Berita

Dewan Pakar Ungkap Sulitnya Seleksi Hoegeng Awards, Tolak Calon Titipan Demi Integritas

Advertisement

Proses penentuan penerima Hoegeng Awards 2025 melibatkan tahapan seleksi yang ketat oleh Dewan Pakar dari berbagai unsur untuk mencegah adanya calon titipan. Pada Hoegeng Awards 2025, lima Dewan Pakar yang dilibatkan adalah Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Wahid, Anggota Kompolnas Gufron Mabruri, Pendiri IOJI sekaligus mantan Plt Pimpinan KPK Mas Achmad Santosa, Wakil Ketua Komnas HAM Putu Elvina, dan Ketua Komisi III DPR Habiburokhman. Kelima nama tersebut merupakan Dewan Pakar pada Hoegeng Awards tahun sebelumnya.

Kesulitan Menentukan Penerima Penghargaan

Dalam acara puncak Hoegeng Awards 2025, para dewan pakar menyampaikan cerita mengenai sulitnya menentukan penerima penghargaan. Gufron Mabruri mengungkapkan bahwa semua usulan yang masuk ke panitia memiliki poin dedikasi yang tinggi.

“Tentu tidak mudah bagi kami tim dewan juri dalam memilih mana yang terbaik, karena ternyata, polisi-polisi yang masuk nominasi, semuanya berdedikasi dan menjadi teladan di tengah masyarakat kita,” kata Gufron di PTIK, Jakarta, Rabu (16/7/2025).

Ia menjelaskan bahwa proses seleksi berlangsung panjang dengan dewan pakar melakukan seleksi secara mendalam dan penuh ketelitian. Kandidat yang masuk nominasi disaring dengan hati-hati dari 10 besar hingga 3 besar, dan semuanya telah menjalani uji publik di masyarakat.

Hal senada diungkapkan Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman, yang mengakui sangat sulit menentukan penerima award dari para kandidat yang ada.

“Ada dua hal yang perlu saya sampaikan terkait Hoegeng Awards ini, pertama soal betapa sulitnya bagi kami dewan pakar untuk menentukan 1 dari 3 calon yang terbaik, susah sekali,” kata Habiburokhman.

Habiburokhman membandingkan kesulitannya memilih penerima Hoegeng Awards dengan pengalamannya memilih pejabat publik. Ia menyebutkan bahwa memilih penerima Hoegeng Awards jauh lebih sulit.

“Saya sebagai anggota Komisi III punya pengalaman, di sini banyak orang yang pernah saya pilih, ada Pak Harto (Suharto) Hakim Agung saya yang pilih, ada Ibu Anis (Anis Hidayah) Komnas HAM saya yang pilih, Bu Putu (Putu Elvina) juga, Pak Setyo (Setyo Budiyanto) Ketua KPK saya yang pilih, Ketua KY Pak Amzulian (Amzulian Rifai) saya yang pilih, ya ternyata memilih penerima Hoegeng Awards jauh lebih sulit daripada memilih para pejabat tadi,” ucap dia.

Habiburokhman mengakui adanya potensi subjektivisme dalam pertimbangannya, namun ia menegaskan tidak bisa menerima titipan terkait penerima Hoegeng Awards.

Advertisement

“Sulit, terutama bagi saya yang memang dalam ambil keputusan ada sisipan subjektivisme, ya, jadi bagi kenalan saya, saudara saya, kalau mau nitip di Hoegeng Awards saya nyerah. Gimana saya harus taklukkan Ibu Allisa, Pak Ota, Pak Gufron, nggak mungkin melobi mereka, mereka orang yang kredibilitasnya sangat sangat teruji, nggak ada subjektivisme, nggak ada ego di sini, benar-benar pure nama yang terpilih adalah yang terbaik dari yang baik-baik semua,” ujarnya.

Polisi Berintegritas, Warisan Jenderal Hoegeng

Alissa Qotrunnada Wahid menambahkan bahwa Polisi Berintegritas merupakan warisan utama dari almarhum Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Dewan Pakar bekerja keras memastikan para nomine kategori polisi berintegritas terbukti mengejawantahkan kejujuran.

“Polisi berintegritas adalah legacy Jenderal Polisi Hoegeng yang utama. karenanya Dewan Pakar Hoegeng Awards 2025 bekerja keras untuk memastikan bahwa para nomine kategori polisi berintegritas terbukti mengejawantahkan kejujuran,” ujar Alissa dalam malam puncak Hoegeng Awards 2025 di Auditorium Mutiara STIK-PTIK Polri, Jakarta Selatan, Rabu (16/7/2025).

Ia menekankan bahwa Polisi Berintegritas harus memiliki kebesaran jiwa untuk menerima konsekuensi dari pilihannya menjadi sosok berintegritas, menolak jalan pintas dan kemuliaan semu.

“Menolak jalan pintas, menolak gempita lampu sorot yang mengundang keinginan untuk menampilkan diri dan menentukan dengan tegas bahwa kemuliaan bagi dirinya adalah menjaga nilai dan prinsip luhur Kepolisian Republik Indonesia,” ujarnya.

Sosok polisi berintegritas dipandang sebagai suluh atau obor bagi polisi lainnya di Indonesia, serta menjadi tolok ukur jati diri polisi rakyat yang teladan mengabdi.

Proses Seleksi Hoegeng Awards 2026 Dimulai

Penjaringan kandidat penerima Hoegeng Awards 2026 telah dimulai sejak Selasa, 27 Januari, melalui pengusulan formulir digital. Pembaca detikcom dapat mengusulkan nama polisi yang dinilai patut menjadi teladan melalui tautan yang disediakan. Setelah proses penjaringan selesai, penerima penghargaan Hoegeng Awards 2026 akan diumumkan pada acara penganugerahan di Juli 2026.

detikcom mengajak pembaca untuk berkontribusi mengawal perbaikan Polri lewat partisipasi di Hoegeng Awards 2026, dengan harapan usulan polisi teladan dari pembaca dapat menjadi penyemangat bagi personel Polri untuk berbenah diri.

Mekanisme Seleksi Hoegeng Awards 2026:

  1. Daftarkan anggota polisi di sekitar Anda yang dinilai patut menjadi kandidat penerima Hoegeng Awards 2026 melalui tautan yang tersedia.
  2. Isi identitas diri pengusul berupa nama lengkap, alamat email, dan nomor seluler yang dapat dihubungi.
  3. Isi juga identitas polisi yang diajukan sebagai kandidat, termasuk nama, pangkat, dan tempat berdinas. Jika memungkinkan, sertakan foto dan video.
  4. detikcom akan memvalidasi informasi polisi kandidat yang didaftarkan. Informasi yang telah divalidasi akan diberitakan secara selektif.
  5. Anggota polisi yang didaftarkan akan diseleksi menjadi 15 besar, melibatkan Dewan Pakar dari tokoh masyarakat dan institusi kredibel di luar Polri.
  6. Aspek yang dinilai dalam proses seleksi meliputi integritas dan dampak kepada masyarakat.
  7. 15 besar polisi hasil seleksi Dewan Pakar akan dibuatkan profil dan dilakukan uji publik di detikcom.
  8. Dari 15 besar tersebut, akan disaring menjadi 5 penerima penghargaan Hoegeng Awards 2026.
  9. Penerima penghargaan Hoegeng Awards 2026 akan diumumkan pada Juli 2026.
Advertisement