Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Gerindra, Ali Lubis, menyatakan dukungannya terhadap gagasan Jusuf Kalla (JK) mengenai pembangunan hunian vertikal sebagai salah satu solusi mengatasi banjir di Jakarta. Namun, Ali menekankan bahwa konsep ini bukanlah satu-satunya jawaban untuk persoalan ibu kota.
Hunian Vertikal sebagai Keniscayaan
Ali Lubis menilai penerapan hunian bertingkat di Jakarta sangat relevan dan realistis untuk menjawab tantangan klasik kota metropolitan seperti banjir, kemacetan, dan kualitas lingkungan perkotaan. Ia berpendapat bahwa kebijakan ini harus diintegrasikan dengan penataan ruang, transportasi publik, pengendalian air, serta standar keselamatan bangunan yang ketat.
“Secara prinsip saya setuju dengan arah pemikiran Pak JK. Kota besar seperti Jakarta tidak bisa lagi mengandalkan hunian horizontal yang menyebar dan tidak terkendali. Hunian bertingkat adalah merupakan sebuah keniscayaan,” ujar Ali kepada wartawan, Senin (9/2/2026).
Ia mencontohkan Singapura, Hong Kong, dan Jepang yang telah membuktikan efektivitas hunian vertikal jika dirancang dengan matang. “Intinya adalah hunian bertingkat atau vertikal tidak boleh berdiri sendiri. Ia harus satu paket dengan penggunaan transportasi publik, pengendalian lingkungan dan banjir, serta diperlukan juga regulasi yang kuat,” tegas Ali.
Mengurangi Banjir dan Kemacetan
Menurut Ali, hunian vertikal berpotensi mengurangi banjir di Jakarta jika mampu menekan permukiman di bantaran sungai dan kawasan rawan banjir. Dengan pola vertikal, lahan dapat dialihfungsikan menjadi ruang terbuka hijau, kolam retensi, taman resapan, dan infrastruktur pengendali air.
Namun, ia mengingatkan bahwa penurunan muka tanah akibat pengambilan air tanah berlebihan juga menjadi faktor banjir. “Karena itu, hunian bertingkat harus dibarengi dengan kebijakan pembatasan penggunaan air tanah,” katanya.
Dari sisi kemacetan, hunian vertikal dinilai sangat potensial menekan pergerakan kendaraan pribadi, terutama jika dibangun dengan konsep Transit Oriented Development (TOD). Konsep ini mensyaratkan hunian berdekatan dengan simpul transportasi massal dan dilengkapi fungsi campuran seperti tempat kerja serta fasilitas publik.
“Jadi kalau masyarakat Jakarta tinggal di dekat transportasi publik, dan tempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tentunya ketergantungan terhadap penggunaan kendaraan seperti mobil dan motor tentu berkurang,” jelas Ali.
Keamanan dan Keterjangkauan
Menanggapi kekhawatiran soal bahaya kebakaran, Ali menegaskan bahwa hunian bertingkat tidak otomatis lebih berbahaya dibandingkan permukiman horizontal yang padat. Dengan standar yang benar, hunian vertikal bisa lebih aman melalui pemasangan sprinkler otomatis, sistem alarm kebakaran, jalur evakuasi yang jelas, tangga darurat, serta inspeksi dan simulasi evakuasi rutin.
“Yang berbahaya bukan gedung tingginya, tapi kalau dibangun secara asal-asalan dan tidak diawasi serta tidak sesuai kualitas,” imbuhnya.
Di sisi lain, Ali menekankan pentingnya hunian vertikal memperhatikan keterjangkauan harga, kualitas hidup, dan keadilan sosial agar tidak menciptakan permukiman vertikal yang padat namun tidak layak huni.
“Sebab hunian vertikal adalah masa depan Jakarta. Tapi harus dirancang sebagai solusi kota, bukan sekadar menumpuk bangunan. Jika dijalankan dengan benar, konsep ini bisa membantu Jakarta menjadi lebih tertib, lebih manusiawi, dan lebih berkelanjutan,” tutup Ali.
Gagasan Awal Jusuf Kalla
Sebelumnya, Ketua Umum PMI Pusat, Jusuf Kalla (JK), mengemukakan bahwa salah satu solusi mengatasi banjir di Jakarta adalah dengan membangun hunian bertingkat.
“Kalau Jakarta ingin bersih, ingin tidak banjir, ingin tidak macet, hidup bertingkat, rumah tingkatan,” kata JK usai kerja bakti bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di wilayah Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Minggu (8/2).
JK memahami bahwa warga yang kini tinggal di rumah non-vertikal perlu dihargai, namun ia menekankan bahwa konsep hunian bertingkat harus mulai dipertimbangkan untuk masa depan.
“Jadi bagi, minta maaf, bagi bapak-bapak, ibu-ibu yang tinggal di rumah-rumah itu kita hargai. Tapi masa depan harus bertingkat,” ucap JK.






