Berita

InJourney Empat Tahun Perkuat Aviasi dan Pariwisata Berkelanjutan, Targetkan Kontribusi GDP 6%

Advertisement

Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, memasuki tahun keempat perjalanannya di Indonesia. Sejak dibentuk pada Januari 2022, InJourney fokus pada penguatan fundamental anak perusahaan melalui integrasi aset, tata kelola operasional, serta peningkatan kualitas layanan. Upaya ini telah membuahkan profitabilitas grup secara menyeluruh berkat pendekatan kolaboratif dan sinergi dengan pemerintah serta pemangku kepentingan.

Transformasi dan Dampak Ekonomi

Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyatakan bahwa transformasi bisnis selama empat tahun terakhir telah membangun InJourney menjadi BUMN yang transparan, akuntabel, dan mampu memberikan dampak positif berkelanjutan. “Ke depan, InJourney akan melanjutkan transformasi ini, dengan tetap adaptif untuk menyesuaikan dengan berbagai perubahan yang sangat cepat, seperti yang terjadi pada masa saat ini,” ujar Maya dalam keterangan tertulis, Selasa (20/1/2026). Ia menambahkan, “Kami berharap seluruh prakarsa InJourney, dengan dukungan penuh para pemangku kepentingan, mampu menciptakan nilai yang lebih besar bagi perekonomian nasional.”

Kehadiran InJourney selama empat tahun telah memberikan arti signifikan bagi perekonomian Indonesia. Melalui pilar-pilar bisnisnya, InJourney terus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Proyeksi ke depan, InJourney diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi Gross Domestic Product (GDP) sebesar 4,1%-6% hingga 2029.

Inisiatif Strategis dan Kinerja Korporasi

InJourney mengimplementasikan berbagai inisiatif strategis, termasuk transformasi bandara, pengembangan destinasi budaya dan edukasi seperti Borobudur dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pembangunan International Medical Tourism di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, serta pengembangan Mandalika dan Golo Mori. Melalui Sarinah, InJourney juga membawa karya terbaik Indonesia ke kancah global.

Rangkaian inisiatif ini berkontribusi pada peningkatan kinerja korporasi, menjadikan InJourney sebagai perusahaan ke-43 terbesar di Indonesia. Perusahaan ini menegaskan perannya dalam menjadikan aviasi dan pariwisata sebagai katalis pertumbuhan ekonomi nasional, dengan menjalankan peran ganda sebagai pencipta nilai dan agen pembangunan.

Komitmen Keberlanjutan sebagai Arah Utama

Memasuki tahun keempat, InJourney menegaskan komitmennya terhadap keberlanjutan sebagai arah utama transformasi. “Melalui rangkaian inisiatif tersebut, InJourney menegaskan komitmennya untuk menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis dan pengelolaan destinasi,” kata Maya. Pendekatan ini memastikan transformasi aviasi dan pariwisata tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan lingkungan, efisiensi sumber daya, serta meninggalkan warisan hijau bagi generasi mendatang.

Selaras dengan tema ‘InJourney 4 Tahun Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia’, keberlanjutan diposisikan sebagai kerangka berpikir dan bertindak dalam setiap inisiatif jangka panjang. Pariwisata dijadikan investasi lintas generasi yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan sosial.

Pariwisata Berbasis Pengalaman dan Dampak

Komisaris Utama InJourney, Iwan Setyawan, menjelaskan tema tahun ini merefleksikan arah strategi holding dalam menghadirkan pengalaman pariwisata yang bernilai dan berkesan. “Pariwisata tidak cukup hanya dikelola, tetapi harus dikaryakan. Karena berkarya adalah tentang menciptakan pengalaman, memberi makna, dan meninggalkan dampak,” tutur Iwan.

Ia menambahkan, “InJourney harus menjadi contoh bahwa pariwisata yang baik adalah pariwisata yang mengangkat martabat dan kesejahteraan masyarakat setempat.” Iwan menegaskan pariwisata yang hebat harus tumbuh seiring dengan komitmen kuat terhadap pelestarian alam dan budaya, menjadikan keberlanjutan sebagai fondasi utama pariwisata Indonesia.

