Berita

24 Desa di Aceh Tengah Masih Terisolasi Akibat Banjir Bandang dan Longsor November 2025

Advertisement

Sebanyak 24 desa di Kabupaten Aceh Tengah dilaporkan masih terisolasi pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025. Akses jalan dan jembatan yang rusak parah menjadi penyebab utama terputusnya konektivitas ke sejumlah wilayah tersebut.

Rincian Desa Terisolasi

Juru bicara Posko Penanganan Bencana Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, merinci bahwa desa-desa yang masih terisolasi tersebar di lima kecamatan, yaitu Bintang, Ketol, Silih Nara, Rusip Antara, dan Linge.

Di Kecamatan Bintang, satu desa, Serule, masih terisolasi dengan 582 jiwa terdampak. Akses menuju desa ini tertutup timbunan longsor.

Kecamatan Ketol mencatat jumlah desa terisolasi terbanyak, meliputi Bergang, Karang Ampar, Pantan Reduk, Serempah, Bah, Bintang Pepara, Buge Ara, Kekuyang, dan Burlah. Total 4.951 jiwa terdampak di kecamatan ini akibat jembatan putus dan jalan tertutup longsor. Beberapa desa seperti Serempah dan Bah sudah bisa dilalui kendaraan roda dua, namun roda empat belum bisa melintas.

Selanjutnya, di Kecamatan Silih Nara, dua desa, Terang Engon dan Bius Utama Dusun Gantung Langit, masih terisolasi. Sebanyak 254 jiwa terdampak karena putusnya Jembatan Mulie dan Jembatan Gantung Langit.

Advertisement

Kecamatan Rusip Antara memiliki lima desa terisolasi: Pilar Jaya, Pilar Weh Kiri, Tirmiara, Mekar Maju, dan Arul Pertik. Total 2.765 jiwa terdampak. Meskipun akses roda dua mulai terbuka di beberapa desa, kendaraan roda empat belum dapat melintas akibat timbunan longsor dan jembatan yang putus.

Terakhir, Kecamatan Linge memiliki tujuh desa yang masih terisolasi: Linge, Kute Reje, Delung Sekinel, Jamat, Reje Payung, Penarun, dan Umang. Sebanyak 2.362 jiwa terdampak akibat putusnya Jembatan Kala Ili dan longsor di beberapa titik jalan. Akses roda dua hanya sampai Desa Penarun dan Umang.

Upaya Penanganan

Murthalamuddin menyatakan bahwa pemerintah terus berupaya mempercepat penanganan darurat dan pemulihan akses. Langkah-langkah seperti pembukaan jalur darat sementara dan perbaikan infrastruktur yang rusak terus dilakukan secara bertahap. “Upaya penanganan terus dilakukan secara bertahap agar akses masyarakat kembali normal, terutama di desa-desa yang hingga kini masih terisolir,” ujar Murthalamuddin.

Advertisement