Bhabinkamtibmas Desa Mekarwangi, Polsek Lembang, Polres Cimahi, Bripka Muhammad Taufan Rizky, mendirikan pondok pesantren gratis untuk anak yatim dan kaum duafa di Lembang, Jawa Barat. Inisiatif ini menjadikannya salah satu kandidat Hoegeng Awards 2026 yang diusulkan oleh warga setempat.
Pesantren Daarul Huda Al-Azis Berdiri Sejak 2020
Pondok pesantren Daarul Huda Al-Azis didirikan oleh Bripka Taufan sejak tahun 2020. Awalnya hanya menampung dua santri, kini jumlahnya terus berkembang. Sekretaris Desa Mekarwangi, Rustandi, menjelaskan bahwa pembangunan pesantren ini merupakan hasil jerih payah Bripka Taufan bersama pihak lain.
“Itu dari tahun 2020, mulai dari si anak-anaknya mulai dari 2 orang sekarang mulai berkembang, dari awal Pak Taufan membangun pesantren tersebut hasil jerih payah beliau dengan yang lainnya,” kata Rustandi kepada detikcom, Senin (9/2/2026).
Bangunan pesantren berdiri di atas lahan desa, dengan biaya pendirian yang berasal dari Bripka Taufan, warga sekitar, dan para donatur. Rustandi mengapresiasi kepedulian Bripka Taufan yang membantu mengatasi keterbatasan anggaran desa.
“Saya berterima kasih ada Bhabin yang peduli dalam kegiatan hal tersebut, yang peduli dengan keterbatasan anggaran pemerintah desa, beliau dengan para pengusaha, pengembang, anggaran awal pembangunan,” ucap dia.
Kepedulian Sejak Menjadi Bhabin
Sejak menjabat sebagai Bhabin di Mekarwangi pada tahun 2018, Bripka Taufan dikenal sangat peduli terhadap anak yatim dan kaum duafa. Pihak desa bersyukur atas dedikasinya dalam bidang pendidikan anak-anak di wilayah tersebut.
“Karena dia Bhabin di wilayah saya, terus melihat warga yatim piatu, beliau jadi Bhabin jiwa sosial tinggi, alhamdulillah beliau awalnya melihat dari hal-hal seperti itu, dari anak yatim. Sekarang berkembang, (santri) dari beberapa luar wilayah juga alhamdulillah,” tutur Rustandi.
Warga setempat menunjukkan antusiasme tinggi dalam mendukung gagasan Bripka Taufan, bahkan turut serta dalam kegiatan gotong royong pembangunan pesantren. Dukungan ini diharapkan dapat meningkatkan pendidikan keagamaan dan mengurangi kesenjangan sosial di bidang pendidikan.
“Alhamdulillah sangat mendukung dalam adanya kegiatan pondok pesantren tersebut, pada dasarnya meningkatkan pendidikan keagamaan khususnya, ataupun kesenjangan sosial untuk masyarakat khususnya di bidang pendidikan,” ucap dia.
Aktivitas Bripka Taufan di Luar Tugas Inti
Selain mengajar di pondok pesantren, Bripka Taufan juga aktif memberikan ceramah di masjid-masjid setempat, terutama setiap hari Jumat. Ia juga kerap mengikuti kegiatan masyarakat seperti tarawih keliling saat Ramadan.
“Jadi penceramah, pendakwah, kegiatan selain tugas inti sebagai Bhabin, selain langsung penyuluhan ke masyarakat, terus tarawih keliling setiap Ramadan beliau selalu aktif dalam kegiatan masyarakat,” tutur Rustandi.
Berawal dari Keprihatinan Dampak Pandemi
Pandemi COVID-19 pada tahun 2020 menjadi pemicu Bripka Taufan mendirikan pesantren. Ia melihat banyak anak yatim piatu yang mengalami kesulitan biaya hidup untuk sekolah, meskipun biaya sekolah formal gratis.
“Ada anak yatim piatu yang kekurangan biaya sekolah, meskipun sekolahnya gratis dari SMP, cuma dia biaya hidupnya kurang akhirnya kita dengan Pak Ajat membuat pondok pesantren gratis,” kata Bripka Taufan.
Pesantren ini menyediakan tempat tinggal, makan, dan kebutuhan sehari-hari bagi para santri. Setelah pulang sekolah formal, para santri mengikuti program mengaji, belajar kitab kuning, dan tadarusan di pesantren. Pengajar di ponpes ini berjumlah tiga orang, termasuk Bripka Taufan.
