Berita

Pakar: Serangan AS ke Venezuela dan Penangkapan Maduro Berpotensi Pengaruhi Harga BBM dan Rupiah

Advertisement

Dosen Hubungan Internasional President University, Teuku Rezasyah, menilai serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela yang berujung pada penculikan Presiden Nicolas Maduro menunjukkan kerentanan negara tersebut. Ia mempertanyakan bagaimana seorang presiden dapat ditangkap tanpa perlawanan berarti.

Kerapuhan Negara dan Lingkaran Kekuasaan

“Karena sulit dimengerti jika seorang presiden, dengan pengamanan berlapis dan aparatus negara yang lengkap, bisa ditangkap tanpa perlawanan berarti. Artinya, mata dan telinga aparatur negara telah dibutakan dan ditumpulkan. Dalam hal ini, kalangan terdekat pemerintah telah mendiamkan proses yang terjadi dan menikmati kejatuhan tersebut,” ujar Rezasyah kepada wartawan, Senin (5/1/2025).

Menurutnya, hal ini menyebabkan tidak adanya perlawanan militer nasional Venezuela untuk mempertahankan Presiden Maduro. Rezasyah menekankan bahwa kejadian ini seharusnya menjadi pembelajaran bagi komunitas internasional.

“Bagi kalangan internasional, hendaknya menjadi pelajaran bersama. Ancaman terbesar bagi sebuah negara bukan selalu musuh di luar, melainkan keraguan di dalam lingkaran kekuasaan itu sendiri, yang merasa dirinya telah stabil,” ucapnya.

Dampak Ekonomi dan Keamanan bagi Indonesia

Lebih lanjut, Rezasyah membeberkan potensi dampak serangan AS ke Venezuela terhadap Indonesia, mulai dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Harga minyak dunia akan menaik. Sesuai hukum permintaan dan penawaran/demand dan supply, keadaan ini akan mempengaruhi harga minyak di Indonesia. Akan berdampak pada semakin lebarnya defisit APBN. Jika pemerintah menaikkan harga BBM, maka akan berakibat terjadinya instabilitas politik,” jelas Rezasyah.

Ia menambahkan, “Nilai tukar rupiah terhadap dolar diperkirakan akan mengalami penurunan sampai 17.000-18.000 ribu/dolar.”

Advertisement

Selain itu, Rezasyah juga menyoroti potensi dampak pada pertahanan dan keamanan dalam negeri. Ia menduga AS berpotensi mengulangi kebijakan serupa di Kawasan Indo-Pasifik terhadap negara-negara yang memiliki pandangan berbeda di bidang ekonomi dan energi.

“AS memiliki banyak pangkalan militer di Indo-Pasifik dan juga di Asia Tenggara. RI hendaknya menyikapi keadaan ini dengan sangat baik. Mengawasi perbatasan darat, laut, dan udara. Agar tidak diganggu oleh berbagai aksi yang mengganggu pertahanan dan keamanan nasional,” imbuhnya.

Latar Belakang Operasi AS di Venezuela

Serangan besar-besaran AS ke sejumlah titik di Venezuela yang diikuti penangkapan Presiden Nicolas Maduro merupakan puncak dari tekanan berbulan-bulan oleh pemerintahan Trump. AS menuding Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah dan bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS terkait penggunaan narkoba ilegal.

Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap pada Sabtu (3/1) dini hari setelah serangan pasukan AS. Sejak September 2025, pasukan AS dilaporkan telah melakukan lebih dari 30 serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba dari Venezuela di Karibia dan Pasifik, yang menewaskan lebih dari 100 orang.

Para ahli hukum menilai aksi AS tersebut kemungkinan melanggar hukum AS dan internasional.

Advertisement