Wakapolsek Susut, Polres Bangli, Polda Bali, Ipda I Nyoman Subamia, diusulkan menjadi kandidat Hoegeng Awards 2026 berkat inisiatifnya mengajak petani setempat membudidayakan jahe gajah dan mengembangkan pupuk kompos. Inisiatif ini disambut positif oleh warga, terbukti dengan peningkatan ekonomi yang dirasakan.
Salah seorang warga, I Nengah Sudiasa, mengungkapkan dampak positif dari aksi Ipda Subamia. “Dampaknya sangat baik ke masyarakat terutama untuk saya sendiri dapat bekerja,” ujar Sudiasa kepada detikcom, Selasa (10/2/2026). Ia menambahkan bahwa Ipda Subamia kerap meluangkan waktu selepas dinas untuk membantu petani yang mayoritas berprofesi sebagai petani.
Petani seringkali berkonsultasi kepada Ipda Subamia mengenai teknik budidaya jahe gajah agar mendapatkan hasil panen yang optimal. “Beliau juga sering mengajarkan teknis, karena mayoritas di desa tanam jahe. Pak Subamia kalau tetangga ke kebun minta saran gimana caranya memelihara, pupuk apa yang dipakai, penyemprotannya gimana,” jelas Sudiasa.
Pengembangan pupuk kompos menjadi salah satu fokus Ipda Subamia dalam mendukung pertanian. Pembuatan pupuk kompos ini bahkan menggandeng salah satu kampus di Bali. “Pupuk dari kompos dan dari kimia juga, penyemprotan dari kimianya. Awalnya pengomposan untuk tanahnya, kalau udah berhasil udah tumbuh baru kimia dipakai,” terang Sudiasa.
Bagi Sudiasa, Ipda Subamia adalah sosok yang sangat membantu. “Orangnya kalau menurut saya baik, kadang habis dari ngantor langsung ke kebunnya,” tuturnya.
Beri Pendampingan Teknis
Ardana, anggota kelompok tani setempat, mengapresiasi pendampingan teknis yang diberikan Ipda Subamia. Ia menjelaskan bahwa Ipda Subamia membina petani mulai dari pengolahan lahan, pemilihan bibit, perawatan, hingga pasca panen.
“Kebetulan beliau sebagai pendamping teknis di lapangan untuk di kelompok kami. Dari mulai pra-pengolahan lahan, itu harus ada tindakan yang harus didampingi petani, terutama petani yang pemula di budidaya jahe harus didampingi dari awal, dari pengolahan lahan, pemilihan bibit, setelah budidaya, perawatan sampai pasca panen itu perlu ada pendampingan,” kata Ardana kepada detikcom.
Ardana menyebutkan bahwa jahe gajah merupakan komoditas utama petani di desanya, dengan hasil panen yang cukup memuaskan. “Kalau untuk jahe itu sendiri per rumpun itu minimal sudah menghasilkan 3-4 kilo, jadi kalau 1 kg bibit bisa menghasilkan sekitar 15-16 kg,” ungkapnya.
Kelompok tani juga diajarkan cara menggunakan pupuk kompos yang diformulasikan khusus untuk budidaya jahe gajah. “Pupuk utama wajib itu untuk pra-tanam itu pupuk kompos. Pak Subamia sudah menerapkan kompos yang tidak menggunakan pupuk mentah, jadi sebelum tanam pupuknya difermentasi dulu dan sudah menjadi standar di kelompok kita, karena itu untuk ketahanan dari tanaman jahe itu sendiri dan juga untuk menjaga hara tanah, karena untuk pemakaian pupuk mentah juga tidak bagus walaupun itu organik,” jelas Ardana.
Hobi Pertanian Sejak SMA
Ipda Subamia mengaku memiliki hobi di bidang pertanian sejak duduk di bangku SMA. Hobi ini terus ia tekuni hingga menjadi anggota kepolisian. Pada tahun 2017, saat menjabat sebagai Bhabinkamtibmas di Desa Tiga, ia mulai mengajak warga mengembangkan jahe gajah karena kesederhanaan penanaman dan nilai jualnya yang tinggi.
“Cara penanamannya sama, tapi mungkin dari hasil itu yang berbeda, karena kalau jahe gajah itu pemeliharannya sangat gampang, terus hasilnya mungkin daripada jahe biasa itu 10 kali lipat lebih tinggi,” ujar Subamia.
