Berita

Mendagri Tito Karnavian Ungkap Keterpencilan Jadi Tantangan Terberat Pemulihan Pascabencana Sumatera

Advertisement

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) M. Tito Karnavian mengungkapkan bahwa tantangan terberat dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumatera adalah faktor keterpencilan wilayah. Hal ini disampaikan Tito, yang juga menjabat sebagai Kasatgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, pada Sabtu (7/2/2026).

Tantangan Keterpencilan dan Magnitude Bencana

“Keterpencilan, itu yang agak sulit keterpencilan. Kedua, magnitude,” ujar Tito kepada detikcom. Ia menjelaskan bahwa proses pemulihan di Sumatera Barat (Sumbar) menunjukkan progres yang lebih cepat dibandingkan Aceh dan Sumatera Utara. Hal ini disebabkan oleh jumlah titik terdampak bencana di Sumbar yang lebih sedikit.

“Kalau Sumbar saya lihat progresnya paling cepat, karena dampak yang mungkin dari tiga provinsi magnitude -nya paling rendah di Sumbar. Tapi, dari 16 yang terdampak itu, ada 4 daerah yang tidak mengusulkan penggantian atau usulan bantuan kerusakan rumah, itu ada 4 daerah, karena mereka hanya banjir,” jelas Tito.

Ia mengapresiasi penanganan yang dilakukan oleh para bupati dan wali kota di empat daerah tersebut, yaitu Bupati Mentawai, Solok Selatan, Kota Bukittinggi, dan Sawahlunto, yang berhasil menangani dampak banjir tanpa memerlukan usulan bantuan kerusakan rumah.

Fokus Pemulihan di Sumatera Barat

Meskipun demikian, Tito menekankan bahwa pemerintah masih memfokuskan perhatian pada wilayah-wilayah di Sumbar yang terdampak paling parah. Ia memastikan upaya pemulihan terus dilakukan di wilayah utara Sumatera.

“Jadi kita fokus sementara ini sangat fokus pada Kabupaten Agam dan Kabupaten Pariaman, ditambah lagi Tanah Datar. Artinya, dari 16 tadi di Sumatera Barat ya, yang sudah kembali normal itu adalah 12, normal betul, sudah betul-betul normal, mulai dari pemerintahannya jalan, kemudian akses jalan daratnya sudah terbuka,” paparnya.

Advertisement

Tito menambahkan bahwa ada dua daerah di Sumbar yang kondisinya mendekati normal, yaitu Tanah Datar dan Pesisir Selatan. Kedua daerah ini masih memiliki beberapa masalah yang sedang dalam proses penyelesaian oleh pemerintah.

“Kemudian saya minta maaf untuk 50 Kota ada masalah, tapi kita selesaikan juga terutama masalah pengungsi,” ucapnya.

Kondisi Sumatera Utara dan Aceh

Mantan Kapolri ini juga memaparkan kondisi di Sumatera Utara. Dari 18 kabupaten yang ada, 14 di antaranya dilaporkan telah kembali normal. Namun, perhatian khusus masih diperlukan untuk Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara yang mengalami terjangan lumpur dahsyat.

Di wilayah Aceh, sebanyak 11 daerah dilaporkan telah normal, dan satu daerah lainnya mendekati normal. Enam titik yang masih menjadi atensi pemerintah adalah Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Pidie Jaya, dan Aceh Tengah.

“Aceh Tamiang ini terberat, lumpurnya luar biasa, dari Aceh Timur dan Gayo Lues turun ke sungai Aceh Tamiang dan meluap sehingga menimbun kota, itu pemerintahan satu-satu yang belum berjalan normal penuh, dan betul-betul lumpuh total, pemkab di Aceh Tamiang. Kedua di Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Pidie Jaya, dan gunungnya utamanya di Aceh Tengah, ini 6 atensi kami,” pungkas Tito.

Advertisement