Berita

Indonesia Resmi Pimpin Dewan HAM PBB 2026, Sidharto Reza Suryodipuro Jadi Nahkoda

Advertisement

Jakarta – Indonesia akan resmi memegang tampuk kepemimpinan sebagai Presidensi Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk tahun 2026. Jabatan strategis ini akan diemban oleh Duta Besar RI untuk PBB di Jenewa, Sidharto Reza Suryodipuro.

Penetapan di Jenewa

Penetapan Indonesia sebagai Presidensi Dewan HAM PBB dijadwalkan berlangsung hari ini, Jumat (9/1/2026), pukul 10.00 pagi waktu setempat di Jenewa.

Direktur HAM dan Urusan Migrasi Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Indah Nuria Savitri, menjelaskan bahwa Indonesia akan memimpin sidang dan seluruh proses di Dewan HAM PBB selama satu tahun penuh.

“Kali ini kita akan menjadi presidensi selama satu tahun penuh di mana jabatan tersebut akan dipegang oleh watap kita atau Duta Besar Sidharto Reza Suryodipuro. Beliau yang sebelumnya menjadi Dirjen Kerja Sama ASEAN di Jakarta dan menjadi Dubes Indonesia untuk India dan Bhutan,” ujar Indah dalam konferensi pers di gedung Kemlu, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).

Peran Strategis Indonesia

Posisi presidensi ini bukan sekadar simbol diplomatik, melainkan memiliki peran krusial dalam menentukan arah pembahasan isu-isu HAM global.

“Dalam kapasitas kita sebagai presiden, Indonesia akan memimpin seluruh sidang dan proses yang ada di Dewan HAM, tentu saja bersama anggota biro lainnya,” tegas Indah.

Advertisement

Kepemimpinan Inklusif

Indonesia menyambut kehormatan ini dengan komitmen untuk menjalankan mandat sebagai presiden dengan pendekatan yang inklusif.

“Ini adalah satu mandat yang sangat prestisius dan tentu saja datang dengan tanggung jawab yang besar juga mengingat situasi dan geopolitik kita cukup berwarna saat ini dan Dewan HAM juga mengalami banyak dinamika. Namun secara khusus dengan tema Presidency for All, kita mencoba untuk menjalankan mandat sebagai Presiden ini dengan pendekatan yang inklusif,” jelas Indah.

Hasil Perjuangan Diplomasi

Indah menekankan bahwa posisi presidensi ini merupakan hasil dari upaya dan perjuangan diplomasi yang gigih dari berbagai pihak di bawah koordinasi Kemlu.

“Ini merupakan hasil kerja sama dan hasil upaya perjuangan diplomasi dari semua pihak yang digawangi atau dipimpin oleh Kemlu, teman-teman. Tentu saja presidensi ini bukan, apa namanya, bukan sesuatu yang given, tapi memang perlu diperjuangkan,” tuturnya.

Advertisement