Ia menambahkan bahwa dampak budidaya jahe gajah sangat signifikan, bahkan petani bisa meraup keuntungan puluhan juta rupiah saat panen. “Kadang-kadang ada warga yang sampai dapat penjualan puluhan juta ya dari penjualan jahe gajah. Sehingga berdampak positif sehingga terjadi pengurangan terhadap pengangguran ataupun kriminal lainnya,” tutur Subamia.
Luas lahan jahe warga bervariasi, mulai dari 3 hingga 10 are, dengan kebutuhan bibit sekitar 20 kg per are. Hasil panen per are bisa mencapai 300 kg. “Untuk petani paling setahun itu menghasilkan 5 ton, kalau ada yang saya ajak 2 orang itu sampai 20-30 ton, itulah dikali Rp 15 ribu/kg, per sebelas bulan kalau panen tua, kalau panen muda 6 bulan,” jelasnya.
Subamia menceritakan salah satu petani binaannya berhasil meraup omzet hingga Rp 1 miliar. “Kemarin itu ada saya arahkan satu orang itu sampai dapat Rp 1 M dia, karena produksinya dia dapat cuaca bagus, hasilnya bagus, harga bagus,” ungkapnya.
Harga jahe gajah pernah melonjak drastis saat pandemi COVID-19, mencapai Rp 40.000 per kg. Bahkan, jahe merah sempat ia jual seharga Rp 100.000 per kg.
Sebelum budidaya jahe gajah marak, mata pencarian utama penduduk setempat adalah bertani jeruk dan padi, serta beternak ayam. Ipda Subamia mendorong petani untuk memanfaatkan sebagian lahan mereka untuk menanam jahe gajah demi hasil yang lebih menjanjikan. “Kalau di sini banyak, mungkin ada, dari Desa Tiga masing-masing tanam jahe, penduduknya 7.000 sekianlah,” jelasnya.
Budidaya jahe gajah ini terbukti meningkatkan taraf hidup warga. “Warga masyarakat bisa memperbaiki rumah setelah ikut budi daya gajah yang kedua kalinya,” ucap Subamia.
Jadi Narsum Budidaya Jahe
Berkat kiprahnya di bidang jahe gajah, Ipda Subamia sempat dikirim ke Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mengikuti pelatihan. Sejak saat itu, ia menjadi narasumber rutin dalam program ketahanan pangan Polda Bali setiap tahunnya.
“Memang kita sempat dikirim pelatihan ke Institut Pertanian Bogor dulu, tapi memang sebelumnya otodidak. Kita di Polda memang kita jadi narasumbernya, sudah lima tahun berjalan untuk program budidaya jahe gajah. Rutin (jadi narsum) tiap tahun di bulan 8, bulan 9, pas musim tanam jahe,” ungkapnya.
Saat ini, Ipda Subamia juga dipercaya untuk membantu program ketahanan pangan Polri dengan menyiapkan lahan seluas 2 hektare untuk menanam jagung.
“Untuk jagung rencana kita tanam 2 hektare untuk kita di Polrinya. Kita juga ke masyarakat, banyak kalau masyarakat nanti kita kerahkan Bhabinnya untuk tanam jagung juga,” jelasnya.
Gandeng Kampus Kembangkan Pupuk Kompos
Dalam pengembangan budidaya jahe gajah, Ipda Subamia memanfaatkan pupuk kompos dari peternakan warga setempat. Ia menggandeng Universitas Mahasaraswati Denpasar untuk proses pembuatan kompos.
“Pupuk organik kita ambil dari peternak, dan kerja sama Universitas Mahasaraswati, itu ada bibit triko dermanya juga masih, ada penghargaan juga dari kerja sama,” ujar dia.
Pupuk kompos ini tidak diproduksi untuk dijual, melainkan para petani diajarkan cara membuatnya untuk digunakan di lahan masing-masing. “Untuk organik kita pakai sendiri, nanti kita masing-masing, kita arahkan petani ngambil di sana, terus diproses masing-masing tempat, difermentasi dicampur dengan EM4, jadi manual aja, kita nggak produksi untuk jualan, pakai sendiri,” jelas Subamia.
Ipda Subamia dan para petani membentuk kelompok tani untuk mempermudah proses mulai dari penanaman, perawatan, panen, hingga penjualan hasil pertanian. “Saya selalu memberikan penyuluhan-penyuluhan secara kontinu sehingga warga itu merasa tetap diperhatikan, sekarang hasilnya dirasakan sekarang sama warga,” pungkasnya.






