Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, menerima gelar doktor kehormatan (honoris causa) ke-11 dari Princess Naurah University (PNU) di Riyadh, Arab Saudi, pada Senin (9/2/2026). Penghargaan ini memiliki makna mendalam bagi Megawati karena PNU merupakan universitas perempuan terbesar di dunia.
Pengakuan Perjuangan Perempuan
Dalam pidatonya di kampus PNU, Megawati menyatakan bahwa anugerah doktor kehormatan ini merupakan gelar kesebelas yang diterimanya, melengkapi tiga gelar profesor kehormatan dari berbagai institusi pendidikan tinggi di dalam dan luar negeri.
Megawati memaknai penghargaan tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan sebagai pengakuan atas nilai-nilai perjuangan perempuan dalam ranah pemerintahan dan kehidupan bernegara. “Penghargaan ini adalah pengakuan bahwa perempuan memiliki tempat yang terhormat dalam membangun negara dan peradaban,” ujar Megawati.
Negara dan Peradaban Berkeadilan
Lebih lanjut, Megawati menekankan bahwa tema pemberdayaan perempuan dalam pemerintahan yang disampaikannya dalam pidato pengukuhan, terkait erat dengan pemahaman negara mengenai keadilan dan upaya menjaga keberlanjutan peradaban.
“Negara tidak boleh dipahami semata sebagai struktur administratif. Negara adalah peradaban yang hidup, yang bertumpu pada nilai, sejarah, dan tanggung jawab moral,” jelas Megawati.
Ia menambahkan, sejarah telah membuktikan bahwa peradaban yang menyingkirkan perempuan dari proses pengambilan keputusan akan kehilangan keseimbangan. Menurut Megawati, negara yang besar adalah negara yang mampu menghimpun seluruh potensi kemanusiaannya.
“Negara yang kuat adalah negara yang tidak membiarkan separuh dari kekuatan sosialnya berada di pinggir sejarah,” tegasnya.
Sebelumnya, Megawati telah menerima 10 gelar doktor kehormatan dan 3 gelar profesor kehormatan dari berbagai universitas. Pemberian gelar dari Riyadh ini menambah panjang daftar apresiasi akademik yang telah diraih oleh presiden ke-5 RI tersebut.






