Bogor – Ferry Irawan, seorang pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) asal Bogor, Jawa Barat, teridentifikasi sebagai salah satu penumpang pesawat ATR 42-500 yang dilaporkan jatuh di Pangkep, Sulawesi Selatan. Kepergian Ferry meninggalkan duka mendalam bagi tetangga dan rekan kerjanya yang mengenangnya sebagai sosok yang baik dan aktif dalam kegiatan masyarakat.
Kisah di Lingkungan Tetangga
Ketua RT setempat, Ari Fakhrizal, menceritakan interaksi terakhirnya dengan Ferry Irawan beberapa hari sebelum insiden. “Paling kemarin-kemarin (beberapa hari lalu) itu ada komunikasi terkait dengan putranya kan kadang sering main (keluar rumah) gitu. Ya seperti nitip gitu karena kan ketemu ngga intens ya, jadi kadang nitip ke kami untuk jaga-jaga anaknya kalau sedang main di luar rumah, karena kan khawatir juga bergaul sama anak-anak yang kurang baik lah gitu,” ujar Ari.
Ari menambahkan bahwa Ferry merupakan warga yang aktif dalam kegiatan masyarakat di Perumahan Mina Bhakti, Kelurahan Cikaret, Bogor Selatan. Namun, kesibukan Ferry sebagai pengawas yang sering bepergian keluar daerah membuat intensitas pertemuannya dengan warga berkurang. “Pak Ferry adalah orang yang baik selama bergaul di wilayah kami, aktif bermasyarakat, tapi setelah makin banyak kesibukan mungkin jadi agak berkurang ya, karena beliau sebagai pengawas sekarang, hampir setiap minggu mungkin keluar daerah terus. Jadi untuk pertemuan jadi agak jarang dengan kami,” jelas Ari.
Ari dan warga lainnya sangat berharap Ferry Irawan segera ditemukan dalam kondisi apapun. “Kami sangat berharap, karena kami sebagai tetangga dekat, sangat berharap keberadaan beliau dapat segera ditemukan dan juga terus berdoa semoga keluarga diberikan ketabahan dan kesabaran,” imbuhnya.
Rekan Kerja Kenang Sifat Lugas dan Bertanggung Jawab
Seorang warga lain yang juga bernama Feri, mengaku mengenal Ferry Irawan dengan baik. Ia sering bekerja sama dengan Ferry dalam kegiatan kurban di lingkungan tempat tinggal mereka.
“Kalau menurut saya pribadi, karena sering satu tim ya dengan beliau dalam Kegiatan kurban, dia itu orangnya lugas ya, terus nggak mau ada kesalahan orangnya, jadi memang tanggungjawabnya itu diemban benar-benar. Dia itu memang lebih memahami soal kurban gitu dibanding saya,” kata Feri kepada wartawan.
Feri mengetahui kabar musibah ini melalui grup WhatsApp dan masih memantau perkembangan lebih lanjut. “Kalau saya pribadi tahu informasinya dari WA grup soal musibah ini. Untuk kepastiannya kita juga masih mantau ya, mudah-mudahan segera diketahui kejelasannya,” imbuhnya.
Tiga Pegawai KKP dalam Pesawat
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono, sebelumnya telah menyampaikan duka cita atas dugaan jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Maros, Sulawesi Selatan. Ia mengkonfirmasi bahwa tiga pegawai KKP berada di dalam pesawat tersebut.
“Kehadiran kami saat ini adalah melakukan klarifikasi terkait adanya informasi yang beredar di masyarakat mengenai logo KKP, perlu disampaikan bahwa benar terdapat pegawai KKP dalam pesawat tersebut,” kata Trenggono saat konferensi pers pada Sabtu (17/1/2026).
Ketiga pegawai KKP tersebut, menurut Trenggono, tengah melaksanakan tugas negara. Misi mereka adalah melakukan pengawasan sumber daya KKP melalui udara atau air surveillance di wilayah pengelolaan perikanan udara Republik Indonesia.
Identitas ketiga pegawai KKP yang berada di pesawat tersebut adalah Ferry Irawan (analis kapal pengawas), Deden Mulyana (pengelola barang milik negara), dan Yoga Naufal (operator foto udara). Ketiganya memiliki pangkat penata muda tingkat satu, kecuali Yoga Naufal yang menjabat sebagai operator foto udara.
“Terkait informasi insiden yang dialami oleh pesawat dengan register PK-THT yang dioperasikan oleh PT IAT dengan ini kami nyatakan prihatin, kami terus terang sedih dan prihatin dan berdoa yang terbaik untuk para penumpang dan kru pesawat tersebut,” ujar Trenggono.