“Nginap di sana, dikasih makan dan sebagainya, berawal dari 2 orang hingga sekarang alhamdulillah 50 santri dari berbagai daerah, dari Tangerang, ada dari Lampung juga, yang mungkin orang tuanya yang tidak bisa memberikan biaya hidup akhirnya dipesantrenkan di pesantren kita,” ucap dia.
Donasi dan Gotong Royong Membangun Pesantren
Bripka Taufan memulai pembangunan pesantren dengan modal awal Rp 5 juta. Bersama ustaz Ajat, pembina pondok pesantren, ia patungan dan menggalang donasi.
“Saya juga sebagai Bhabinkamtibmas saya nggak bisa ngasih full. Makanya dari hasil gaji kita sempatkan sedikit-sedikit dengan Pak Ajat, ya udah saya bangun aja bismillah, alhamdulillah sekarang sudah banyak santrinya,” ucap dia.
Bahkan, pada masa awal pembangunan, anak-anak santri sempat belajar di tenda darurat yang terbuat dari terpal. Kondisi ini membuat mereka basah kuyup saat hujan deras.
“Saya masih ingat pakai terpal, hujan besar, angin, prihatin lah waktu awal-awal, tapi alhamdulillah sudah ada tempat tinggal anak-anak santrinya,” jelasnya.
Masyarakat setempat turut bahu-membahu membantu pembangunan. Bantuan juga datang dari warga negara asing yang bergerak di bidang sosial. Pemerintah setempat juga bekerja sama untuk memastikan biaya operasional, termasuk biaya makan.
“Kita juga kemarin bingung biaya hidup santri juga, dari kita, ada dari orang bule ngasih bantuan bangunan, alhamdulillah. Kita kerja sama juga dengan pemerintah setempat, biar ada biaya makan, MBG dan sebagainya, (pesantren) sudah ada SK dan sebagainya,” ucap dia.
Pengelolaan Mandiri dan Cita-cita Mulia
Pesantren ini dikelola secara mandiri dengan bantuan dari warga sekitar yang menyumbangkan beras, sayuran, dan kebutuhan pokok lainnya. Bripka Taufan mengajar di pesantren di luar jam dinasnya.
“Kita pengelolaan mandiri, kalau ada yang bantuan ngasih makan, ngasih beras, ngasih sayuran, kita kelola aja, nggak ada pembukuan, dari warga sekitar. Ada yang ngasih beras 5 karung per bulan dari warga sekitar yang mampu,” ucap dia.
Total biaya pendirian dan operasional pesantren ini diperkirakan mencapai Rp 100 juta. Namun, pesantren ini masih membutuhkan bangunan masjid dan masih memanfaatkan aula untuk salat.
“Kalau dikeluarin dari tahun 2020 sampai sekarang udah hampir ratusan juta, kita nggak pernah ngitung, kalau ada rezeki kita beliin, misalnya ada kurban, hewan kurban ada dari Sespim, di Lembang juga dekat dengan Sesko AU, lembaga pendidikan, suka ngasih satu sapi,” jelasnya.
Memiliki pondok pesantren adalah cita-cita Bripka Taufan sejak lama, terinspirasi dari latar belakang pendidikannya sebagai lulusan pesantren dan masuk polisi melalui jalur khusus yang mengutamakan kemampuan mengaji dan pidato.
“Saya dulu lulusan pesantren, masuk polisi juga khusus pesantren, jalur khusus, waktu itu 2009, jadi tes ngaji sama pidato. Makanya saya punya cita-cita seperti ini alhamdulillah bisa ngasih yang terbaik untuk masyarakat,” jelasnya.
Ia prihatin melihat banyak anak yang masih kekurangan biaya untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga mereka merasa senang dapat belajar dan mengaji di pesantren.
“Saya itu prihatin masih banyak anak-anak yang masih membutuhkan biaya buat jajan, buat makan, masih kekurangan, makanya pada senang. Karena setiap hari pulang sekolah, anak-anak belajar ngaji, tadarusan,” sambungnya.
Saat ini, Ponpes Daarul Huda Al-Azis menampung 50 santri dari berbagai daerah, termasuk Tangerang dan Lampung. Rekrutmen santri dilakukan melalui jaringan guru ngaji dan rekomendasi dari yayasan lain.
“(Rekrutmen) sama, dari pesantren ke pesantren, jadi kita punya jaringan guru ngaji, dari beliau ini ‘ini ada pesantren’ jadi merekomendasikan dari yayasan yang lain kepada kita. Makanya alhamdulillah dari 2 orang sekarang udah 50 orang,” ucap dia.





