Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul meresmikan 166 Sekolah Rakyat (SR) yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Program ini merupakan gagasan langsung Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan memutus rantai kemiskinan.
Sekolah Rakyat Tampung Ribuan Siswa
Dalam peresmian yang digelar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada Senin (12/1/2026), Gus Ipul memaparkan bahwa 166 Sekolah Rakyat tersebut telah menampung total 15.954 siswa. Selain itu, terdapat 2.218 guru dan 4.889 tenaga kependidikan yang terlibat dalam program ini.
“Total 166 titik yang tersebar di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota di Indonesia. Keseluruhannya menampung 15.954 siswa, 2.218 guru, dan 4.889 tenaga kependidikan,” ujar Gus Ipul.
Gagasan Presiden Prabowo untuk Atasi Kemiskinan
Gus Ipul menjelaskan bahwa penyelenggaraan Sekolah Rakyat sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet pada 20 Oktober 2025. Presiden Prabowo menekankan pentingnya Sekolah Rakyat sebagai upaya memutus rantai kemiskinan yang seringkali turun-temurun.
“Mengutip arahan presiden pada Sidang Kabinet 20 Oktober 2025, bahwa Sekolah Rakyat kita rancang sebagai upaya untuk memotong rantai kemiskinan. Biasanya anak orang miskin, anaknya miskin. Kita harus berani mengubah, kita tidak boleh menyerah pada keadaan,” kata Gus Ipul menirukan arahan Presiden Prabowo.
Fokus pada Siswa dari Keluarga Rentan
Sekolah Rakyat memprioritaskan penerimaan siswa dari keluarga rentan dan kelompok ekonomi rendah. Banyak dari mereka yang seringkali tidak terlihat penderitaannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Mereka yang bisa digolongkan sebagai the invisible people seringkali kita tidak melihat dan merasakan penderitaan mereka. Untuk itu kami berusaha menerjemahkan penyelenggaraan SR dengan melakukan penjangkauan kepada mereka dari keluarga paling tidak mampu,” jelasnya.
Data menunjukkan bahwa 60% siswa SR berasal dari orang tua yang bekerja sebagai buruh, baik buruh harian lepas, buruh bangunan, buruh tani, buruh nelayan, tukang ojek, pencari rumput, maupun pemulung.
Lebih lanjut, Gus Ipul merinci bahwa mayoritas orang tua siswa SR memiliki penghasilan tidak tetap, dengan 67% berpenghasilan di bawah Rp 1 juta per bulan. Sebanyak 65% keluarga siswa juga memiliki tanggungan lebih dari empat orang.
Kondisi Siswa yang Memperihatinkan
Program ini juga menjangkau anak-anak yang belum pernah mengenyam bangku pendidikan, yang jumlahnya mencapai 454 siswa. Sebanyak 298 siswa sebelumnya mengalami putus sekolah, bahkan sebagian dari mereka sudah bekerja di usia muda.
“Kami juga menemukan kenyataan yang lebih sunyi, banyak anak berasal dari orang tua tunggal bahkan dengan mengalami kekerasan dalam rumah tangga,” ungkap Gus Ipul.
Proses Rekrutmen dan Dukungan
Proses rekrutmen siswa dilakukan secara cermat melalui pengecekan kondisi lapangan bersama pendamping sosial, dinas sosial daerah, dan Badan Pusat Statistik (BPS). Persetujuan dari kepala daerah menjadi langkah akhir sebelum siswa ditetapkan.
Peresmian 166 Sekolah Rakyat ini didukung oleh Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Kementerian Pekerjaan Umum, dan PT Pos Indonesia.






