SERANG, BANTEN – Bripka Asep Wahyudi Saefullah, seorang Bhabinkamtibmas Kelurahan Drangong, Kota Serang, Banten, berinisiatif memfasilitasi warga yang putus sekolah untuk mengikuti program kesetaraan pendidikan Paket A, B, dan C secara gratis. Ia meyakini bahwa kesetaraan pendidikan merupakan salah satu kunci utama dalam menekan angka pengangguran di wilayahnya.
Salah satu warga penerima manfaat program ini adalah Siti Robiastuti. Ia mengaku mengetahui program tersebut dari Ketua RT. “Awalnya tahu dari RT bahwa beliau (Pak Asep) itu mengadakan program Paket A, B dan C. Berhubung di saat itu saya juga butuh ijazah, karena dulu orang tua kita belum mampu menyekolahkan ke tingkat SMA,” ujar Siti kepada wartawan, Jumat (6/2/2026).
Siti berhasil menyelesaikan Paket C pada tahun 2022 berkat fasilitasi Bripka Asep. Kini, ia telah bekerja sebagai tenaga ahli lepas di Polsek Taktakan. “Alhamdulillah program itu sangat membantu kita karena tidak ada biaya sepeser pun. Beliau juga setelah kita lulus beliau nggak cuma untuk bisa mengejar paket saja. Beliau juga berusaha membantu kita untuk mendapatkan pekerjaan,” ungkap Siti.
Ahmad Khujaji, Staf Kelurahan Drangong, turut memberikan kesaksian mengenai dedikasi Bripka Asep. Ia mengenal Bripka Asep sebagai sosok polisi yang sigap membantu warga putus sekolah. Menurut Khujaji, Bripka Asep menggandeng Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan pihak perusahaan untuk mengatasi masalah pengangguran.
“Programnya kan kayak PKBM, itu sangat membantu mengurangi pengangguran dan pendidikan masyarakat yang putus sekolah itu dimasukkan ke PKBM. Di masyarakat juga kan lumayanlah sudah terkenal sepak terjangnya beliau,” kata Khujaji.
Setelah warga mendapatkan ijazah melalui program paket, Bripka Asep tak berhenti di situ. Ia aktif membantu mereka tersambung dengan perusahaan-perusahaan di sekitar Kelurahan Drangong. Seluruh bantuan ini diberikan secara cuma-cuma.
“Itu gratis, saya juga ada tetangga sebelah yang sudah mendapatkan hasilnya dan itu gratis. Alhamdulillah sudah meningkat perekonomiannya itu,” tutur Khujaji. Ia menambahkan, beberapa warga yang telah lulus paket C kini telah mendapatkan pekerjaan, baik sebagai tenaga honorer di pemerintahan maupun di perusahaan swasta.
Membuka Lapangan Kerja, Menekan Angka Premanisme
Bripka Asep, yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas Kelurahan Drangong sejak tahun 2020, mengaku prihatin melihat tingginya angka pengangguran di wilayahnya. Ia kemudian bekerja sama dengan PKBM Al Firdaus di Kota Serang untuk mendata pemuda-pemudi yang putus sekolah.
“Jadi pemuda yang nganggur kita berdayakan untuk sekolah ngejar paket C. Setelah mendapatkan pendidikan kami bekerja sama dengan beberapa perusahaan yang ada di Kelurahan Drangong membantu mereka untuk mendapatkan pekerjaan. Ada yang jadi OB, ada yang lanjut ke kuliah juga ada. Yang paket B, lanjut ke sekolah pemerintah juga ada,” jelas Asep.
Hingga kini, lebih dari 130 warga Kelurahan Drangong telah mengikuti program Paket A, B, dan C yang difasilitasi oleh Bripka Asep. Sebagai putra daerah, ia berharap warga binaannya dapat hidup layak, mengingat kendala utama banyak perusahaan di wilayahnya adalah Sumber Daya Manusia (SDM).
Program ini gratis bagi warga berusia di bawah 21 tahun, yang mendapatkan bantuan dari Kemendikbud. Sementara itu, warga berusia di atas 21 tahun mendapatkan subsidi melalui dana CSR dari perusahaan.
Bripka Asep juga sedang dalam proses mendirikan PKBM Sultan Taruna Al Bintani. Ia telah menyiapkan gedung dan akta notaris, serta sedang mengajukan izin operasional. “Jadi untuk keprihatinan kita juga ingin menuntaskan buta aksara di Kelurahan Drangong,” ucapnya.
Sambil menunggu izin operasional PKBM tersebut, Bripka Asep menitipkan siswa untuk belajar di Sentra Kegiatan Belajar (SKB) Kota Serang. Pada tahun 2025, tercatat ada 6 warga Kelurahan Drangong yang belajar di SKB.
Atas kepeduliannya dalam bidang pendidikan untuk mengatasi pengangguran, Bripka Asep telah menerima sejumlah penghargaan, termasuk tiga piagam dari Kapolda Banten dan satu dari Danrem 064/Maulana Yusuf, yang mengakui upayanya dalam mengatasi premanisme melalui jalur pendidikan non-formal.