Visi Pariwisata Berkelanjutan dan Pemberdayaan Komunitas

Upaya InJourney terhadap pariwisata berkelanjutan berangkat dari keyakinan bahwa keberhasilan bisnis jangka panjang hanya dapat dicapai melalui pertumbuhan ekonomi yang seiring dengan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Melalui visi ‘Sustainable Tourism Economy and Creating Impact for Communities’, InJourney membangun ekosistem aviasi dan pariwisata yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, memperkuat komunitas lokal, serta menjaga kelestarian lingkungan.

Direktur SDM dan Digital InJourney, Herdy Harman, menekankan keberlanjutan dan tanggung jawab dalam berbisnis sebagai fondasi utama transformasi pariwisata nasional. “Membangun infrastruktur adalah satu hal, tetapi membangun manusia adalah hal lain yang sama pentingnya. Program yang baik harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia agar transformasi dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak jangka panjang,” tegas Herdy.

Advertisement

Dua Pilar Keberlanjutan: Lingkungan dan Sosial-Ekonomi

Kerangka pariwisata keberlanjutan InJourney ditopang oleh dua pilar utama: lingkungan (environment) dan sosial-ekonomi (socio-economic).

  • Pilar Lingkungan: InJourney berfokus pada pengelolaan air dan limbah yang bertanggung jawab, penguatan strategi iklim dan lingkungan, serta perlindungan keanekaragaman hayati dan upaya konservasi. Inisiatif ini dirancang untuk meminimalkan dampak lingkungan dan mendorong praktik ramah lingkungan.
  • Pilar Sosial-Ekonomi: InJourney memprioritaskan peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui program peningkatan kesehatan dan kesejahteraan, pengentasan kemiskinan, perluasan akses pendidikan, serta penguatan kemitraan dengan pelaku usaha lokal dan UMKM.

Implementasi ESG dan Target Emisi

Dari sisi aspek lingkungan (environmental), sebagai bagian dari penerapan ESG, InJourney berkomitmen menurunkan emisi sebesar 4.000 tonCO₂e. Ini merupakan langkah awal transformasi menuju operasional yang lebih hijau dan mendukung target Net Zero Emission (NZE) Pemerintah Indonesia.

Upaya ini diwujudkan melalui green initiative program di lingkungan InJourney Group, yang dirancang untuk menghasilkan dampak terukur dan berkelanjutan. Inisiatif ini mencakup pemanfaatan energi terbarukan, elektrifikasi operasional, pengelolaan air dan limbah, serta program rehabilitasi lingkungan.

Energi Terbarukan dan Elektrifikasi Operasional

Pemanfaatan energi surya (PLTS) telah diimplementasikan di sembilan bandara utama, menghasilkan 10.760 megawatt-hour (MWh) energi terbarukan per tahun dan berpotensi menghindari emisi sebesar 9.860 ton CO₂e per tahun, setara dengan penyerapan karbon oleh 272 ribu pohon. Ini menjadi fondasi transisi energi di sektor aviasi dan pariwisata yang dikelola InJourney.

InJourney juga mempercepat adopsi kendaraan dan peralatan listrik. Hingga saat ini, 716 unit kendaraan dan peralatan listrik telah dioperasikan, termasuk ground support equipment (GSE), buggy car, mini bus, dan moda transportasi lainnya, sebagai langkah konkret menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Pengelolaan Sumber Daya dan Mitigasi Perubahan Iklim

Dalam pengelolaan sumber daya dan limbah, InJourney Group menerapkan pendekatan terpadu berbasis ekonomi sirkular. Pengelolaan limbah padat mencapai 7.000 m³, sementara pemanfaatan air daur ulang sebesar 1.728.304 m³ telah dilakukan untuk mendukung efisiensi penggunaan air.

Sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim, InJourney menjalankan program penanaman 40.000 pohon mangrove di seluruh wilayah operasional. Program ini diproyeksikan memperkuat ketahanan ekosistem pesisir dan mendukung keberlanjutan destinasi pariwisata.

Ketahanan Air dan Teknologi SWRO

Di Nusa Dua Bali, Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) mengoperasikan fasilitas Seawater Reverse Osmosis (SWRO) yang menghasilkan 331.382 m³ air bersih. Fasilitas ini mengurangi ketergantungan pada air tanah dan meningkatkan ketahanan kawasan terhadap risiko perubahan iklim.

Penerapan fasilitas SWRO ini menjadikan ITDC NU, entitas usaha di bawah ITDC, sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang mendapatkan izin resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI (KKP) untuk mengolah air laut menjadi air layak konsumsi melalui teknologi modern.

Advertisement