan rumah sakit bagi warganya yang terkena super flu,” tegasnya.

Kemenkes Diminta Lebih Serius Awasi Perkembangan Kasus

Yahya Zaini juga menyoroti perlunya Kemenkes untuk lebih serius dalam mengawasi perkembangan kasus ‘super flu’, termasuk memberikan peringatan dini kepada publik. Ia menegaskan bahwa ‘super flu’ merupakan penyakit yang membahayakan, terbukti dengan adanya korban jiwa.

“Dengan bukti ada yang meninggal, super flu termasuk penyakit yang membahayakan,” ucapnya.

Advertisement

RSHS Bandung Laporkan 10 Kasus, Satu Pasien Meninggal

Sebelumnya, RSHS Bandung melaporkan telah menangani 10 pasien yang menunjukkan gejala Influenza A H3N2 subclade K. Satu pasien dilaporkan meninggal dunia karena memiliki riwayat penyakit bawaan yang berat.

Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging (Pinere) RSHS Bandung, dr. Yovita Hartantri, menjelaskan bahwa timnya telah memeriksa sejumlah pasien yang diduga terpapar ‘super flu’ sejak Agustus hingga November 2025. Kasus ini dipastikan mengalami penurunan pada November 2025.

“Dari semua sampel yang kami kerjakan dan kita periksa, kami baru dapat data di Januari ini. Nah itu ada 10 kasus yang dinyatakan Influenza A H3N2 subclade K,” kata dr. Yovita di Auditorium Gedung MCHC RSHS Bandung, Kamis (8/1/2026).

Dari hasil peninjauan, 10 kasus tersebut menimpa pasien dengan rentang usia yang beragam, mulai dari bayi usia 9 bulan dan 1 tahun, pasien usia 11 tahun, hingga mayoritas pasien berusia 20-60 tahun. Dua pasien menunjukkan kondisi berat, satu dirawat di ruang high care unit (HCU) dan satu lagi di ruang intensif.

“Kalau kita lihat dari data yang ada, itu ada dua yang berat. Satu masuk ke ruang high cap dan satu masuk ke ruang intensif. Dan satu yang masuk ke ruang intensif memang terus dinyatakan meninggal karena disebabkan ada komorbid yang lain,” ungkap dr. Yovita.

Ia menambahkan, pasien yang meninggal tersebut memiliki riwayat komorbid seperti stroke, gagal jantung, infeksi, dan gagal ginjal. “Ada strok, ada gagal jantung, dan terakhir karena ada infeksi dan ada gagal ginjal juga. Jadi apakah itu langsung disebabkan oleh virus? Kita tidak bisa menyatakan karena memang dia mungkin komorbid yang banyak,” imbuhnya.

Advertisement