Ketua DPP PDI Perjuangan bidang Luar Negeri, Ahmad Basarah, mengungkapkan peran krusial Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, dalam memperjuangkan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai pemenang Zayed Award 2024. Saat itu, Megawati menjabat sebagai salah satu juri dan secara aktif melakukan diplomasi di hadapan komite juri internasional demi memastikan kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia itu meraih penghargaan bergengsi tersebut.
Diplomasi Megawati untuk NU dan Muhammadiyah
“Ibu Megawati dengan sangat meyakinkan memperjuangkan NU dan Muhammadiyah di hadapan dewan juri internasional lainnya. Beliau memaparkan bukti nyata bagaimana kedua organisasi ini menjadi pilar perdamaian, toleransi, dan persaudaraan kemanusiaan di Indonesia, bahkan dunia,” ujar Basarah kepada wartawan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Senin (2/2/2026).
Menurut Basarah, kemenangan NU dan Muhammadiyah bukan sekadar pengakuan simbolis, melainkan hasil nyata dari diplomasi yang dilakukan Megawati. “Atas perjuangan tersebut, NU dan Muhammadiyah menerima hadiah sebesar satu juta dolar AS yang digunakan untuk kemaslahatan umat dan program kemanusiaan. Ini adalah bukti konkret diplomasi total Ibu Mega untuk bangsa,” tambahnya.
Megawati Hadiri Zayed Award 2026
Pada tahun ini, Megawati dijadwalkan akan menghadiri ajang Zayed Award sebagai mantan anggota dewan juri. Kehadirannya sangat dihormati mengingat perannya yang signifikan dalam proses penjurian Zayed Award periode 2024.
Agenda Megawati di Abu Dhabi meliputi partisipasi sebagai pembicara di Majelis Persaudaraan Manusia, menghadiri Zayed Award 2026 Annual Ceremony, serta menjadi Guest Of Honour pada Gala Dinner dan Zayed Award Roundtable Meeting.
Tentang Zayed Award
Basarah menjelaskan bahwa Zayed Award merupakan penghargaan internasional tahunan yang didedikasikan untuk individu atau entitas yang berjuang untuk kemanusiaan. Para pemenang menerima hadiah senilai USD 1 juta.
“Penghargaan Zayed untuk Persaudaraan Manusia adalah penghargaan tahunan independen dan internasional. Penghargaan ini mengakui individu atau entitas di seluruh dunia yang memimpin dengan memberi contoh, berkolaborasi tanpa pamrih, dan bekerja tanpa lelah untuk menjembatani kesenjangan serta menciptakan hubungan manusia yang nyata,” jelas Wakil Ketua MPR RI periode 2019-2024 itu.
Penghargaan ini didedikasikan untuk menghormati Pendiri UEA, Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, dan memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan, moralitas, serta dedikasi untuk bekerja sama dengan berbagai latar belakang.
Pendirian penghargaan ini ditandai dengan pertemuan bersejarah antara Imam Besar Al-Azhar, Profesor Ahmed Al-Tayeb, dan Pemimpin Gereja Katolik, Paus Fransiskus, pada 4 Februari 2019, yang menghasilkan penandatanganan dokumen tentang Persaudaraan Manusia. Keduanya juga menjadi penerima penghargaan pertama pada Zayed Award 2019, sebagai simbol seruan perdamaian umat manusia.
Sejak 2021, nominasi untuk penghargaan ini terbuka secara global bagi siapa saja yang berupaya memperkuat hubungan antarmanusia, mengatasi perpecahan, dan membangun komunitas yang tangguh. “Inilah semangat yang dibawa Ibu Megawati, dan inilah alasan mengapa NU dan Muhammadiyah dinilai sangat layak menerimanya pada tahun 2024 lalu,” pungkas Basarah.






