Seorang remaja putri berinisial C, anak dari seorang influencer di Jakarta Timur, diduga menjadi korban pelecehan dan perundungan (bullying) oleh teman satu sekolahnya di sebuah SMP di kawasan tersebut. Pihak keluarga kini berencana melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian.
Rencana Pelaporan ke Polisi
Influencer H, ibu dari korban, menyatakan bahwa rencana pelaporan ke polisi kemungkinan akan dilakukan pada Jumat, 23 Januari 2025. Hal ini dikarenakan pada Kamis, 22 Januari 2025, H dijadwalkan bertemu dengan keluarga terduga pelaku.
“Kalau rencana lapor (polisi) itu kemungkinan Jumat (23/1) karena Kamis besok itu aku bakal ditemui sama keluarga si terduga pelaku ini ya, hari Kamis,” kata H, dilansir Antara, Rabu (21/1/2025).
Kekecewaan Terhadap Sanksi Sekolah
H menyayangkan sanksi yang diberikan oleh pihak sekolah kepada terduga pelaku, yang dinilainya terlalu ringan. Terduga pelaku hanya mendapatkan sanksi skorsing selama dua hari.
“Apa harus mati dulu? Saya bilang gitu juga ke kepala sekolah. Apa harus mati dulu baru ini bisa diproses nih? Baru tuh orang dikeluarkan dari sekolah (drop out/DO),” ungkap H dengan nada kecewa.
Lebih lanjut, H mengingatkan bahwa banyak korban perundungan dan pelecehan yang akhirnya mengakhiri hidup karena tidak sanggup menanggung tekanan psikologis.
“Kebetulan anak saya kuat gitu kan menceritakan itu. Sebenarnya dia udah nangis berhari-hari kan tanpa saya tahu tuh. Kalau dia tiba-tiba terjun bebas? Sama kayak orang-orang yang lakukan selama ini,” tuturnya.
Korban Mengalami Trauma Mendalam
H mengungkapkan bahwa anaknya mengalami trauma berat pasca kejadian pelecehan dan perundungan tersebut. Korban dilaporkan tidak berhenti menangis dan menunjukkan ketakutan.
“Karena anak saya ternyata dari minggu-minggu lalu, dari yang pulang dari tahun baru, itu dia nangis terus. Saya tanya kenapa, tapi diam aja, dia menjawab ‘enggak, enggak kenapa-kenapa’,” kata H menceritakan.
Selain itu, H juga melihat anaknya merasa gelisah hampir setiap malam. Hingga kini, H belum mengizinkan anaknya untuk kembali bersekolah dan memprioritaskan pemulihan kondisi psikologis C terlebih dahulu.
“Anak aku sih lagi di rumah ya. Belum aku bolehin ke sekolah sampai masalah selesai dulu,” imbuhnya.
Tindakan Dinas Pendidikan
Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur (Jaktim) II, Horale, menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan pendalaman terhadap kasus ini.
“Saat ini kami masih fokus pendalaman case yang terjadi dan berkoordinasi dengan dinas terkait,” kata Horale saat dikonfirmasi secara terpisah.





