Berita

BMKG: Tanah Jenuh Air Saat Hujan Lebat Tingkatkan Risiko Longsor dan Banjir

Advertisement

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa kondisi tanah yang jenuh air menjadi salah satu faktor utama yang memicu bencana hidrometeorologi saat musim hujan. Menurutnya, kejenuhan air ini membuat lereng-lereng dan tanah lapukan menjadi lebih rentan terhadap gerakan tanah.

Kondisi Tanah Jenuh dan Pemicunya

“Kita ketahui di akhir musim hujan itu kondisi lereng-lereng, itu tanah di lereng itu, lapukan-lapukan itu mengalami kondisi yang sudah jenuh,” kata Faisal seusai rapat bersama Komisi V DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Ia menambahkan, dengan kondisi tanah yang sudah jenuh, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pun sudah cukup untuk memicu terjadinya gerakan tanah atau longsor.

“Jadi, dengan hujan yang tidak begitu banyak, mungkin hujan sedang atau lebat, itu sudah dapat memicu terjadinya gerakan tanah ya,” sambung dia.

Faisal juga memaparkan bahwa curah hujan yang cukup tinggi telah terjadi secara berturut-turut sejak November hingga Januari. Hal ini turut berdampak pada kondisi sungai-sungai yang ada.

Permasalahan Sungai dan Potensi Banjir

“Sungai-sungai yang dilalui itu juga tidak semua dalam kondisi prima ya. Jadi sudah ada sedimentasi di sana, belum sempat dilakukan normalisasi sungai. Sehingga tampang basahnya berkurang. Ketika nanti akan dilalui oleh air dalam jumlah besar, itu kadang-kadang dia akan meluap,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini turut berkontribusi pada terjadinya banjir di wilayah Jabodetabek.

Advertisement

Solusi Penanganan Banjir Terintegrasi

Faisal menyoroti pentingnya perubahan dalam penanganan banjir, merujuk pada data historis mengenai keberadaan situ (waduk kecil) di sekitar Jabodetabek.

“Bahwa di tahun 1930-an, 1940-an, kami memiliki data itu lebih dari dari 1.000 situ yang ada di sekitar Jabodetabek. Situ itu kalau di Jawa Barat situ, Jawa Tengah namanya telaga, Jawa Timur namanya embung. Nah, sekarang kurang dari 200 (situ),” ujarnya.

Ia menilai berkurangnya jumlah situ memperbesar risiko banjir. Oleh karena itu, penanganan banjir dan bencana hidrometeorologi harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Nah, ini bagaimana, tentunya harus ada penanganan yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir, hingga nanti ada giant sea wall yang akan dibangun daerah Banten sampai Gresik,” jelas dia.

Faisal menambahkan bahwa seluruh upaya penanganan ini harus terencana secara terpadu dan akan dikoordinasikan oleh Bappenas.

“Ini semua harus terencana secara terpadu dan nanti, menurut rencana Bappenas yang akan mengoordinasi, mengorkestrasi semua kementerian/lembaga untuk dan pemerintah daerah untuk dapat mengantisipasi permasalahan tersebut,” imbuh dia.

Advertisement