Barito Selatan – Program ‘Antar Jemput sambil Patroli’ atau ‘Anjeli’ yang digagas Kombes Yusfandi Usman saat menjabat Kapolres Barito Selatan, Kalimantan Tengah, menjadi solusi transportasi vital bagi warga di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito. Program ini menyediakan layanan antar-jemput gratis menggunakan kapal patroli bagi warga yang membutuhkan, terutama saat kondisi darurat medis.
Usulan Warga Terpencil
Maulid Syahyani, Sekretaris Desa Teluk Timbau, Kecamatan Dusun Hilir, Barito Selatan, mengusulkan Kombes Yusfandi sebagai kandidat Hoegeng Awards 2026 atas inisiatif program Anjeli. Desa Teluk Timbau merupakan salah satu desa terpencil dengan akses utama melalui jalur air.
“Berhubung di tempat kami kan salah satu desa terpencil, jadi akses untuk ke tempat kesehatan dari desa ke kecamatan, untuk jarak desa kami ke kecamatan kurang lebih 25 km, dan itu harus kami tempuh dengan jalan air, kebetulan jalan darat masih belum ada,” kata Maulid kepada detikcom, Senin (2/2/2026).
Program Anjeli diluncurkan pada tahun 2022. Warga yang sakit dapat menggunakan kapal patroli secara cuma-cuma. “Kami dari Desa Teluk Timbau juga memang sangat terbantu dengan adanya program Anjeli ini, yang dilaksanakan oleh Pak Kapolres sampai ke desa kami, yang memang jangkau ke Puskesmas hanya bisa melalui Sungai Barito,” jelas Maulid.
Meskipun desa memiliki speedboat operasional, kapal tersebut terkadang tidak dapat mengakomodasi semua kegiatan secara bersamaan. Keberadaan Anjeli sangat membantu, terutama bagi ibu hamil yang perlu pemeriksaan ke puskesmas atau warga yang sakit.
“Kami dari pihak masyarakat sangat terbantu dengan adanya Anjeli tersebut, seperti ada masyarakat yang sakit, ada ibu-ibu yang melakukan pemeriksaan ke Puskesmas persiapan persalinan. Di luar dari itu juga memang lebih ada sifat keaktifan dari aparat kepolisian untuk melakukan giat patroli ke desa sebagai upaya jaminan keselamatan, upaya jaminan keamanan juga,” ucap dia.
Respons Cepat dan Gratis
Untuk menggunakan layanan Anjeli, warga cukup menghubungi nomor kepolisian yang telah disosialisasikan. Maulid menceritakan pengalaman warga yang membutuhkan pertolongan medis di malam hari, dan kapal Anjeli sigap merespons.
“Ada beberapa kali yang sifat emergency, kita telepon, dan alhamdulillah mereka dengan sigap datang untuk membantu,” ujar Maulid.
Marsela Grasia, warga Buntok Seberang, juga merasakan manfaat serupa. Ia menggunakan Anjeli untuk menjemput keluarga yang sakit.
“Saya menggunakan Anjeli untuk menjemput keluarga yang di Buntok Seberang yang sedang sakit. Pelayanannya gratis,” kata Marsela kepada detikcom.
Marsela menambahkan, keberadaan kapal Anjeli mempermudah akses keluarganya untuk berobat. “Kami sebagai warga yang berada di DAS (Daerah Aliran Sungai) Barito sangat terbantu kerena adanya Anjeli. Kami sangat berterima kasih kepada kepolisian khususnya Satpolairud kerena sudah memberikan pertolongan lewat Anjeli,” terangnya.
Akses terhadap kapal Anjeli pun dinilai mudah oleh masyarakat. Cukup dengan menghubungi petugas melalui nomor yang telah disebar.
“Masyarakat lebih mudah karena adanya Satpolairud jadi semisalkan ada yang butuh bantuan Anjeli tinggal menelepon Anjeli dari Satpolairud,” jelasnya.
Inisiatif Kombes Yusfandi
Kombes Yusfandi Usman menjelaskan bahwa Anjeli digagas untuk menjawab tantangan transportasi di wilayah hukumnya yang dilintasi Sungai Barito sepanjang 250 kilometer. Terdapat 36 desa di 6 kecamatan yang berada di sekitar aliran sungai tersebut.
“Saya 2022 sampai 2023 akhir saya jabat Kapolres di Barito Selatan, kemudian Anjeli itu karena Barito Selatan itu dilintasi kurang lebih 250 kilometer aliran Sungai Barito,” kata Kombes Yusfandi kepada detikcom.
Yusfandi berinisiatif melakukan Nota Kesepahaman (MoU) dengan perangkat desa dan puskesmas setempat untuk memfasilitasi rujukan pasien ke Buntok, ibu kota Kabupaten Barito Selatan.
