Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani membeberkan kondisi cuaca yang menyelimuti lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Analisis BMKG menunjukkan adanya awan kumulonimbus yang perlu diwaspadai saat pesawat mendekati Bandara Sultan Hasanuddin.
Kondisi Cuaca Normal Saat Keberangkatan
Faisal menjelaskan bahwa saat pesawat lepas landas dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, kondisi cuaca terpantau normal. Laporan METAR (Meteorologi Aerodrome Report) dari Bandara Adisutjipto mencatat angin bertiup dari timur laut dengan kecepatan 4 knot, jarak pandang 6 kilometer, serta tekanan udara dan suhu yang normal. “Tidak ada cuaca signifikan di bandara, awan sejumlah 1 sampai 2 oktas atau kita sebut berawan tapi cenderung cerah pada ketinggian sekitar 1.800 kaki,” ujar Faisal dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Prakiraan cuaca selama 30 jam ke depan di Bandara Adisutjipto juga secara umum dinilai cukup baik.
Awan Kumulonimbus di Area Pendekatan Pendaratan
Namun, laporan METAR Bandara Sultan Hasanuddin pada 17 Januari 2026 pukul 12.30 Wita menunjukkan kondisi yang berbeda di area bandara. Angin bertiup dari arah barat dengan kecepatan 13 knot dan jarak pandang 9 kilometer. Suhu udara normal 31°C dan tekanan udara 1.007 mb. “Cuaca di sekitar bandara berupa hujan sesaat di area bandara dengan awan kumulonimbus 1-2 oktas pada ketinggian 1.700 kaki serta awan 3-4 oktas yang lebih tebal pada ketinggian sekitar 1.800 kaki,” jelas Faisal.
Meskipun kondisi bandara relatif aman untuk pendaratan, Faisal menekankan adanya awan kumulonimbus di wilayah pendekatan pendaratan yang harus diwaspadai. Citra satelit Himawari IR Enhanced pada tanggal 17 Januari 2026 pukul 11.00-13.30 WITA menunjukkan suhu puncak di lokasi kejadian berkisar antara -48°C hingga 21°C, mengindikasikan keberadaan awan tinggi dan tebal (dense cloud).
“Jadi yang perlu diwaspadai adalah bandaranya relatif aman dengan jarak pandang yang cukup tetapi untuk area untuk menuju ke pendaratan ini yang perlu diwaspadai akan adanya awan CB di ketinggian 1.700-1.800 yang kami sampaikan tadi cukup tinggi dan tebal (dense cloud),” sambung dia.
Pertanyaan Komisi V DPR
Ketua Komisi V DPR RI Lasarus mempertanyakan penjelasan BMKG mengenai posisi awan kumulonimbus di sekitar Bandara Sultan Hasanuddin, mengingat lokasinya yang berada di kawasan datar dan dekat laut. “Setahu saya bandara ini kan di tepi laut pak, dan di tanah yang datar, kita masuk (arahnya) dari laut, persawahan kan Bandara Hasanuddin di situ, nah, ini banyak jadi pertanyaan kita orang awam ini, itu kan CB nya ketinggian di 1.700-1.800 kaki harusnya kan dengan posisi itu di tepi laut dan daerah rendah harusnya pesawat dengan jarak 9 kilometer itu menurut saya visual 9 kilometer itu aman,” ujar Lasarus.
Faisal kemudian menjelaskan bahwa pesawat ATR tersebut berada pada ketinggian jelajah sekitar 6.500 kaki sebelum melakukan penurunan untuk mendarat. Saat memasuki fase pendekatan, pesawat harus melewati lapisan awan kumulonimbus yang berada di ketinggian 1.700-1.800 kaki. “Begitu dia turun ke bandara, yang METAR tadi kami sebutkan itu kondisi di Bandaranya pak, jadi bandaranya visibility-nya baik ya, tidak ada gangguan signifikan sehingga bisa untuk pendaratan, tapi approach-nya nanti yang akan mempengaruhi, ya jadi jarak pandang itu berlaku pada saat akan pendaratan,” tuturnya.






