Jakarta – Sebuah buku berjudul ‘Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung’ akan segera diluncurkan pekan ini. Acara peluncuran yang juga meliputi diskusi dan bedah buku ini akan digelar di Parle Senayan, Jakarta. Buku ini ditulis oleh wartawan senior Joseph Osdar, yang dikenal dengan karya-karyanya yang mendalam dalam merekam dinamika politik Indonesia.
Apresiasi dari Bambang Soesatyo
Anggota DPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet), memberikan apresiasi tinggi terhadap buku tersebut. Ia menilai buku ini mengangkat praktik politik yang jarang disorot, yaitu politik yang bekerja dalam senyap, tanpa panggung, sensasi, atau kebutuhan untuk mempertontonkan konflik. “Langkah politik Prabowo Subianto dijadikan pintu masuk untuk membaca wajah lain demokrasi Indonesia-politik yang berlandaskan rasionalitas, etika, serta kepentingan kebangsaan,” ujar Bamsoet dalam keterangannya, Senin (9/2/2026).
Buku yang ditulis oleh mantan wartawan senior Kompas yang telah meliput enam presiden ini, dijadwalkan diluncurkan pada Minggu (15/2). Buku ini juga menyoroti bagaimana relasi politik yang dibangun atas dasar saling menghormati peran kelembagaan dapat menciptakan stabilitas politik jangka panjang. Menurut Bamsoet, hubungan politik yang sehat tidak selalu harus diekspresikan melalui koalisi formal atau pernyataan publik yang demonstratif.
“Terpenting dalam politik adalah kejelasan tujuan dan komitmen kebangsaan. Ketika tujuan nasional menjadi titik temu, maka ego personal dan kepentingan jangka pendek harus dikesampingkan,” tegas Ketua DPR RI ke-20 ini.
Etika Kepemimpinan dan Politik Rasional
Lebih lanjut, buku ‘Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung’ tidak hanya merekam praktik politik, tetapi juga menawarkan pembacaan etis tentang kepemimpinan. Bamsoet menekankan bahwa kekuasaan dalam demokrasi seharusnya menjadi alat, bukan tujuan. “Kekuasaan dalam demokrasi adalah alat, bukan tujuan. Ketika kekuasaan dijadikan tujuan, maka politik kehilangan etikanya,” jelas Bamsoet. Ia menambahkan, “Buku ini mengingatkan kembali bahwa politik harus selalu berpijak pada moral publik.”
Bamsoet berharap buku ini dapat menjadi referensi bagi politisi, akademisi, mahasiswa, dan generasi muda untuk memahami politik dari perspektif yang lebih dewasa dan rasional. “Kita membutuhkan generasi politik baru yang tidak reaktif, tidak mudah terprovokasi, dan mampu berpikir jangka panjang. Politik akal sehat harus menjadi fondasi demokrasi Indonesia ke depan,” kata Wakil Ketua Umum Partai Golkar tersebut.
Prabowo sebagai Jenderal Perang dan Narasumber Utama
Joseph Osdar, penulis buku, mengungkapkan bahwa Bamsoet menjadi narasumber utama dalam buku ini. Osdar menyebutkan bahwa Bamsoet memberikan gambaran mendalam tentang perkenalannya dengan Prabowo Subianto, yang saat itu menjabat sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus sekitar 30 tahun lalu. Bamsoet mengetahui bahwa tidak semua perwira jenderal memiliki pengalaman tempur di lapangan.
Prabowo digambarkan sebagai “jenderal perang, bukan jenderal salon”. Ia memiliki rekam jejak tempur, termasuk Operasi Seroja di Timor Timur pada dekade 1970-an dan memimpin operasi penyelamatan tim ekspedisi ilmiah Lorentz di Papua pada 1996 saat menjabat Danjen Kopassus.
Osdar juga menyoroti perhatian Prabowo sebagai komandan terhadap keluarga prajuritnya yang gugur dalam tugas, serta bagaimana Prabowo membangun relasi politik atas dasar saling menghormati untuk menjaga stabilitas politik jangka panjang.
Refleksi Politik Akal Sehat
Dalam pengantar tulisannya, Osdar menegaskan bahwa buku ini bukan glorifikasi tokoh, melainkan refleksi atas praktik politik yang mengedepankan akal sehat dan tanggung jawab kenegaraan. “Buku ini merekam bagaimana politik sesungguhnya bekerja. Tidak selalu di depan kamera, tidak selalu di panggung besar, dan tidak selalu melalui pernyataan keras,” ujar Osdar.
Ia menambahkan, “Politik akal sehat justru sering hadir dalam ruang-ruang sunyi, dalam keputusan-keputusan yang tidak populer tetapi penting bagi bangsa.”
Osdar menjelaskan bahwa salah satu penekanan Bamsoet adalah pentingnya kedewasaan dalam mengelola perbedaan. “Demokrasi tidak rusak karena perbedaan, tetapi karena ketidakmampuan mengelola perbedaan. Politik tanpa panggung adalah politik yang tidak sibuk memperlebar jarak, tetapi berupaya menjembatani kepentingan demi stabilitas nasional agar investasi tumbuh, dunia usaha berkembang,” ujar Osdar mengutip pesan Bamsoet.
Buku ini menempatkan Prabowo dan Bamsoet sebagai contoh praktik politik rasional di tengah budaya politik yang sering kali emosional dan reaktif. Politik akal sehat, menurut buku ini, adalah politik yang memahami kapan harus berbicara dan kapan harus bekerja. Osdar menilai narasi ini penting dihadirkan karena publik saat ini mengalami kelelahan akibat polarisasi, konflik elite, dan politik identitas.
“Masyarakat sudah lelah dengan politik yang penuh drama. Buku ini ingin menunjukkan bahwa ada jalan lain: politik yang tenang, substantif, dan berorientasi pada kepentingan bangsa, bukan kepentingan sempit sesaat,” ungkap Osdar.
Diskusi Peluncuran
Peluncuran buku ini diharapkan dapat memperkaya diskursus publik mengenai praktik politik yang sehat dan rasional. Acara ini akan dihadiri oleh sejumlah tokoh, antara lain Akademisi/Ahli Tata Negara Prof Dr Jimly Asshiddiqie, Kepala Bappisus Aries Marsudiyanto, Wartawan Senior/Mantan Dubes Singapura Suryopratomo, dan Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya Bakrie sebagai pembicara. Pakar Komunikasi Politik Effendi Gazali akan bertindak sebagai moderator.






