Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, meresmikan Pengembangan Situs Candi Plaosan Tahap I pada Kamis (22/1/2026). Acara ini menandai dimulainya penataan kawasan bersejarah tersebut di bawah pengelolaan Museum Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan (Kemenbud).
Penguatan Makna Budaya dan Layanan Publik
Fadli Zon menyampaikan bahwa pengembangan tahap pertama ini merupakan bagian dari upaya peningkatan layanan publik sekaligus penguatan makna budaya Candi Plaosan. Ia menegaskan peran strategis cagar budaya dalam menjaga identitas dan keberlanjutan kebudayaan bangsa.
“Dengan semakin tertatanya lanskap Candi Plaosan, harapannya akan menarik masyarakat untuk berkunjung dan memetik nilai-nilai dari Candi Plaosan sebagai warisan leluhur yang sarat makna, karena cagar budaya merupakan manifestasi fisik peradaban dan sejarah bangsa yang memiliki nilai penting bagi pemahaman identitas, kontinuitas budaya, dan pembentukan jati diri bangsa,” tegas Fadli Zon.
Kolaborasi Publik-Swasta dalam Pelestarian
Proses pengembangan Candi Plaosan ini juga mendapat dukungan dari Djarum Foundation, yang menjadi contoh hasil public-private partnership dalam pelestarian Cagar Budaya Nasional.
“Terima kasih atas dukungannya, juga satu komitmen, bahwa membangun atau memajukan kebudayaan itu tidak hanya dari pemerintah pusat, provinsi, atau kabupaten/kota, tetapi juga dari sektor swasta, korporasi, filantropis, dan juga komunitas budaya yang ada di sini,” tutur Fadli Zon.
Lebih lanjut, Fadli Zon mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk pelibatan siswa SMK dalam program pemugaran.
“Kita harapkan ke depan program pelindungan kebudayaan dan tradisi dapat bekerjasama dengan private sector hingga pelibatan pelajar SMK untuk workshop tentang pemugaran,” ujar Fadli Zon.
Penataan Bertahap dan Pemanfaatan Candi Plaosan
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin, menjelaskan bahwa pengembangan tahap 1 ini berfokus pada penataan yang tertib dan representatif tanpa mengurangi prinsip pelestarian.
“Pengembangan ini merupakan bagian awal dari rencana penataan kawasan Candi Plaosan secara bertahap, yang ke depan akan mencakup penataan lanskap, area publik, dan zona pendukung lainnya,” jelasnya.
Dalam rencana pemanfaatannya, Candi Plaosan akan dilengkapi layanan utama berupa ticketing dan pemanduan. Selain itu, akan tersedia berbagai layanan penunjang, seperti:
- Sewa tempat untuk kegiatan outing, outbound, dan agenda budaya.
- Paket wisata tematik (heritage trail, wellness, panorama matahari terbit/terbenam, jamuan makan).
- Layanan seni pertunjukan tradisional, kontemporer, dan religi.
- Layanan minat khusus (dokumentasi, pernikahan, seremoni adat, aktivitas agro/ekowisata).
Penataan lanskap kawasan Candi Plaosan mencakup area inti candi, area sakral, ruang publik, pintu masuk, area parkir, hingga kawasan pendukung lainnya.
Harapan Menjadi Ikon Budaya Indonesia
Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, berharap Candi Plaosan dapat menjadi ikon keunikan budaya Indonesia yang dikenal dunia.
“Dengan dikembangkannya Candi Plaosan, semoga nantinya bisa menjadi ikon Indonesia untuk kemudian dunia karena disini ada keunikan yang tidak dimiliki di Candi yang lain,” ungkapnya.
Kemenbud berharap kolaborasi lintas sektor ini dapat terus diperluas untuk melestarikan cagar budaya di Indonesia.
Peresmian ini dihadiri oleh Staf Khusus Menteri Kebudayaan, perwakilan Ditjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Ketua Asosiasi Museum Indonesia, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X, perwakilan Djarum Foundation, dan sineas Garin Nugroho.






