Jenazah pramugari korban kecelakaan pesawat ATR 42-500, Florencia Lolita Wibisono alias Olen (33), akan dimakamkan di Tondano, Manado, Sulawesi Utara. Keluarga telah melepas kepergian Olen yang menjadi salah satu dari tujuh korban tewas dalam insiden tersebut.
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) siang dalam penerbangan rute Yogyakarta-Makassar. Puing-puing pesawat ditemukan di lereng Gunung Bulusaruang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Minggu (18/1). Hingga kini, pencarian enam korban lainnya masih terus berlanjut.
Jenazah Olen teridentifikasi dan diserahkan kepada keluarga pada Rabu (21/1) di kantor Biddokes Polda Sulawesi Selatan, Makassar. Setelah itu, jenazah diterbangkan ke Jakarta dan disemayamkan di rumah duka Grand Heaven Pluit, Jakarta Utara, sebelum akhirnya dibawa ke Manado pada Kamis malam.
Pemakaman di Tanah Kelahiran
Kakak ipar Olen, Felix Agoes, menyatakan keluarga sepakat memakamkan jenazah Olen di Tondano, Manado, tempat Olen tumbuh besar. Acara pemakaman dijadwalkan pada Sabtu (24/1/2026).
“Dimakamkannya di Tondano, di Manado. Karena memang Olen besarnya lama di sana. Jadi ada di Tondano,” kata Felix kepada wartawan di rumah duka, Kamis (22/1/2026).
Di Manado, pihak keluarga akan kembali menggelar ibadah dan penghormatan terakhir sebelum pemakaman.
“Kami akan bawa nanti malam dengan kargo lagi untuk ke sana, dan kami beberapa keluarga juga mewakili untuk ada di sana besok,” ujar Felix. “Ada ibadah lagi sehingga hari Sabtu baru pemakamannya,” tambahnya.
Keluarga Berharap dan Berdoa
Felix menceritakan kronologi penemuan jasad Olen. Pihak keluarga berangkat ke Makassar pada Minggu (18/1) dan difasilitasi oleh maskapai IAT.
“Sehingga hari Seninnya, itu hari kedua kami ada di sana. Kami berdoa bersama-sama sebagai keluarga. Ada Papa, mamanya Olen, dan ada kakaknya juga. Kami berdoa bersama,” sambung Felix.
Tak lama setelah doa bersama pada Senin siang, keluarga mendapat kabar penemuan jasad kedua berjenis kelamin perempuan. Meski belum teridentifikasi, keluarga meyakini jasad tersebut adalah Olen.
“Walaupun belum secara detail itu ciri-cirinya seperti apa, tapi mungkin batin ya, secara batin kami kayak merasa itu Olen. Dan kami menunggu semuanya,” ujarnya.
Evakuasi jasad pada hari Senin terhambat cuaca buruk, medan terjal, dan kabut. Jasad perempuan tersebut baru dapat dievakuasi melalui jalur darat pada Selasa (20/1) setelah modifikasi cuaca dilakukan. Jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk identifikasi.
“Dan dikabarinnya kami baru keesokan paginya. Jadi hari keempat malam itu sampai di Bhayangkara Rumah Sakit. Paginya kami dapat kabar kepastian kalau itu Olen. Sehingga kami sekeluarga langsung ke sana. Ngadain penutupan peti dan lain-lain. Sehingga ada penyerahan dari Polda ke kami,” ucap Felix.
Sosok Olen yang Ceria dan Suka Membantu
Kakak Olen, Natasya Wibisono, mengenang adiknya sebagai pribadi yang ceria dan gemar menolong.
“Adik aku itu sosok yang ceria. Dia suka bantu orang. Walaupun mungkin dia nggak ada, dia selalu usahakan untuk orang lain,” kata Natasya di Rumah Duka Grand Heaven Pluit, Jakarta Utara, Kamis (22/1/2026).
Natasya mengungkapkan rasa terima kasih atas doa kerabat dan berupaya belajar ikhlas atas kepergian adiknya.
“Walaupun sampai dia nggak ada, saya masih nggak percaya. Tapi belajar untuk terima, ikhlas. Banyak komen yang masuk yang mungkin saya nggak bisa lihat satu-satu. Cuma sekilas-sekilas. Tapi semua orang bilang dia adalah sosok yang baik,” ujarnya.
Olen baru tiga bulan bekerja di Indonesia Air Transport. Natasya menyebut Olen sangat bahagia di tempat kerja barunya dan sering bercerita tentang rekan-rekan yang baik.
“Mungkin dia baru pindah tiga bulan belakangan di Indonesia Air Transport. Tapi hampir setiap hari hubungi saya. Dia cerita, gimana dia happy di sana. Ketemu banyak orang baik,” imbuhnya.






