Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin memuncak, dengan potensi perang terbuka yang kian mendekati kenyataan. Pakar hubungan internasional, Teuku Rezasyah, menilai konflik ini sulit dihindarkan mengingat AS telah mengerahkan dua kapal induknya ke Timur Tengah sebagai sinyal keseriusan.
Perang Terbuka Kian Dekat
“Perang terbuka diperkirakan dapat terjadi setiap saat. Dalam skenario AS, Iran telah ditempatkan sebagai sebuah bola dalam meja bilyard, yang dapat ditaklukkan dengan mudah. Iran diperkirakan tidak akan takluk dan akan konsisten mempertahankan haknya memperkaya uranium yang terus diprosesnya secara rahasia guna tujuan damai,” ujar Teuku Rezasyah saat dihubungi, Senin (23/2/2026).
Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjajaran ini menambahkan bahwa gesekan antara Iran dan AS akan berdampak signifikan pada stabilitas kawasan Timur Tengah. Iran diprediksi akan mengambil posisi bertahan, namun telah menyiapkan rudal balistik yang siap diarahkan ke pangkalan militer AS.
“Bagi Iran, perang ini adalah suci. Karena mempertahankan maruah Islam dan menjaga kredibilitas Republik Islam Iran, melawan Amerika Serikat yang dalam pandangan Iran adalah setan besar, atau syaitanul akbar yang sangat merusak perdamaian dunia,” jelas Teuku.
Sikap Ideal Indonesia
Menghadapi potensi konflik ini, Teuku menekankan pentingnya Indonesia berpegang teguh pada prinsip politik luar negeri bebas aktif. Pemerintah Indonesia wajib bersikap netral dan tidak memihak jika perang benar-benar meletus.
Selain itu, Indonesia harus mampu mengamankan seluruh wilayahnya, baik udara, darat, maupun laut, untuk mencegah spionase dan penyelundupan senjata.
“RI dengan sumber dayanya yang terbatas segera mengendalikan ruang-ruang udara, darat, dan laut di seluruh wilayah nasional RI. Sehingga terbebaskan dari penyusupan sipil bersenjata, penyelundupan senjata, spionase di perbatasan, dan perang elektronik,” tegas Teuku.
Inisiatif Diplomasi dan Penguatan Keamanan Nasional
Teuku juga mendorong Indonesia untuk berani mengambil inisiatif dalam jalur diplomasi dengan mendesak diadakannya sidang istimewa Dewan Keamanan PBB. Penguatan sistem keamanan nasional juga menjadi krusial agar wilayah Indonesia tidak dijadikan sasaran baru oleh pihak yang ingin memperluas medan perang.
“RI menyelenggarakan sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta, dengan melibatkan TNI, Polri, Komcad, rakyat terlatih dan pertahanan sipil. Tujuannya adalah mencegah dijadikannya RI sebagai target baru oleh pihak-pihak mana pun yang ingin memperluas medan perang dengan melibatkan Indonesia,” pungkasnya.





