Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan fenomena kemunculan sinkhole atau lubang runtuhan tanah yang kerap terjadi di kawasan batugamping. Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menyatakan masyarakat perlu waspada terhadap potensi bahaya fenomena ini.
Proses Terbentuknya Sinkhole
Adrin menerangkan bahwa sinkhole merupakan fenomena alam yang terjadi akibat runtuhnya lapisan batugamping di bawah permukaan tanah. Proses ini berlangsung dalam waktu lama dan dipicu oleh air hujan yang bersifat asam karena menyerap karbon dioksida (CO₂) dari udara dan permukaan tanah.
“Air hujan ini meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batugamping, sehingga membentuk rekahan dan rongga di bawah permukaan,” jelasnya dalam laman resmi BRIN seperti dikutip pada Jumat (16/1/2025).
Air permukaan dan air tanah yang mengalir melalui rekahan tersebut menyebabkan rongga semakin membesar dan melemahkan lapisan penyangga di atasnya. Ketika hujan lebat, lapisan penutup rongga menjadi semakin tipis hingga pada suatu titik tidak lagi mampu menahan beban di atasnya.
“Saat itulah lapisan atap runtuh secara tiba-tiba dan terbentuk lubang di permukaan tanah yang kita kenal sebagai sinkhole,” ujar Adrin.
Indonesia Rawan Fenomena Sinkhole
Menurut Adrin, fenomena sinkhole relatif sering terjadi di Indonesia, terutama di wilayah yang memiliki bentang alam karst atau kawasan batugamping. Beberapa daerah yang dikenal rawan antara lain Gunung Kidul, Pacitan, dan Maros, yang secara geologi memiliki lapisan batugamping cukup tebal di bawah permukaan tanah.
Salah satu tantangan terbesar dalam mitigasi sinkhole adalah sulitnya mendeteksi tanda-tanda awal kemunculannya. Proses pembentukan rongga berlangsung perlahan dan terjadi di bawah permukaan tanah, sehingga tidak mudah dikenali secara kasat mata.
Deteksi Dini Sinkhole
Namun, keberadaan rongga batugamping sebenarnya dapat diidentifikasi melalui survei geofisika. “Metode seperti gaya berat, georadar, dan geolistrik dapat digunakan untuk memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga di bawah tanah. Metode ini memberikan gambaran citra kondisi bawah permukaan sehingga potensi sinkhole bisa diantisipasi lebih dini,” jelas Adrin.
Fenomena sinkhole dilaporkan muncul di kawasan pertanian Pombatan, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar). Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menurunkan tim ahli untuk mengkaji kemunculan sinkhole tersebut.
Dilansir detikSumut, Sabtu (10/1), tim ahli Badan Geologi tiba di lokasi didampingi Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ardiman, serta anggota DPRD Kabupaten Limapuluh Kota M Fajar Rillah Vesky. “Kami baru datang, agenda kami fokus pengambilan data dan pemeriksaan data terhadap fenomena sinkhole di sini,” kata tim dari Badan Geologi, Kementerian ESDM, Taufik Wirabuana dalam keterangan yang diterima detikSumut, Sabtu (10/1).






