Berita

Cair di Ramadan, Bansos PKH dan Sembako Telah Tersalurkan 85 Persen Lebih

Advertisement

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengumumkan bahwa penyaluran Bantuan Sosial Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Sembako telah dilakukan secara bertahap. Hingga awal Ramadan 2026, realisasi penyaluran bantuan sosial triwulan pertama telah mencapai lebih dari 85 persen, dengan total nilai mencapai Rp15 triliun.

Rincian Penyaluran Bansos PKH dan Sembako

Untuk Program Keluarga Harapan (PKH), alokasi tahun ini ditujukan bagi 10 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Sementara itu, Bantuan Sembako dialokasikan untuk 18.250.000 KPM.

“Penyaluran (PKH) sampai saat sekarang, untuk triwulan pertama, Januari, Februari, Maret, itu 8.940.958 KPM. Sudah tersalurkan lebih dari Rp6 triliun atau 89,4 persen. Sementara Sembako, itu sudah tersalurkan 15 juta lebih KPM (dengan nominal) Rp 9 triliun lebih, (atau) sebanyak 86,9 persen,” ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu (21/2/2026).

Gus Ipul menjelaskan bahwa seluruh penyaluran bansos dilakukan melalui Himpunan Bank Negara (Himbara) dan Bank Syariah Indonesia (BSI). Ia juga menyampaikan bahwa masih terdapat lebih dari 1 juta penerima baru bansos PKH dan sekitar 2 juta penerima baru bansos Sembako. Penerima baru ini merupakan hasil pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang belum menerima bantuan.

Proses penyaluran untuk penerima baru ini sedang dalam tahap pembukaan rekening kolektif (burekol), distribusi kartu, dan persiapan penyaluran melalui PT. Pos Indonesia. “Jadi, setiap triwulan ada penerima manfaat baru (hasil pemutakhiran DTSEN), sebagian besar belum memiliki rekening. Maka itu ada namanya buka burekol dan perlu waktu 1-2 bulan untuk burekol-nya itu,” jelasnya.

Bansos untuk Korban Bencana

Khusus untuk provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terdampak bencana, Kementerian Sosial (Kemensos) telah menyalurkan Rp1,8 triliun kepada 1,7 juta KPM. “Semua sudah salur dan insya Allah di akhir Februari ini tuntas,” kata Gus Ipul.

Advertisement

Selain bansos reguler, Kemensos juga menyiapkan bansos adaptif untuk penanganan pascabencana. Bantuan ini meliputi logistik, dapur umum, santunan kematian dan luka, jaminan hidup (Jadup), serta bantuan pemulihan ekonomi bagi masyarakat terdampak bencana.

“Total anggaran yang kita ajukan dan siapkan (untuk bansos adaptif) ada Rp2 triliun lebih. Sementara total anggaran kedaruratan sudah terkirim semua, hampir Rp100 miliar. Hari ini kami sudah mulai menyalurkan, baik itu untuk isian rumah, bantuan pemulihan sosial ekonomi dan Jadup,” jelas Gus Ipul.

Santunan ahli waris telah tersalurkan sebesar Rp14,8 miliar untuk 990 jiwa, dengan nilai Rp15 juta per jiwa. Bantuan isi hunian siap salur mencapai Rp98,7 miliar untuk 32,9 ribu kepala keluarga, masing-masing Rp3 juta per keluarga. Bantuan Jadup siap salur sebesar Rp25,8 miliar untuk 19,1 ribu jiwa, senilai Rp15 ribu per jiwa.

Gus Ipul menambahkan bahwa mekanisme penyaluran bansos adaptif dilakukan secara bertahap dengan mengacu pada data nasional BNPB sebagai rujukan awal. Kepala daerah kemudian mengusulkan daftar korban berdasarkan data tersebut (by name by address/BNBA), dilanjutkan penetapan daftar nominatif dengan persetujuan Muspida. Data ini kemudian divalidasi dan disetujui oleh Menteri Dalam Negeri selaku Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana sebelum disalurkan oleh Kemensos.

“Intinya dari Rp2 triliun lebih, untuk penyaluran sudah ada di rekening dan tinggal menyalurkan itu ada Rp600 miliar lebih. Sisanya kami masih mengajukan ABT (Anggaran Belanja Tambahan),” pungkas Gus Ipul.

Advertisement