Berita

Abraham Samad Ungkap Diskusi 5 Jam Prabowo dengan Tokoh: Fokus SDA dan Perang Oligarki

Advertisement

Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad membeberkan detail pertemuan Presiden terpilih Prabowo Subianto dengan sejumlah tokoh di kediamannya, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan. Diskusi yang berlangsung selama lima jam tersebut membahas berbagai program pemerintah, hasil Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, hingga pemberantasan korupsi dan penyelamatan sumber daya alam (SDA).

Pertemuan Lima Jam dengan Tokoh Kunci

Abraham Samad, yang hadir dalam kapasitasnya sebagai mantan Ketua KPK, menceritakan bahwa pertemuan yang digelar pada Jumat (30/1) sore hingga malam itu dihadiri oleh sekitar tujuh orang tamu undangan. Dari pihak pemerintah, hadir Presiden Prabowo Subianto, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Sekretaris Negara, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Mayjen Purnawirawan Zacky Makarim. Sementara dari unsur akademisi dan pengamat, hadir Profesor Dr. Siti Zuhro dari BRIN, serta beberapa tokoh lainnya yang tidak dapat diingat detailnya oleh Samad.

Dalam pertemuan tersebut, Prabowo Subianto memaparkan sejumlah program pemerintah dan hasil perjalanannya ke Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Suasana pertemuan digambarkan Samad cukup santai, bahkan diwarnai canda tawa, meskipun presentasi Prabowo berlangsung cukup lama.

“Pak Prabowo lebih banyak santai kayak lepas dan sambil bercanda kan dia presentasi cukup lama juga tentang program. Jadi dia cukup mempresentasikan beberapa hal tentang penyelamatan sumber daya alam, terus program-program pemerintah, terus hasil forum ekonomi di Davos, Swiss, itu dia presentasikan. Jadi cukup lam, jadi memang waktu 5 jam terasa lama kalau kita lihat. Tapi sebenarnya itu singkat bagi kita karena kita nggak sempat makan malam,” ujar Samad kepada wartawan, Minggu (1/2/2026).

Strategi Pemberantasan Korupsi dan Indeks Persepsi Korupsi

Samad mengungkapkan, dirinya diminta pandangannya mengenai cara meningkatkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia. Ia menekankan pentingnya membuat roadmap pemberantasan korupsi yang lebih efektif dengan menyentuh akar permasalahan.

“Pertama saya bilang pemberantasan korupsi selama ini tidak menyentuh akar permasalahannya, jadi dia harus menyentuh akar permasalahannya agar supaya efektif. Yang kedua saya bilang berbicara IPK, indeks persepsi korupsi, maka ada 4 hal yang harus diperhatikan kalau kita merujuk United Nations Convention Against Corruption, UNCAC,” ucap Samad.

Empat hal krusial menurut UNCAC yang diutarakan Samad meliputi foreign bribery (penyuapan pejabat negeri asing), trading influence (perdagangan pengaruh), elite enrichment (peningkatan harta kekayaan penyelenggara negara), dan commercial bribery (suap sektor swasta).

Menjawab pertanyaan Prabowo mengenai penurunan kinerja KPK, Samad menyoroti revisi Undang-Undang KPK pada tahun 2019 sebagai salah satu faktor utama. Revisi tersebut dinilai memangkas kewenangan KPK dan menempatkannya di bawah rumpun eksekutif, padahal lembaga antikorupsi seharusnya bersifat independen sesuai dengan UNCAC.

“Karena menurut saya kalau kita merujuk UNCAC, UNCAC itu mengatur bahwa lembaga-lembaga antikorupsi di dunia haruslah sifatnya independen, bukan dibawa rumpun eksekutif. Oleh karena itu menurut saya karena kita sudah menandatangani UNCAC dan reatifikasi harusnya kita ikut. Jadi ini kita menyalahkan saya bilang, harusnya independen seperti dulu,” sebutnya.

Advertisement

Samad juga menyoroti masalah rekrutmen komisioner KPK di masa lalu yang dinilainya tidak mengindahkan masukan masyarakat, bahkan mengabaikan peringatan mengenai integritas calon pimpinan. Ia juga mempermasalahkan tes wawasan kebangsaan (TWK) yang berujung pada pemecatan 57 pegawai KPK, yang menurutnya merupakan rekayasa untuk menyingkirkan individu berintegritas.

Reformasi Kepolisian dan Penyelamatan Sumber Daya Alam

Selain isu korupsi, para tamu undangan juga diminta memberikan tanggapan mengenai reformasi kepolisian. Seluruh tokoh yang hadir sepakat bahwa reformasi kepolisian merupakan sebuah keharusan.

Pembahasan juga merambah pada upaya penyelamatan sumber daya alam (SDA). Samad menyampaikan bahwa upaya ini pernah dilakukannya saat menjabat pimpinan KPK, meskipun saat itu belum ada satgas khusus. Ia menekankan pentingnya fokus pada penyelamatan SDA untuk meningkatkan pendapatan negara.

“Jadi sebenarnya ini sudah pernah ada. Oleh karena itu saya bilang fokus utama pemberantasan korupsi juga bisa diarahkan kepada penyelamatan sumber daya alam, saya bilang. Kalau kita ingin revenue kita bagus, kalau kita ingin pendapatan negara kita bagus, selamatkan sumber daya alam kita,” kata Samad.

Indonesia dalam ‘Board of Peace’ dan Perang Melawan Oligarki

Prabowo Subianto juga menjelaskan posisi Indonesia dalam ‘Board of Peace’ yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menurut Prabowo, keikutsertaan Indonesia dalam forum tersebut tidak bersifat mutlak dan dapat ditarik kembali jika menimbulkan mudarat bagi warga Palestina dan Gaza.

Di akhir pertemuan, Prabowo menegaskan komitmennya untuk memerangi oligarki yang merusak dan merampok sumber daya alam negara. Ia berjanji akan mengejar para oligarki tersebut tanpa negosiasi, siapapun mereka.

“Dia menyampaikan bahwa saya akan mengejar oligarki yang merusak sumber daya alam, yang merampok negara sampai kapanpun juga, dia bilang begitu. Nah itu komitmen dia bahwa dia akan memburu oligarki, siapapun oligarki itu dia bilang. Mau 9 naga, dia bilang, mau 9 naga, siapapun dia akan mengejar, dan dia tidak akan bernegosiasi. itu janji dia ke kita, itu janji kan,” pungkas Samad menirukan ucapan Prabowo.

Advertisement