Seluruh kapal di 6 Polsek Barito Selatan dikerahkan untuk layanan antar-jemput warga. Biaya operasional, termasuk bahan bakar, ditanggung sepenuhnya oleh kepolisian. Operator kapal diperintahkan untuk siaga 24 jam.
“Itu biayanya gratis, termasuk bensin atau bahan bakar perahu. Gratis dan 1 x 24 jam. Polsek sudah saya perintahkan untuk setiap operator atau motoris kapal untuk standby, share seluruh nomor teleponnya,” jelas Yusfandi.
“Jika sewaktu-waktu ada masyarakat yang misalnya mau segera berobat dirujuk dari Puskesmas, atau bahkan sampai melahirkan, tengah malam atau subuh kita harus segera antar ke rumah sakit yang ada di Kota Buntok,” imbuhnya.
‘Mobil Artis’ Pendukung Anjeli
Selain Anjeli yang menggunakan kapal, Kombes Yusfandi juga menyediakan ‘Mobil Artis’ (Antar-jemput Cepat dan Tepat Sasaran). Mobil ini digunakan untuk mengantar pasien dari pelabuhan ke rumah sakit, melengkapi layanan kapal.
Mobil tahanan yang dimodifikasi dimanfaatkan untuk layanan ini, mengoptimalkan aset yang ada saat tidak digunakan untuk mengantar tahanan.
“Kan kami tidak tiap hari mengantarkan tahanan ke kejaksaan, ke pengadilan. Jadi pada saat mobil tahanan itu tidak digunakan, kami gunakan untuk mengestafet masyarakat yang sakit dari aliran sungai itu untuk dibawa ke rumah sakit,” tutur dia.
Kolaborasi dan Jangkauan Luas
Program Anjeli juga menggandeng puskesmas dengan kapal terapung dan warga yang memiliki perahu. Biaya operasional kapal puskesmas dan perahu warga diganti menggunakan anggaran Polres, Polsek, dan kerja sama dengan desa.
“Jadi saya mengisi kekosongan, ketika kita tinggal di daerah aliran sungai, saya manfaatkan perahu dinas, ataupun perahu Puskesmas terapung yang dimiliki masing-masing kecamatan. Saya kerja samakan semua, jadi kita sama-sama bahu membahu untuk mengantarkan masyarakat ke rumah sakit yang ada di Barito Selatan,” ungkap dia.
Pelayanan Meluas ke Polres
Seiring waktu, Anjeli tidak hanya melayani warga sakit, tetapi juga warga yang membutuhkan pelayanan di Polres Barito Selatan, seperti pengurusan SKCK atau SIM.
“Masyarakat tidak hanya menggunakan itu untuk orang sakit saja, tapi bisa juga kita ingin menerima pelayanan yang ada di Polres Barito Selatan, misalnya dia mau ngurus SKCK, dia mau ngurus SIM. Itu tinggal menghubungi motoris ‘Anjeli’,” ujar Yusfandi.
Inovasi Anjeli mendapatkan apresiasi dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) dengan penghargaan pada tahun 2022.
Anjeli dalam Penanganan Pandemi
Kapal Anjeli juga pernah dimanfaatkan untuk sosialisasi, penyuluhan, hingga vaksinasi COVID-19 di sepanjang sungai.
“Misalnya Puskesmas ada sosialisasi terkait stunting ke RT-RT, kami ikut sambil patroli, jadi ada MoU itu semua itu. Jadi perahu itu tidak hanya berangkat masing-masing,” kata Yusfandi.
Jika kapal patroli Polsek dan puskesmas terapung penuh, Polres akan menggandeng speedboat milik masyarakat umum yang telah ditempeli stiker ‘Anjeli’. Biaya bahan bakar dan honor motoris ditanggung kepolisian.
“Bahkan kami merangkul juga kapal-kapal, speedboat punya masyarakat umum, itu kami tempel stiker ‘Anjeli’, kami kerja sama dengan pemilik kapal, jika sewaktu-waktu diperlukan bisa langsung berangkat. Nanti kami atur BBM-nya, honor untuk motorisnya, tapi itu tanggung jawab dari anggota Polsek yang ada di situ,” sebut Yusfandi.
Kombes Yusfandi berharap program Anjeli terus memudahkan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai. Program ini masih berjalan dan dikelola oleh tim khusus di Polres Barsel.
“Bayangkan kalau tengah malam, mohon maaf semacam kayak diare saja, kita butuh infus, ternyata di desa itu tidak memadai, kita segera berangkat ke kota, tidak ada kendaraan, nah ‘Anjeli’ itulah,” pungkasnya. (lir/aud)






