JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengklarifikasi fenomena lubang tanah raksasa yang terus meluas di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Aceh. Pihak BRIN menyatakan bahwa lubang dengan luas mencapai 27 ribu meter persegi ini merupakan hasil dari longsoran tanah, bukan fenomena sinkhole.
Material Tufa Pemicu Longsor
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menjelaskan bahwa kawasan Ketol tidak memiliki formasi batu gamping yang lazim menjadi penyebab sinkhole. Sebaliknya, wilayah tersebut tersusun atas material tufa yang merupakan hasil aktivitas Gunung Geurendong yang sudah tidak aktif.
“Tufa ini merupakan lapisan muda yang belum terpadatkan dengan baik, sehingga mudah runtuh,” ujar Adrin dalam keterangannya, Sabtu (21/2/2026). Ia menambahkan, “Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh.”
Foto udara menunjukkan kondisi longsoran tanah raksasa di Desa Pondok Balik, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, pada Jumat (20/2/2026). Longsoran ini tidak hanya membentuk lubang raksasa seluas lebih dari 30 ribu meter persegi, tetapi juga memutus akses antarkecamatan dan menenggelamkan lahan perkebunan warga.
Faktor Pendukung Luasnya Lubang
Analisis citra satelit Google Earth sejak 2010 menunjukkan bahwa kawasan Ketol telah memiliki lembah kecil yang terus melebar seiring waktu akibat erosi dan longsoran. Proses ini terus berlanjut hingga membentuk lubang besar seperti yang terlihat saat ini.
Adrin menduga beberapa faktor turut mempercepat proses longsoran ini. Gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo yang mengguncang Aceh Tengah pada 2013 diperkirakan melemahkan struktur lereng dan memicu ketidakstabilan yang lebih besar.
Selain gempa, hujan lebat juga menjadi pemicu utama. Batuan tufa yang rapuh menjadi jenuh air, menyebabkan lapisan tanah kehilangan daya ikat dan akhirnya runtuh. Saluran irigasi perkebunan yang terbuka juga berkontribusi mempercepat proses ini, karena air yang meresap meningkatkan kelembaban lapisan tufa dan membuatnya lebih rentan.
“Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil,” ungkap Adrin.
Ia juga mengemukakan hipotesis adanya aliran air tanah yang menggerus batas antara lapisan tufa yang rapuh dan batuan yang lebih padat di bawahnya. Hal ini menyebabkan bagian atas tebing kehilangan penyangga dan runtuh secara bertahap. Fenomena lubang besar ini bukanlah kejadian tiba-tiba, melainkan proses yang berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun.
Fenomena Serupa dan Mitigasi
Kondisi serupa dapat ditemukan di wilayah lain dengan karakter geologi batuan gunung api muda. Adrin mencontohkan Ngarai Sianok di Sumatera Barat yang terbentuk melalui proses geologi panjang terkait aktivitas tektonik Sesar Besar Sumatera dengan karakter batuan serupa.
BRIN belum melakukan penelitian lapangan langsung untuk memastikan penyebab detail fenomena ini, namun telah melakukan analisis berdasarkan citra satelit dan data publik. “Kami masih sebatas menganalisis berdasarkan data citra dan informasi publik. Untuk memastikan penyebab secara detail diperlukan penelitian komprehensif,” jelasnya.
Foto udara menunjukkan perkebunan warga yang amblas di jalan lintas Kecamatan Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Aceh, pada Jumat (30/1/2026). Fenomena tanah amblas yang terjadi sejak beberapa tahun lalu meluas dua bulan terakhir dan menyebabkan jalan lintas Kabupaten Aceh Tengah-Kabupaten Bener Meriah terputus.
Adrin mengusulkan agar peta kerentanan gerakan tanah diperbarui pasca-kejadian ini. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap tanda-tanda awal seperti munculnya retakan tanah atau amblesan kecil di area sekitar.
“Peta kerentanan gerakan tanah sebenarnya sudah ada, tetapi perlu diperbarui setelah kejadian ini agar lebih akurat dan operasional. Yang terpenting sekarang adalah memahami prosesnya dan segera melakukan langkah mitigasi agar risiko korban jiwa dapat dihindari,” imbuhnya.





