Abu Dhabi – Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, menghadiri rangkaian agenda Zayed Award 2026 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), dengan menyuarakan sejumlah isu penting mulai dari perdamaian, lingkungan, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Pesan Keteguhan dan Keberanian
Sebelum mengikuti agenda utama, Megawati mengunjungi kantor KBRI Abu Dhabi pada Senin (2/2/2026) dan bertemu Duta Besar Indonesia untuk UEA, Judha Nugraha. Dalam buku tamu, Megawati menuliskan pesan yang menekankan pentingnya keyakinan, keteguhan, keberanian, dan kesabaran bagi bangsa Indonesia dalam membangun negara.
“MERDEKA. Sebagai bangsa Indonesia kita selalu harus punya keyakinan, keteguhan, keberanian, kesabaran dalam membangun negara kita tercinta,” tulis Megawati. “Karena perjuangan kita memerdekaan Indonesia Sejati belum selesai.”
Mengenalkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika
Pada forum Majelis Persaudaraan Manusia Zayed Award 2026 di Museum Nasional Zayed, Abu Dhabi, Selasa (3/2), Megawati memaparkan falsafah Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika kepada forum internasional.
“Dengan falsafah Pancasila yang bergotong royong dan ajaran Trisakti, bangsa kami memiliki semboyan juga ‘Bhinneka Tunggal Ika’, yang artinya meski kami berbeda-beda suku, agama, etnis, dan sebagainya, namun kami tetap memiliki satu tujuan yaitu yang disebut Indonesia Raya,” ujar Megawati.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar memiliki sekitar 17.000 pulau, 1.300 etnis, ratusan bahasa daerah, enam agama, serta puluhan aliran kepercayaan. Megawati menekankan bahwa spirit gotong royong dalam Pancasila menjadi perekat bangsa yang beragam tersebut.
“Gotong royong itulah yang telah membuat bangsa Indonesia yang beragam-ragam latar belakangnya itu dapat bersatu dan membangun negara dengan perlakuan dan hak yang sama di mata hukum dan pemerintahan bangsa kami,” tambahnya.
Potensi Kerja Sama Riset dengan UEA
Dalam rangkaian Zayed Award, Megawati bertemu dengan Putra Mahkota Abu Dhabi UEA, Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, pada Rabu (4/2). Pertemuan tersebut membuka potensi kerja sama riset antara Indonesia dan UEA.
Megawati menyampaikan ketertarikan Pangeran Khaled untuk mendalami berbagai kemungkinan kerja sama, termasuk di bidang riset yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Jadi beliau rupanya mempunyai ketertarikan dan sangat berkeinginan untuk lebih memperdalam masalah apa saja kemungkinan yang kalau nanti (kerja sama), belum menjadi ini, tapi tadi saya harus menceritakan bahwa di BRIN itu ada 12 bagian. Itu dari masalah pangan, ada masalah humaniora, dan lain sebagainya,” kata Megawati.
Megawati juga menyinggung teknologi distilasi air laut yang dikembangkan UEA sebagai salah satu bentuk kerja sama riset yang potensial.
Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu dihadiri pula oleh Muhammad Prananda Prabowo, Nancy Prananda, Dubes RI untuk Tunisia Zuhairi Misrawi, dan Kepala Badan Riset & Analisis Kebijakan Strategis PDIP Andi Widjajanto. Megawati berharap hubungan kedua negara semakin erat.
Menyerukan Pesan Damai dan Toleransi
Pertemuan Megawati dengan Pangeran Khaled juga menjadi momentum untuk menyerukan pesan perdamaian dan toleransi global. Zuhairi Misrawi menjelaskan bahwa kedua tokoh sepakat pentingnya toleransi dan persaudaraan kemanusiaan sebagai fondasi kemajuan bangsa.
“Ibu Megawati menegaskan bahwa toleransi yang kokoh di Indonesia melalui falsafah Bhinneka Tunggal Ika menjadi kekuatan utama dalam membangun persatuan kebangsaan,” ujar Zuhairi mengutip Megawati.
Megawati menilai UEA memiliki kesamaan visi dalam menjadikan toleransi sebagai falsafah pembangunan bangsa, sehingga perlu kerja sama konkret untuk menjadikannya kekuatan global.
Soroti Isu Lingkungan hingga Ancaman AI
Pada diskusi meja bundar Zayed Award for Human Fraternity Roundtable 2026, Megawati menyoroti isu lingkungan dan menyerukan perdamaian dunia.
“Dari semua pembicaraan yang saya dengar, memang mereka berkeinginan bahwa mereka semua merasakan bahwa bagaimana dunia ini sepertinya akan mulai melupakan sebetulnya kehidupan kita itu satu… satu bumi. Dan seharusnya mestinya sudah selesai, tidak ada perang. Yang ada harusnya diteruskan dengan perdamaian. Dan itu tentunya juga masuk ke dalam peran wanita,” kata Megawati.
Ia juga mengaitkan nilai-nilai Pancasila, terutama kemanusiaan, dengan isu human fraternity.
Lebih lanjut, Megawati menyoroti perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) yang membawa kemajuan sekaligus ancaman. Ia khawatir AI dapat disalahgunakan untuk penipuan jika tidak ada perlindungan hukum yang nyata.
“Karena ternyata sudah banyak juga dari kalangan mereka mengatakan itu bagus, tetapi yang sangat dikhawatirkan kalau tidak ada sebuah perlindungan yang nyata, tentunya artinya itu harus melalui masalah hukum, maka takutnya itu malah bisa menjadi merusak,” ujarnya.
Megawati mendorong lembaga internasional seperti PBB untuk turun tangan dalam mengatasi masalah yang timbul akibat perkembangan AI, termasuk melalui hukum internasional.






