Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi hujan ekstrem dengan intensitas mencapai 300 hingga 400 milimeter per hari. Peningkatan risiko bencana hidrometeorologi ini sejalan dengan tren perubahan iklim global.
Klasifikasi dan Contoh Hujan Ekstrem
Plt Deputi Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan klasifikasi curah hujan harian. Hujan ringan berkisar 0-5 mm, sedang 20-50 mm, lebat 50-100 mm, dan sangat lebat 100-150 mm per hari. Intensitas di atas 150 milimeter per hari dikategorikan sebagai hujan ekstrem.
Andri mencontohkan beberapa peristiwa hujan ekstrem yang pernah terjadi:
- Banjir Jakarta 2020: 377 mm per hari
- Banjir 2021: 226 mm per hari
- Siklon Tropis Seroja: hingga 300 mm per hari
- Banjir Bekasi Maret 2025: 232 mm per hari
- Bali September 2025: 385 mm per hari
- Siklon Tropis Senyar (Sumatera Barat, Aceh, Sumatera Utara): 261 mm, 411 mm, dan 390 mm per hari.
“Bayangkan batas ekstrem itu 150 milimeter per hari,” ujar Andri saat diskusi Dialektika Demokrasi di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Prediksi dan Mitigasi Bencana
BMKG memprediksi hujan dengan intensitas sangat ekstrem di atas 150 mm per hari akan semakin sering terjadi di masa mendatang. “Kita ke depan akan berpotensi juga mengalami hujan-hujan yang sangat-sangat ekstrem di atas 150 milimeter per hari. Mungkin akan sering ada hujan ke depan di atas 200 milimeter per hari, 300 bahkan 400,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Andri menekankan pentingnya setiap daerah untuk memiliki referensi mengenai kapasitas daya tampung hujan dan mulai melakukan simulasi dampak. “Misalkan DKI dengan hujan 150 milimeter, 200 milimeter apa dampaknya? Risikonya banjirnya akan seperti apa? Ini kan bisa kita trace ke belakang dengan data historikal ya, lalu juga dikaitkan dengan tata guna lahan sekarang dengan pembangunan ekonomi,” jelasnya.
Simulasi ini penting untuk merancang langkah-langkah mitigasi dan infrastruktur yang memadai. “Itu menjadi suatu hal yang sebenarnya secara pemetaan risiko bencana bisa kita lakukan, sehingga langkah-langkah mitigasi, langkah-langkah yang dilakukan infrastruktur dan sebagainya harus dapat tadi mensimulasikan dengan intensitas curah hujan pada threshold tertentu. Simpelnya adalah di atas 150 milimeter atau 200 milimeter per hari,” imbuhnya.






